Peneliti Temukan Penyebab Gunung Etna Terus Aktif Selama Ratusan Ribu Tahun
Misteri mengenai keaktifan Gunung Etna di Italia yang telah berlangsung selama ratusan ribu tahun akhirnya mulai terungkap. Gunung setinggi 3.400 meter yang dikenal sebagai gunung berapi paling aktif di Eropa ini tercatat masih mengalami erupsi hingga akhir 2025 lalu.
Dilansir dari Detikcom, para peneliti memaparkan temuan mereka dalam studi yang terbit di jurnal Geophysical Research pada 7 April 2026. Penelitian tersebut mengungkap bahwa Gunung Etna terbentuk dan berfungsi melalui cara yang sangat berbeda dari mayoritas gunung berapi lainnya.
Berdasarkan laporan studi tersebut, Gunung Etna disuplai oleh mekanisme magma langka yang biasanya hanya ditemukan pada gunung api bawah laut berukuran kecil. Proses tidak biasa ini melepaskan magma yang terperangkap di zona kecepatan rendah (low-velocity zone) Bumi lalu menyemburkannya hingga ke permukaan.
Meskipun secara geografis berada di atas zona subduksi, komposisi kimia lava Etna justru menyerupai gunung berapi yang terbentuk di atas titik panas (hotspot), seperti di Hawaii. Analisis sampel lava selama 500.000 tahun terakhir menunjukkan bahwa komposisi kimia Gunung Etna sangat konsisten.
Data ini mematahkan teori umum yang menyebut bahwa gunung berapi biasanya memuntahkan magma baru akibat aktivitas tektonik terkini. Sebaliknya, Gunung Etna menerima pasokan lambat dari magma yang sudah ada sebelumnya di antara mantel atas dan dasar lempeng tektonik, sekitar 80 kilometer di bawah permukaan bumi.
Kategori Unik Petit-Spot pada Gunung Raksasa
Melalui temuan ini, Etna kemungkinan masuk dalam kategori gunung berapi "petit-spot". Kategori yang baru diidentifikasi pada 2006 ini ditandai oleh magma yang ditarik dari kantong-kantong di mantel atas. Namun, kondisi Etna tetap menjadi sebuah keanehan yang luar biasa karena umumnya gunung berapi petit-spot berukuran sangat kecil.
"Penelitian kami menunjukkan bahwa Etna mungkin telah terbentuk melalui mekanisme yang mirip dengan yang menghasilkan gunung berapi bawah laut petit-spot," kata penulis utama penelitian, Sébastien Pilet, seorang ahli geosains di University of Lausanne, dikutip dari Science Alert.
Sébastien Pilet menambahkan bahwa temuan ini sangat tidak terduga bagi tim peneliti.
"Hal ini tidak terduga, karena proses semacam itu sebelumnya hanya diamati pada struktur vulkanik yang sangat kecil, biasanya tidak lebih tinggi dari beberapa ratus meter," tambahnya.
Hasil penelitian ini memberikan wawasan baru bagi ilmu vulkanologi secara global. Informasi tersebut sangat penting untuk menilai potensi bahaya spesifik dari letusan Etna, mengingat posisinya berada dekat dengan kota Catania dan Messina yang dihuni ratusan ribu orang.