Gubernur BI Proyeksikan Rupiah Kembali Stabil Mulai Juni 2026
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menyatakan optimisme bahwa nilai tukar rupiah akan kembali stabil pada Juni serta melanjutkan tren penguatan pada Juli dan Agustus 2026. Proyeksi tersebut didorong oleh langkah penguatan otoritas moneter melalui instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia untuk menarik aliran modal asing ke pasar domestik.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan mata uang Garuda saat ini dinilai masih berada di bawah nilai fundamentalnya akibat tekanan eksternal dan faktor musiman. Pada pembukaan perdagangan Kamis (21/5/2026), rupiah sempat melemah 0,2 persen ke level Rp17.640 per dolar AS setelah sehari sebelumnya BI menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin.
Pelemahan mata uang domestik kemudian berlanjut sebesar 0,22 persen ke posisi Rp17.643 per dolar AS, yang menggenapi akumulasi penurunan sekitar 6 persen sejak awal tahun. Perry Warjiyo menegaskan bahwa situasi ini lebih dipengaruhi oleh sentimen luar negeri serta tingginya permintaan valuta asing di dalam negeri, bukan karena kerentanan ekonomi nasional.
"Kami meyakini dengan penguatan BI Rate ini akan memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Rupiah akan stabil di bulan Juni dan cenderung menguat pada Juli dan Agustus,” ujar Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Pihak otoritas moneter juga memastikan bahwa pasokan valuta asing tetap memadai untuk mengantisipasi lonjakan kebutuhan pasar pada bulan depan. Menurut pemantauan berkala Bank Indonesia, pola fluktuasi nilai tukar ini merupakan siklus tahunan yang akan segera membaik pada paruh kedua tahun ini.
"Kami meyakini inflow akan tetap besar ke dalam negeri dan mencukupi kebutuhan permintaan valas di bulan Juni yang masih cukup besar,” kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.
Bank Indonesia terus mengandalkan aliran modal masuk sebagai penopang utama cadangan devisa dan stabilitas kurs. Berdasarkan rekam jejak performa mata uang pada periode-periode sebelumnya, fase tekanan terhadap rupiah diprediksi segera mereda seiring pergantian siklus triwulan.
"Kalau kita melihat histori, rupiah memang mendapat tekanan pada periode ini, tapi akan menguat di bulan Juli dan Agustus. Untuk itu kami meyakini rupiah akan stabil dan cenderung menguat ke depan," kata Perry Warjiyo, Gubernur Bank Indonesia.