Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar AS Menurunkan Omzet Pedagang Pasar Pondok Labu

Share

Sejumlah pedagang di Pasar Pondok Labu, Jakarta Selatan, mengalami penurunan omzet drastis akibat lonjakan harga barang yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat (05/06/2026).

Kondisi pasar tradisional tersebut tampak sepi pengunjung dengan daya beli masyarakat yang menurun signifikan seiring melambungnya harga kebutuhan pokok seperti minyak goreng, plastik, hingga cabai, dilansir dari Bloomberg Technoz.

Salah satu pedagang sembako, Albani Nasran, menjelaskan kondisi penurunan daya beli konsumen yang sangat terasa di tokonya semenjak harga barang-barang melonjak.

"Lumayan, keliatan banget turunnya [daya beli masyarakat]. Seperti sekarang, pasar pagi itu biasanya kita udah lumayan ya, sekarang itu kita umpamanya bisa main bola di pasar," ungkap Albani Nasran, adik pemilik toko sembako Cito Roso.

Pria berusia 30 tahun itu menambahkan bahwa harga kemasan plastik melonjak hingga 40 persen, di mana harga jualnya naik dari Rp10.000 menjadi Rp16.000 hingga Rp18.000 per pak.

"Dampaknya lumayan besar ya, dolar naik tapi barang-barang di sini pada naik semua kan. Harga jual semua naik, kita dagang pasti ada perubahan, orang dagang pasti merasakan kesulitan," ujar Albani.

Kenaikan harga yang drastis juga terjadi pada komoditas minyak goreng curah serta Minyakita yang saat ini menyentuh Rp21.000 per liter dari harga sebelumnya Rp16.700 per liter.

"[Harga] minyak drastis, minyak naik banget. Semua [naik], curah, mau minyak rakyat aja yang Minyakita, itu naiknya itu luar biasa," kata Albani.

Selain minyak, harga cabai merah keriting melonjak ke Rp50.000-Rp55.000 per kilogram dan cabai rawit mencapai Rp80.000-Rp90.000 per kilogram, yang berimbas pada penurunan omzet kotor harian toko Albani hingga sekitar 30 persen.

"Sebelum Idul Adha, semenjak plastik naik, semuanya pasar sepi lah. Pas Idul Adha, kebetulan orang kebutuhan masak kan, di situ lah kita memanfaatkan itu, momen. Habis Idul Adha ya gini lagi," tutur Albani.

Pendapatan kotor harian toko sembako tersebut kini berada di bawah Rp10 juta, padahal sebelum konflik Timur Tengah berkecamuk, omzetnya mampu mencapai belasan juta rupiah per hari.

"Kalau sekarang 10-an [juta rupiah] kurang, enggak nyampe 10 [juta rupiah per hari omzet kotornya]," kata Albani.

Kondisi ekonomi ini mendorong harapan para pedagang agar situasi geopolitik global mereda dan pemerintah segera mengambil tindakan nyata untuk menstabilkan harga barang di pasar domestik.

"Kalau harapannya sih ya semoga aja pemerintah itu yang bener, peperangan berakhir lah," ucap Albani.

Keluhan serupa disampaikan oleh Imam, pedagang daging sapi di pasar yang sama, yang mengeluhkan tingginya harga modal daging akibat dampak pelemahan mata uang rupiah.

Imam menjual daging sapi seharga Rp150.000 per kilogram dan iga sapi Rp100.000 per kilogram, di mana harga tersebut naik dari harga sebelum Iduladha yang sebesar Rp140.000 per kilogram.

"Makanya bilangin sama Prabowo, itu solusinya gimana, kok bisa parah banget, dolar naik. Saya rasa MBG mah stop dulu dah, itu ngaruh, ngaruh semua," kata Imam.

Menurut Imam, alokasi dana untuk program makan bergizi gratis yang dicanangkan pemerintah bersumber dari pajak dan turut memberikan dampak negatif berantai ke pasar tradisional.

"Saran saya mah MBG stop dulu dah, itu ngaruh, dari mana MBG dananya kalau bukan dari pajak? Imbasnya kita. Larinya ke MBG, ya kita kena imbasnya, pasar," ucap Imam.

Dampak langsung dari program tersebut juga dirasakan Imam lewat penurunan omzet harian dari minimal Rp6 juta menjadi hanya Rp2 juta per hari.

"Biasanya sebelum MBG ada, ya minimal mah 6 juta [rupiah per hari]. Kan dibilang, gegara MBG ngaruh," jelas Imam.

Imam menuturkan volume penjualan daging sapinya merosot tajam dari biasanya 50 hingga 60 kilogram menjadi hanya 30 kilogram per hari karena lesunya minat beli masyarakat.

"Jarang [yang beli daging sapi], itu yang mampu aja, yang butuh-butuh banget, kalau enggak butuh, enggak beli," ujar Imam.

Di sisi lain, pedagang plastik bernama Amar Syadad menyebutkan rantai pasok bahan baku plastik sempat terganggu hingga harganya naik mendekati 60 persen akibat konflik di Timur Tengah sebelum akhirnya distabilkan lewat impor dari Cina.

"Kalo hari libur itu justru lebih [menurun], tergantung, sepi gitu, Karena kan enggak ada daya aktivitas juga kan dari masyarakat itu," kata Amar Syadad.

Meskipun omzetnya kini fluktuatif di sekitar Rp5 juta per hari, Amar menilai komoditas plastik masih terus dicari oleh masyarakat Indonesia untuk kebutuhan sehari-hari.

"Cuman untuk daya beli, menurun sih sedikit tapi enggak terlalu impact (berdampak) banget lah karena masih, orang Indo (Indonesia) itu kan masih suka pake plastik gitu. Kalau harapannya sih, [pemerintah] lebih ke menstabilkan kesejahteraan aja lah ya supaya tidak terlalu berantakan, kacau," tandas Amar.

Pada penutupan perdagangan Jumat, kurs rupiah berada di posisi Rp18.020 per dolar AS atau menguat tipis 0,07 persen, setelah sempat melemah ke level 0,23 persen pada pembukaan pagi hari.

Merespons situasi mata uang nasional, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan bahwa jajaran pemerintah terus menggelar koordinasi intensif bersama otoritas fiskal dan moneter.

"Lho, kita rapatnya intens. Pertemuan antara pelaku-pelaku otoritas ekonomi itu intens," kata Prasetyo Hadi di Kompleks Parlemen, Senayan, Sabtu (06/06/2026).

Prasetyo menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar rupiah dipengaruhi banyak faktor eksternal dan internal, termasuk tingkat ketergantungan struktur ekonomi nasional terhadap barang impor.

"Kemandirian kita secara ekonomi itu juga mempengaruhi kekuatan mata uang kita gitu. Ada beberapa yang masih ketergantungan impor itu juga akan mempengaruhi. Makanya ini tidak bisa berdiri sendiri begitu," kata Prasetyo.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author