Ciri Kepribadian Orang yang Lebih Fokus Bekerja di Tengah Kebisingan

Share

Sebagian individu justru memerlukan lingkungan yang ramai dan berisik untuk bisa mempertahankan konsentrasi mereka saat menyelesaikan tugas.

Bagi kelompok ini, suasana sekitar yang bising tidak dianggap sebagai gangguan, melainkan sebuah kondisi yang wajar untuk mendukung produktivitas.

Kecenderungan ini juga dipengaruhi oleh faktor usia, di mana generasi muda umumnya menganggap kebisingan sebagai hal normal, berbeda dengan generasi tua yang lebih menyukai ketenangan.

Penelitian tahun 2019 dari Future Workplace dan perusahaan komunikasi Plantronics, Inc. menunjukkan perbedaan produktivitas antar-generasi secara signifikan.

Lebih dari separuh individu Gen Z yang disurvei menyatakan paling produktif bekerja di tengah kebisingan kantor, sedangkan 60 persen Baby Boomers memilih suasana tenang.

Individu yang membutuhkan stimulasi suara untuk merampungkan pekerjaan ini memiliki beberapa ciri kepribadian yang khas, seperti dilansir dari HaiBunda.

Orang yang membutuhkan suara latar cenderung menghasilkan ide dan solusi inovatif karena kebisingan tersebut memicu imajinasi mereka, menurut data dari Your Tango.

Studi tahun 2021 yang diterbitkan di Scientific Research Publishing mengonfirmasi bahwa tingkat kebisingan sedang di latar belakang berkaitan dengan peningkatan kinerja kreatif pemikir orisinal.

Kelompok ini juga memiliki dunia batin yang kaya, sehingga kehadiran suara latar justru menjaga kreativitas mereka agar tetap mengalir tanpa merasa terkekang.

Keheningan total sering kali terasa membosankan bagi mereka yang otaknya memerlukan suara bising untuk mengembalikan semangat serta memunculkan ide-ide baru.

Ciri lainnya adalah kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap lingkungan baru dan situasi yang fleksibel, seperti diungkapkan oleh psikolog berlisensi Lienna Wilson.

"Orang yang fleksibel cenderung mudah beradaptasi dengan berbagai situasi, seperti tetangga yang berisik atau tinggal di dekat stasiun kereta api. Selama mereka bisa membangun kemampuan beradaptasi, mereka biasanya mudah memasukkan suara latar yang cenderung menutupi suara yang tidak diinginkan," kata Lienna Wilson.

Saat berada di suasana yang terlalu senyap, individu tipe ini justru berisiko berpikir berlebihan dan menganalisis segala sesuatu secara berlebihan.

Suara latar berfungsi sebagai penyangga yang memberikan struktur pada otak, sehingga mereka bisa tetap fokus pada tugas yang sedang dikerjakan.

Mereka juga mahir melakukan banyak tugas sekaligus dan terbiasa berpindah dengan cepat dari satu pekerjaan ke pekerjaan berikutnya secara efisien.

"Orang yang suka melakukan banyak tugas sekaligus cenderung menikmati suara latar. Mereka terbiasa berpindah dengan cepat dari satu tugas ke berikutnya, dan keheningan dapat membuat mereka merasa bahwa hal itu memperlambat mereka," ujar Lienna Wilson.

Kebisingan di sekitar juga dapat memicu sifat impulsif yang memberikan energi untuk bertindak cepat tanpa keraguan yang biasa muncul dalam keheningan.

Mengenai aspek spontanitas ini, profesor filsafat Katherine Hawley memberikan pandangannya terkait nilai kesederhanaan dalam aktivitas yang padat.

"Kenikmatan spontanitas adalah salah satu kesenangan yang paling sederhana namun paling berharga. Dalam kehidupan kita yang penuh tekanan, jadwal yang terlalu padat, dan komitmen yang berlebihan, mudah untuk merasa rindu akan betapa sulitnya meraih kesenangan sederhana itu," kata Katherine Hawley.

Namun, terdapat sisi lain yang cenderung negatif, yakni adanya ketakutan untuk hidup sendirian karena keheningan dapat memicu rasa kesepian akut.

"Ada beberapa orang yang takut sendirian karena hal itu memicu perasaan kesepian yang akut. Dalam kasus seperti itu, adanya suara berisik dapat membantu," tutur Lienna Wilson.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author