Dokter Gunakan Induksi untuk Percepat Bukaan Persalinan Ibu Hamil

Share

Proses melahirkan tidak selalu berjalan secara alami pada setiap ibu hamil. Dalam beberapa situasi, tenaga kesehatan perlu mengambil tindakan medis berupa induksi persalinan untuk membantu kelancaran proses bersalin agar bayi dapat lahir dengan aman.

Prosedur ini diambil berdasarkan pertimbangan medis demi menjaga kesehatan ibu dan janin serta meminimalkan risiko komplikasi. Seperti dilansir dari HaiBunda, tubuh adakalanya membutuhkan bantuan luar ketika persalinan harus dilakukan sebelum proses alami dimulai.

Induksi persalinan merupakan metode medis yang memanfaatkan obat-obatan atau teknik lain untuk merangsang timbulnya kontraksi rahim. Langkah ini umumnya dipilih saat ibu hamil belum menunjukkan tanda-tanda bersalin secara alami meskipun waktu melahirkan telah tiba.

Tindakan ini menjadi opsi krusial ketika bayi harus segera dilahirkan demi keselamatan bersama. Berbagai metode induksi dapat diterapkan, mulai dari pemberian obat pengaktif kontraksi hingga prosedur yang membantu pembukaan leher rahim.

Alasan dan Kondisi Medis yang Memerlukan Induksi

Leher rahim atau serviks normalnya akan melunak, menipis, dan membuka beberapa minggu menjelang persalinan. Namun, ada kalanya serviks belum siap atau belum matang ketika waktu melahirkan sudah mendekati.

Tim medis biasanya menggunakan skor Bishop dengan rentang angka 0-13 untuk mengukur tingkat kesiapan serviks. Jika skor berada di bawah angka 6, serviks dinilai belum siap sehingga memerlukan tindakan induksi untuk memicu kontraksi rahim.

Berdasarkan data dari American College of Obstetricians & Gynecologists, ada sejumlah kondisi kesehatan yang mendasari keputusan dilakukannya induksi:

  • Usia kehamilan telah melewati 41 hingga 42 minggu
  • Ibu mengalami masalah kesehatan kronis seperti gangguan ginjal, jantung, atau paru-paru
  • Munculnya persoalan pada plasenta
  • Pertumbuhan janin di dalam rahim mengalami hambatan
  • Volume air ketuban berkurang atau oligohidramnion
  • Terjadi infeksi pada rahim
  • Ibu memiliki riwayat diabetes atau mengalami diabetes gestasional
  • Ibu mengidap hipertensi kronis, preeklampsia, atau eklampsia
  • Ketuban pecah sebelum kontraksi dimulai atau PROM

Induksi juga dapat dilakukan pada kasus kelahiran prematur jika mempertahankan kehamilan justru mendatangkan risiko yang lebih besar bagi ibu dan janin.

Risiko Prosedur Induksi Persalinan

Setiap tindakan medis memiliki efek samping, termasuk induksi persalinan. Penggunaan hormon oksitosin untuk merangsang kontraksi rahim berisiko memicu kontraksi yang terlalu kuat atau terlalu sering, yang dapat memengaruhi detak jantung janin.

Risiko lain yang berpotensi muncul meliputi infeksi pada rahim, infeksi cairan ketuban, infeksi plasenta, infeksi pada bayi, hingga robeknya dinding rahim. Kemungkinan ini dapat meningkat bergantung pada kondisi kesehatan ibu sebelum dan selama kehamilan.

Guna memastikan keamanan, dokter akan memantau kekuatan kontraksi rahim dan detak jantung janin secara ketat sepanjang proses induksi berlangsung.

Penanganan Jika Induksi Tidak Berhasil

Dikutip dari Mayo Clinic, induksi persalinan tidak selalu membuahkan hasil yang diharapkan. Apabila ketuban belum pecah serta kondisi ibu dan bayi dinyatakan aman, dokter dapat menjadwalkan ulang prosedur induksi di waktu lain.

Namun, jika situasi tidak memungkinkan untuk melanjutkan rencana persalinan normal, tindakan akan dialihkan ke operasi caesar. Operasi caesar memiliki risiko tersendiri seperti perdarahan hebat, infeksi, komplikasi anestesi, masa pemulihan yang lebih lama, serta potensi gangguan plasenta pada kehamilan berikutnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
hendra-kurniawan-saputra
Author