Badan Antariksa Eropa Menyiarkan Langsung Gerhana Matahari Total 2026

Share

Badan Antariksa Eropa (ESA) mengumumkan rencana penyiaran langsung fenomena gerhana matahari total pada Rabu, 12 Agustus 2026 dari Observatorium Astrofisika Javalambre di Spanyol. Langkah ini diambil guna memfasilitasi para pencinta astronomi di wilayah yang tidak dilewati jalur kegelapan agar tetap bisa menyaksikan fenomena langka tersebut.

Peristiwa tersebut menjadi gerhana matahari total pertama dalam lebih dari dua tahun terakhir yang melintasi kawasan Greenland, Islandia, Spanyol utara, dan Portugal timur laut menurut laporan NASA. Berdasarkan data ESA, Eropa terakhir kali mengamati gerhana matahari total pada tahun 2006, sementara bagi warga Spanyol daratan ini menjadi yang pertama sejak 1905.

Dampak pergerakan Bulan yang menutupi Matahari sepenuhnya ini akan menyebabkan siang hari berubah gelap gulita seperti malam hari selama beberapa puluh detik hingga beberapa menit. Kepala Petugas Ilmiah ESA, Carole Mundell mengutarakan sudut pandangnya mengenai daya tarik luar biasa dari fenomena alam ini bagi penduduk bumi.

"Itu adalah momen yang menghubungkan kita dengan alam semesta dan mengingatkan kita bahwa keinginan untuk menjelajahi dan memahami dunia di sekitar kita selalu menjadi salah satu kekuatan pendorong terbesar umat manusia," kata Carole Mundell, Kepala Petugas Ilmiah ESA.

Melalui data EarthSky, jalur gerhana matahari total kali ini membentang sepanjang 8.300 kilometer yang bermula dari Samudra Arktik dekat Kutub Utara. Durasi totalitas gerhana bervariasi di setiap wilayah, di mana penduduk Greenland dapat menikmati kegelapan lebih dari dua menit, sedangkan di Spanyol utara durasinya sekitar 20 detik.

Para ahli mengingatkan bahwa faktor cuaca seperti awan tebal atau hujan berpotensi menghalangi pandangan meskipun pengamat berada langsung di jalur totalitas. Selain itu, masyarakat dilarang keras menatap matahari dengan mata telanjang, kamera, teropong, atau teleskop tanpa filter khusus karena radiasi cahaya terkonsentrasi dapat merusak mata dalam waktu singkat.

Bagi kalangan ilmuwan, momentum ini dimanfaatkan untuk menerbangkan balon ke atmosfer demi memotret bayangan Bulan serta meneliti lapisan korona Matahari. Proyek ilmiah ini sekaligus ditujukan untuk merekonstruksi eksperimen tahun 1919 yang membuktikan teori relativitas umum Albert Einstein mengenai pembengkokan cahaya oleh gravitasi.

Di sisi lain, fenomena gerhana matahari juga menarik perhatian masyarakat global karena berdampak pada pariwisata. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dilansir dari bernas.id, pariwisata nasional diproyeksikan dapat meningkat sebesar 10% pada tahun 2026 seiring dengan antusiasme warga melihat gerhana matahari hibrida di Jakarta.

Verifikasi dari sumber resmi seperti BMKG menunjukkan bahwa gerhana matahari mempengaruhi kegiatan ekonomi dan pariwisata melalui peningkatan kegiatan ekonomi lokal, infrastruktur, pelayanan, serta daya saing. Setelah agenda tahun ini selesai, NASA memproyeksikan gerhana matahari total berikutnya akan menyambangi wilayah Spanyol selatan, Afrika Utara, Arab Saudi, dan Yaman pada 2 Agustus 2027.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
tiara-puspita-sari
Author