Militer AS Tangkis Serangan Rudal dan Drone Iran di Teluk Persia
Pasukan Amerika Serikat berhasil menangkis serangan enam rudal balistik dan empat drone militer Iran di kawasan Teluk Persia pada Jumat malam, 5 Juni 2026, di tengah ketegangan perang yang telah berkobar selama hampir 100 hari, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Komando Pusat AS (CentCom) mengonfirmasi bahwa enam rudal balistik yang diarahkan ke Bahrain dan Kuwait berhasil dicegat, sementara satu rudal lainnya gagal mencapai target. Selain itu, empat drone serang Iran yang menuju Selat Hormuz turut ditembak jatuh oleh pihak militer.
Sebagai respons untuk mencegah serangan lanjutan, angkatan bersenjata Amerika Serikat langsung melancarkan serangan balasan terhadap situs radar pengawasan pantai milik Iran. Operasi tersebut menyasar fasilitas militer yang berada di wilayah Goruk dan Pulau Qeshm.
Pihak militer Kuwait menyatakan bahwa sistem pertahanan udara nasional mereka bergerak aktif dalam menghalau ancaman tersebut. Otoritas keamanan setempat mengonfirmasi suara ledakan di udara merupakan hasil dari pencegatan sukses terhadap serangan musuh yang datang.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain merespons situasi darurat ini dengan mengeluarkan imbauan resmi kepada publik. Pemerintah meminta seluruh warga negara untuk tetap tenang dan segera mencari perlindungan di lokasi aman terdekat dari posisi mereka.
Konflik bersenjata ini dipicu oleh serangan awal AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari 2026 yang kemudian memicu penutupan sebagian besar jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dampak dari eskalasi ini memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga mencapai angka US$96 per barel.
Presiden Donald Trump memberikan keterangan mengenai kondisi terkini kekuatan militer Iran setelah serangan udara tersebut terjadi. Trump menilai bahwa kemampuan persenjataan Iran sudah mengalami penurunan signifikan dibandingkan awal mula konflik pertikaian pecah.
"Itu banyak rudal, tapi tidak seperti saat kami pertama kali menyerang," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sebelumnya, Trump sempat menyatakan bahwa militer Iran telah hancur sepenuhnya, namun kemudian mengakui negara tersebut masih menyimpan sekitar 21 hingga 22 persen dari total persenjataan rudal mereka. Ia tetap mengklaim bahwa operasi militer Amerika Serikat di Timur Tengah berjalan dengan sukses.
"Kami meraih kesuksesan besar dengan Iran," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Ia juga menambahkan pernyataan di hadapan para wartawan mengenai status program nuklir Teheran. Menurut penilaian sepihak dari pemerintah Amerika Serikat, negara pencetus revolusi Islam tersebut kini sudah tidak berada dalam posisi untuk memiliki senjata nuklir.
"Orang-orang mengira situasinya akan jauh lebih buruk," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Trump juga mengomentari kekhawatiran global mengenai dampak ekonomi global dari konflik ini, khususnya mengenai pergerakan harga komoditas energi. Ia meremehkan kepanikan pasar yang sebelumnya memprediksi harga minyak dunia akan meroket tajam akibat perang.
"Hari ini saya melihat harga minyak US$96 per barel, orang-orang mengira harganya akan mencapai US$300 per barel," kata Donald Trump, Presiden Amerika Serikat.
Di pihak lain, ketegangan regional terus meningkat karena Iran menuntut syarat diplomatik khusus sebelum kesepakatan dengan AS bisa tercapai. Teheran mendesak adanya gencatan senjata di Lebanon, tempat pasukan Israel dan Hizbullah tengah terlibat pertempuran sengit.
Pemerintah Iran juga menuntut pencairan aset mereka yang dibekukan senilai $24 miliar. Penasihat militer Pemimpin Tertinggi Iran menyatakan bahwa keputusan untuk mengakhiri kebuntuan diplomasi kini sepenuhnya berada di tangan kepemimpinan Presiden Trump.
"bola ada di tangan Trump" kata Penasihat Militer Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei.
Hizbullah sendiri telah menolak proposal gencatan senjata yang dimediasi oleh Departemen Luar Negeri AS pada awal pekan ini. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan bahwa proses negosiasi tidak menunjukkan perkembangan yang berarti.
"kemajuan nyata" kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Meskipun belum ada titik temu dalam perundingan, kedua belah pihak dilaporkan masih terus bertukar pesan melalui bantuan pihak mediator. Data pelacakan kapal komersial menunjukkan arus lalu lintas perdagangan di Selat Hormuz terhenti total pada Jumat pagi.