Alexander Zverev Hadapi Flavio Cobolli di Final French Open 2026

Share

Petenis Jerman Alexander Zverev bertanding melawan wakil Italia Flavio Cobolli dalam babak final turnamen Grand Slam French Open 2026 di Lapangan Philippe-Chatrier, Paris, pada Minggu, 7 Juni 2026 mulai pukul 15.00 waktu setempat.

Pertandingan ini menjadi kesempatan emas bagi kedua petenis untuk meraih gelar juara Grand Slam pertama mereka setelah sejumlah pemain unggulan gugur di babak awal.

Zverev yang merupakan unggulan kedua melaju ke final setelah mengalahkan petenis Republik Ceko Jakub Mensik di semifinal, sementara Cobolli lolos setelah kompatriotnya Matteo Arnaldi mundur karena virus.

Zverev mengawali set pertama dengan dominan melalui keunggulan 6-1 dalam waktu 35 menit setelah Cobolli yang menduduki peringkat 14 dunia melakukan 16 unforced errors.

Mantan petenis profesional Boris Becker mengingatkan adanya rekor unik yang membayangi Zverev, di mana enam kekalahan terakhir petenis nomor tiga dunia itu didapatkan saat menghadapi pemain asal Italia.

"Can I give you a little history? You know, it's been 50 years since an Italian won here," kata Boris Becker, analis tenis di TNT Sports.

Becker menambahkan bahwa Jannik Sinner menjadi rintangan terbesar Zverev dalam setahun terakhir, ditambah kekalahan dari Luciano Darderi di Roma dan dari Cobolli sendiri di Munich.

"And Sascha, his last six losses have been against Italians. Yes. I didn't want to share it, but I had to." ujar Becker.

Zverev tercatat telah kalah dalam tiga final Grand Slam sebelumnya, termasuk di Roland Garros dua tahun lalu dan US Open 2020 saat ia membuang keunggulan dua set dari Dominic Thiem.

"I'm just glad it's a lot of Jannik Sinner. I was going to say glad the guy is not called Sinner tomorrow, but he's still Italian," tambah Becker.

Menanggapi tekanan menjelang laga final, Zverev menyatakan dirinya sama sekali tidak memedulikan status unggulan ataupun ekspektasi publik yang dibebankan kepada dirinya.

"He's a great player, a great guy," kata Alexander Zverev mengenai sosok Cobolli, dilansir dari bbc.com.

Hubungan pertemanan Zverev dan Cobolli mulai terbangun sejak mereka menjadi rekan satu tim di kompetisi Laver Cup 2024.

"I like him. I like his dad a lot. They are very good people. It's his first final, so I'm happy for him that he reached it." tutur Zverev.

Zverev menegaskan bahwa mengesampingkan pertemanan pribadi di dalam lapangan bukanlah hal yang sulit ketika trofi tertinggi dunia tenis sedang dipertaruhkan.

"When you play a Grand Slam final, it's not that difficult [to put friendship aside] because it means you reached the best stage in tennis," ucap Zverev.

Meskipun tetap menjaga hubungan baik, kedua pemain dipastikan akan saling mengalahkan demi mengamankan gelar juara di Paris.

"You still try to beat each other and you still try to win, but that's OK." tegas Zverev.

Zverev mengklaim pengalamannya di masa lalu sudah dilupakan dan kini ia hanya fokus mengendalikan permainan di atas lapangan tanah liat.

"I focus on the next match and on the opponent as they cross the net, and that's the only thing that I can control," pungkas Zverev.

Di sisi lain, Cobolli yang merupakan mantan pemain akademi sepak bola AS Roma mengaku tidak pernah memberikan tekanan berlebih pada dirinya sendiri selama turnamen.

"I will be ready but I also know that I will be fresh. Maybe [not playing] helped, maybe not. I will tell you after the final," ujar Flavio Cobolli terkait keuntungan waktu istirahat yang dimilikinya sejak hari Rabu.

Cobolli juga berseloroh bahwa keberhasilannya menembus final didorong oleh sifat takhayulnya, seperti makan di restoran yang sama dan mandi di bilik yang sering digunakan Rafael Nadal.

"It depends how you live this kind of thing. I never put pressure on myself," kata Cobolli.

Cobolli ingin menikmati setiap momen pertandingan final pertamanya ini dengan senyuman dan gairah yang besar.

"I like to live the moment like if I was a kid, just with big passion and a big smile." sambung Cobolli.

Cobolli mengakui bahwa dirinya menjadi sedikit lebih aneh dan percaya takhayul sepanjang pekan ini dibandingkan dengan turnamen-turnamen sebelumnya.

"I'm a little bit [superstitious] but not crazy – this week I'm a little bit more crazy than the others," tambah Cobolli.

Sementara itu, Jakub Mensik yang langkahnya dihentikan Zverev di semifinal mengaku tetap bangga dengan pencapaiannya di Paris yang mendongkrak peringkatnya ke posisi 17 dunia.

"A beautiful adventure ends in the semi-finals of Roland-Garros," tulis Jakub Mensik di media sosialnya, dilansir dari en.tennistemple.com.

Mensik menyampaikan apresiasi atas dukungan seluruh penggemar dan mengucapkan selamat berjuang kepada Zverev di partai puncak.

"Of course, I would have liked to go even further, but I am proud of what we have accomplished these past two weeks. Every match, every challenge, every moment on the court has been incredible. This experience only strengthens my desire to work even harder and to return soon to relive these emotions. Thank you to everyone who supported me here in Paris and around the world. Your support means a lot to me. Congratulations to Alexander Zverev for a great match, and good luck for the final. The work continues. See you soon," tutup Mensik.

Pemenang laga ini akan mencetak sejarah baru, di mana Zverev bisa menjadi pria Jerman pertama yang juara Roland Garros di Open Era, atau Cobolli menjadi pria Italia pertama yang juara dalam 50 tahun terakhir sejak Adriano Panatta pada 1976.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author