Aktivitas Seksual di Akhir Kehamilan Bantu Persiapkan Proses Persalinan
Menjelang masa melahirkan, keamanan berhubungan intim sering kali menjadi pertanyaan bagi para ibu hamil. Banyak informasi beredar bahwa aktivitas ini dapat mempercepat proses persalinan saat kandungan mendekati minggu-minggu terakhir.
Aktivitas seksual diperkirakan dapat membantu mempercepat persalinan apabila usia kandungan sudah cukup bulan, seperti dilansir dari HaiBunda. Orgasme rahim diduga mampu memicu kontraksi kuat untuk sementara waktu.
Stimulasi pada puting dan area genital saat berhubungan intim juga dapat meningkatkan hormon oksitosin. Hormon alami ini diproduksi oleh tubuh untuk memancing timbulnya kontraksi persalinan.
Cairan air mani dari pasangan juga memiliki peran tersendiri karena mengandung zat prostaglandin. Zat yang bekerja menyerupai hormon ini berfungsi melunakkan sekaligus menipiskan kondisi serviks.
Kendati demikian, bukti ilmiah yang memastikan keberhasilan aktivitas ini secara pasti masih dinilai belum cukup kuat. Sejumlah riset bahkan menunjukkan tidak ada keterkaitan yang jelas antara hubungan seksual dan waktu melahirkan.
Aktivitas intim pada kehamilan yang sehat umumnya tidak langsung memicu persalinan secara instan. Peluang tersebut baru membesar ketika usia kandungan sudah matang atau melewati hari perkiraan lahir (HPL).
Sebuah studi pada tahun 2005 menunjukkan bahwa stimulasi payudara dapat membantu memicu kontraksi rahim. Penelitian lain di tahun 2006 memperlihatkan hubungan seks berkaitan dengan berkurangnya kebutuhan induksi medis pada minggu ke-41.
Riset pada tahun 2015 turut menyebutkan adanya keterkaitan antara hubungan intim di minggu terakhir kehamilan dengan dimulainya proses melahirkan. Bagaimanapun, seluruh studi tersebut masih membutuhkan kajian lebih mendalam dari para ahli.
Melakukan hubungan seksual pada trimester akhir pada dasarnya tergolong aman selama ibu hamil tidak memiliki komplikasi medis tertentu. Risiko terjadinya persalinan prematur akibat aktivitas ini juga tercatat sangat jarang terjadi.
“Karena tidak ada bukti bahwa berhubungan seks benar-benar memicu persalinan, kecuali ada komplikasi medis seperti plasenta previa atau risiko tinggi persalinan prematur, berhubungan seks telah terbukti sepenuhnya aman selama kehamilan, terlepas dari berapa minggu usia kehamilannya,” kata seorang bidan bernama Casey Selzer dalam The Bump.
Ibu hamil disarankan segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika merasakan gejala tidak biasa. Gejala tersebut meliputi kram yang berlangsung terus-menerus, pendarahan, atau keluarnya cairan abnormal setelah berhubungan intim.
Hingga kini belum ada riset yang merekomendasikan posisi seks tertentu untuk mempercepat persalinan karena faktor utama yang berpengaruh adalah tercapainya orgasme. Pasangan suami istri disarankan memilih posisi yang paling nyaman dan tidak memberikan tekanan berlebih pada perut.