Militer Israel Merebut dan Mengibarkan Bendera di Beaufort Castle Lebanon
Pasukan darat Israel merebut benteng pertahanan abad pertengahan Beaufort Castle di Lebanon selatan dan mengibarkan bendera Israel di atas reruntuhan tersebut, seperti dilansir dari Detikcom.
Aksi militer yang terekam dalam kamera tubuh serdadu Israel ini menandai pergerakan pasukan yang semakin jauh menembus wilayah Lebanon melampaui garis demarkasi awal di Sungai Litani.
Perdana Menteri Israel memberikan pernyataan resmi pada Minggu (31/05) setelah pasukannya berhasil menguasai wilayah strategis yang berada di atas bukit berbatu dekat Kota Arnoun tersebut.
"tahap yang menentukan dan pergeseran yang menentukan dalam kebijakan kami" kata Benjamin Netanyahu, Perdana Menteri Israel.
Pemimpin Israel tersebut menegaskan bahwa negaranya kini mengambil langkah ofensif dan bergerak aktif di berbagai wilayah konflik di sekitarnya.
"Kami telah mematahkan tembok ketakutan," kata Benjamin Netanyahu.
Ia melanjutkan penjelasannya mengenai operasi militer yang sedang berlangsung saat ini.
"Kami mengambil inisiatif. Kami beroperasi di semua front di Suriah, di Gaza, di Lebanon." kata Benjamin Netanyahu.
Langkah terbaru Israel melintasi Sungai Litani ini memicu kritik keras dari Inggris, Prancis, dan Jerman, sementara militer Israel (IDF) justru memperingatkan lebih banyak warga Lebanon selatan untuk mengungsi.
Pemerintah Lebanon merespons tajam agresi militer tersebut dan memberikan tuduhan langsung terhadap tindakan yang dilakukan oleh pihak Israel.
"hukuman kolektif" tuduh Nawaf Salam, Perdana Menteri Lebanon.
Secara historis, Israel pernah merebut benteng era Perang Salib abad ke-12 ini 44 tahun lalu pada 6 Juni 1982, lalu menjadikannya pos pengamatan hingga tahun 2000.
Seorang akademisi memberikan analisis mengenai nilai strategis benteng yang sejak 2024 dilindungi Konvensi Den Haag ini, di mana posisinya mampu memantau wilayah Israel utara, dataran Lebanon selatan, dan Lembah Litani.
"Mengingat posisinya yang bisa memantau wilayah luas, pada 1970-an hingga Juni 1982, tempat itu digunakan sebagai basis gerilyawan Palestina untuk melawan Israel," kata Prof Asher Kaufman, dari University of Notre Dame.
Kaufman menambahkan bahwa lokasi ini memicu Pertempuran Shaqif, salah satu bentrokan paling sengit dalam sejarah invasi 1982 yang terus dikenang oleh militer kedua belah pihak.
Analis politik Timur Tengah menilai keberhasilan pendudukan kembali situs warisan budaya yang sempat dipugar ini membawa dampak psikologis yang signifikan terhadap peta kekuatan di Lebanon.
"Perebutan Beaufort Castle menunjukkan bahwa Hizbullah tidak mampu mencegah Israel memperluas pendudukannya atas wilayah Lebanon," kata Dr Lina Khatib, dari Program Kajian Timur Tengah dan Afrika Utara Chatham House.
Kecaman terhadap serangan di objek bersejarah ini juga datang dari pejabat lokal di Arnoun serta perwakilan tingkat tinggi Uni Eropa.
"Kami menyerukan kepada Israel untuk menghentikan eskalasi militernya di Lebanon dan untuk menghormati kedaulatan serta integritas teritorial Lebanon." kata Anouar El Anouni, juru bicara Uni Eropa pada Senin (01/07).