Warna Kuning Telur Bukan Penentu Utama Kandungan Omega-3
Warna kuning telur kerap menjadi patokan bagi konsumen saat berbelanja. Banyak orang percaya bahwa warna yang cenderung oranye pekat menandakan telur memiliki nutrisi lebih tinggi atau pasti termasuk jenis omega-3.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat, seperti dilansir dari Detik Health. Berbagai riset membuktikan bahwa ketajaman warna kuning telur dan kadar omega-3 di dalamnya diatur oleh faktor yang berbeda.
Pigmen karotenoid dalam pakan ayam menjadi penentu utama warna kuning telur. Sementara itu, kadar omega-3 dalam telur sangat bergantung pada asupan lemak yang dicampurkan ke dalam ransum unggas.
Variasi warna kuning telur berkisar dari kuning pucat hingga oranye gelap. Jurnal Animal Nutrition menyebutkan bahwa warna ini terbentuk dari karotenoid, yakni pigmen alami kuning, oranye, dan merah dari bahan pakan.
Karotenoid hanya mengisi kurang dari 1% lipid pada kuning telur. Meskipun demikian, unsur ini menjadi bagian paling dominan dalam membentuk estetika warna telur.
Jenis karotenoid yang paling memengaruhi warna ini adalah xantofil, seperti lutein dan zeaxanthin. Unsur pigmen ini umumnya diperoleh dari komoditas jagung, marigold, paprika merah, hingga alfalfa.
Riset dalam Czech Journal of Food Sciences membenarkan bahwa profil karotenoid pakan mengontrol warna kuning telur. Kendati demikian, ketajaman warna rupanya tidak selalu sejalan dengan total volume karotenoid di dalamnya.
Buktinya, telur dengan warna gelap pada skala Roche nilai 13 tercatat memiliki kandungan karotenoid sekitar 28,3 mg per kilogram. Sebaliknya, telur ayam rumahan dengan skor warna 10 justru menyimpan karotenoid jauh lebih tinggi, yaitu 72,5 mg/kg.
Sementara itu, telur organik yang warnanya lebih pucat mengandung karotenoid sebesar 20,2 mg/kg. Data ini memperlihatkan bahwa kepekatan visual telur tidak bisa menjadi tolak ukur mutlak untuk gizi tertentu.
Korelasi Telur Omega-3 dan Kepekatan Warna
Telur omega-3 diperoleh dari ayam petelur yang mengonsumsi pakan kaya asam lemak murni, seperti minyak ikan atau biji rami (flaxseed). Pengayaan nutrisi ini memicu perombakan komposisi lemak, bukan karena manipulasi pigmen pakan.
Riset pada jurnal Foods tahun 2021 menguji pemberian 6% linseed meal (tepung biji rami) pada ayam petelur. Hasil eksperimen menunjukkan peningkatan omega-3 berjalan terpisah dari perubahan warna kuning telur.
Asam lemak omega-3 (n-3 PUFA) pada pakan melonjak dari 2,67% menjadi kisaran 7,84-10,63%. Namun, kuning telur hanya akan menggelap jika pakan ayam dikombinasikan dengan sumber karotenoid seperti wortel atau ampas seabuckthorn.
Kondisi ini menegaskan bahwa penguatan warna oranye dalam riset tersebut dipicu oleh asupan karotenoid, bukan oleh zat omega-3. Tepung biji rami murni tanpa tambahan pigmen hanya membuat kuning telur sedikit lebih kuning dan kemerahan.
Kolaborasi pakan biji rami dengan campuran tomat serta paprika merah baru bisa mendongkrak skor warna telur hingga mencapai nilai 13 skala Roche. Konsumen disarankan memeriksa label informasi nilai gizi pada kemasan produk untuk memastikan kadar omega-3 yang akurat.