Saham Produsen Chip Merosot Tajam Tarik Indeks Kospi Korea Selatan
Pasar saham Korea Selatan mengalami guncangan hebat akibat penurunan tajam pada saham-saham produsen chip utama. Penurunan ini dipicu oleh meningkatnya pergeseran investasi dari sektor yang sebelumnya diuntungkan oleh tren kecerdasan buatan (AI).
Dilansir dari Bloombergtechnoz, Indeks Kospi melorot hingga 8,8 persen pada awal perdagangan Senin. Kejatuhan indeks acuan ini mencatatkan penurunan sekitar 15 persen dari puncak terbarunya, yang berpotensi membawa pasar masuk ke fase koreksi teknis.
Saham dua raksasa teknologi, Samsung Electronics Co. dan SK Hynix Inc., menjadi motor utama pelemahan ini. Harga saham Samsung Electronics Co. anjlok hingga 11 persen, sedangkan SK Hynix Inc. merosot sebesar 10 persen.
Penurunan drastis yang terjadi secara tiba-tiba ini mengaktifkan pemicu penghentian perdagangan otomatis atau circuit breaker. Mekanisme tersebut memaksa aktivitas perdagangan di bursa dihentikan sementara waktu.
Merespons situasi tersebut, Bursa Korea Selatan menggelar rapat darurat pada hari Senin. Pertemuan ini bertujuan untuk menilai volatilitas yang meningkat serta membahas langkah-langkah strategis guna menjaga stabilitas operasi pasar.
Kekhawatiran mengenai kejenuhan atau overheating dalam reli AI menjadi faktor utama. Kondisi tersebut berpadu dengan ketidakpastian makroekonomi yang terus mengikis momentum pertumbuhan saham-saham teknologi global dalam beberapa sesi terakhir.
Korea Selatan mencatatkan kerugian yang sangat besar setelah sebelumnya sempat memimpin penguatan global. Padahal, Indeks Kospi tercatat masih mengalami kenaikan sebesar 77 persen sejak awal tahun.
Tekanan semakin berat setelah investor asing memilih untuk menarik dana mereka dari pasar saham. Investor asing melakukan aksi jual bersih saham Kospi dengan nilai mencapai lebih dari US$10 miliar hanya dalam sepekan terakhir.
Situasi volatilitas ini juga berdampak langsung pada nilai tukar mata uang lokal. Won tertekan hingga menyentuh level terlemahnya terhadap dolar AS sejak periode Maret 2009.
Analis Hana Securities, Kim Doo-un, menjelaskan bahwa pasar Korea Selatan saat ini menghadapi risiko nyata dari fenomena ekonomi ekstrem.
"Black Monday" di mana "ketidakstabilan mata uang, penyesuaian suku bunga, dan aksi ambil untung di sektor semikonduktor terjadi secara bersamaan," kata Kim Doo-un.
Sebelumnya pada hari Minggu, pemerintah setempat telah mengumumkan berbagai kebijakan terarah untuk memperkuat posisi won. Otoritas berjanji akan mengambil tindakan tegas terhadap aktivitas perdagangan spekulatif dan tindakan lain yang mengganggu pasar.
Langkah-langkah penyelamatan ini diambil di tengah upaya para pembuat kebijakan di seluruh Asia dalam mendukung mata uang mereka. Negara-negara kawasan sedang menghadapi lonjakan biaya energi dan penguatan dolar AS yang dipicu oleh konflik bersenjata di Iran.