Pemerintah DKI Jakarta Keruk Pulau Sampah di Pesisir Muara Angke

Share

Kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, kembali menghadapi persoalan kebersihan yang serius akibat kemunculan gundukan limbah yang menyerupai daratan baru. Berdasarkan laporan yang dikutip dari Detikcom, timbunan materi sisa tersebut bersumber dari kawasan daratan atas yang hanyut melalui aliran sungai hingga mengendap di pantai utara Jakarta.

Fenomena ini mengemuka setelah rekaman video yang memperlihatkan bentangan limbah di laut menjadi perbincangan hangat di jejaring sosial. Posisi tumpukan buangan tersebut diperkirakan berada pada jarak sekitar 600 hingga 700 meter dari garis pantai.

Pada awalnya, material tersebut diduga terakumulasi akibat dorongan ombak dan arus sungai hingga menyembul ke permukaan laut. Guna mengatasi masalah ini, sejumlah petugas dari instansi gabungan langsung diterjunkan ke lokasi untuk melakukan pengerukan.

"Sedangkan yang di Muara Angke yang kemudian terjadi pulau sampah karena sedimentasi," ujar Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, kepada wartawan di Balai Kota DKI, Jumat (5/6).

Aktivitas pembersihan di area endapan Muara Kali Adem ini berlangsung selama empat hari berturut-turut. Kepala Seksi Penanganan Sampah dan Limbah B3 Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kepulauan Seribu, Lukman Dermanto, menjelaskan bahwa proses evakuasi material tersebut berjalan sejak tanggal 2 hingga 5 Juni 2026.

"Hasil penanganan sampah di endapan Muara Kali Adem. Hari ke-1 sebanyak 0,88 ton, hari ke-2 sebanyak 1,76 ton, hari ke-3 sebanyak 3,52 ton, dan hari ke-4 sebanyak 2,64 ton," ujar Lukman saat dihubungi wartawan, Jumat (5/6).

Melalui kerja bakti intensif selama periode tersebut, volume total limbah yang berhasil dipindahkan dari perairan mencapai angka 8,8 ton.

"Iya (total 8,8 ton)," ucapnya.

Faktor Utama Penyebab Polusi Pesisir

Pihak berwenang mengidentifikasi bahwa mayoritas materi pengotor ini merupakan kiriman dari wilayah hulu yang hanyut menuju laut. Asisten Pembangunan dan Lingkungan Hidup Sekda DKI Jakarta, Afan Adriansyah Idris, mengonfirmasi bahwa pasokan limbah dari daratan atas menjadi kendala utama dalam merawat kebersihan Muara Angke.

"Tantangan terbesarnya yang pasti adalah sampah yang selalu hadir. Selalu datang dari arah hulu," kata Afan saat dikonfirmasi, Sabtu (6/6).

Aliran sungai diprediksi akan terus membawa kotoran yang berpotensi memicu penumpukan berulang di pesisir. Oleh sebab itu, strategi penanganan kini diperluas dengan mengoptimalkan penyaringan di sektor hulu agar material tidak sampai lolos ke lautan.

"Tapi kita terus mengaktifkan rekan-rekan yang juga ada di hulu untuk melalui sekat ataupun saringan sampah itu untuk mencegah supaya sampah tadi tidak bergerak sampai ke pesisir," ujarnya.

Target Penyelesaian Kerja

Operasi pembersihan besar-besaran di pantai Muara Angke ini sudah dimulai sejak hari Rabu (3/6). Berdasarkan pemantauan paling akhir, tingkat penyelesaian pekerjaan di lapangan telah menyentuh angka 85 hingga 90 persen.

"Jadi kami dari Pemprov DKI, dalam hal ini melalui Dinas Lingkungan Hidup mulai start kerja per Rabu kemarin. Dan sampai sekarang progresnya kira-kira sudah sekitar 85 persen sampai 90 persen. Dan kami pastikan bahwa per Sabtu sore, seluruh sampah yang ada di delta tersebut sudah akan hilang," ucapnya.

Sebanyak 100 personel, dua unit alat berat ekskavator amfibi, serta tiga armada kapal pengangkut sampah dikerahkan dalam misi ini. Langkah pengawasan secara berkala akan diterapkan setelah area tersebut bersih guna mengantisipasi kejadian serupa di masa mendatang.

Masyarakat juga diimbau untuk mengubah kebiasaan buruk membuang limbah domestik ke saluran air maupun tampungan air sejenisnya karena tindakan tersebut menjadi akar masalah dari bencana ini.

"Kepada warga kami berharap agar tidak lagi membuang sampah ke badan air. Baik ke saluran, ke kali, waduk, situ ataupun embung. Bukan apa-apa, yang mengalami kerugian adalah kita sendiri," tuturnya.

Dampak negatif dari kelalaian mengelola limbah ini tidak hanya merusak pemandangan perairan, melainkan juga memperbesar risiko terjadinya banjir yang merugikan publik secara luas.

"Selain lingkungan yang tercemar, ini juga berpotensi untuk menimbulkan adanya bencana banjir yang tentunya dampaknya akan dirasakan oleh kita semua. Jadi sekali lagi, imbauan kami dari Pemprov DKI setop buang sampah sembarangan," imbuhnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author