Airlangga Hartarto Ungkap Diversifikasi Kunci Hadapi Tekanan Geopolitik Global
Sistem ekonomi internasional kini sedang menghadapi tekanan baru yang mempengaruhi ketahanan rantai pasok hingga stabilitas perdagangan dan investasi. Dikutip dari Detikcom, situasi tersebut dipicu oleh dinamika geopolitik global yang berjalan semakin kompleks.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan bahwa kondisi ini menuntut penguatan kerangka kerja sama. Arsitektur ekonomi internasional perlu dibangun agar tetap inklusif, terbuka, dan tangguh dari berbagai tantangan global.
"Arsitektur ekonomi internasional saat ini jelas sedang mengalami perubahan. Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana kita dapat membangun kembali framework yang mampu mempertahankan manfaat keterbukaan sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi. Saya meyakini bahwa jawabannya bukan terletak pada decoupling, melainkan pada diversification. Bukan pada fragmentation, melainkan pada cooperation and partnerships," ujar Airlangga dalam siaran pers dikutip Sabtu (6/6/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Airlangga dalam sesi Ministerial Keynote and Conversation pada Brussels Economic Security Forum (BESF) 2026 di Brussel, Belgia, Jumat (05/06). Dalam forum itu, ia memaparkan strategi Indonesia dalam memperkuat keamanan ekonomi dan ketahanan nasional.
Airlangga juga menjelaskan perkembangan kerja sama ekonomi Indonesia dengan Uni Eropa, termasuk penyelesaian Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Fragmentasi ekonomi perlu dicegah karena berpotensi menghambat pertumbuhan serta stabilitas perekonomian dunia.
Sejumlah konflik global, seperti di sekitar Selat Hormuz dan Laut Merah, menjadi bukti nyata gangguan geopolitik. Dampak dari konflik tersebut dapat memicu lonjakan biaya, menurunkan nilai investasi, serta memperlambat pertumbuhan ekonomi dunia dengan cepat.
Menyikapi ketidakpastian ini, banyak negara menerapkan kebijakan keamanan ekonomi lewat instrumen industri, penyaringan investasi, hingga pengendalian ekspor. Langkah tersebut diambil demi menjaga ketahanan ekonomi nasional masing-masing negara.
Di tengah tekanan global, Indonesia mampu mempertahankan ketahanan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi tercatat sebesar 5,61% (year-on-year) pada triwulan I tahun 2026 dengan inflasi terkendali serta cadangan devisa yang kuat.
Neraca perdagangan Indonesia juga mencatatkan surplus yang telah bertahan selama lebih dari 70 bulan berturut-turut. Saat ini, pemerintah terus mempercepat transformasi ekonomi melalui hilirisasi industri, manufaktur, transformasi digital, dan pengembangan ekonomi hijau.
Indonesia memantapkan posisi dalam rantai pasok global, khususnya pada sektor kendaraan listrik, baterai, mineral kritis, dan energi terbarukan. Investasi dari Asia, Eropa, dan Amerika Utara berhasil ditarik untuk produksi baterai, material katoda, hingga perakitan kendaraan listrik.
"Perkembangan tersebut tidak hanya mendorong pertumbuhan industri nasional, tetapi juga berkontribusi terhadap diversifikasi rantai pasok energi bersih global sehingga menjadi lebih tangguh dan berkelanjutan," paparnya.
Sektor digital turut didorong sebagai pilar utama keamanan ekonomi. Nilai ekonomi digital Indonesia diproyeksikan melampaui US$130 miliar dalam gross merchandise value (GMV) pada tahun 2025, memposisikan Indonesia sebagai kekuatan ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.
Pada sektor energi, program dekarbonisasi diperkuat melalui implementasi biodiesel B50. Kebijakan ini diperkirakan dapat memangkas impor bahan bakar hingga 4 juta kiloliter per tahun sekaligus meningkatkan kemandirian energi nasional.
Ekspansi Kerja Sama Internasional
Airlangga menegaskan komitmen Indonesia untuk memperluas kemitraan strategis melalui berbagai perjanjian dagang. Beberapa di antaranya meliputi IEU-CEPA, Indonesia-Canada CEPA, dan Indonesia-Eurasian Economic Union Free Trade Agreement (I-EAEU FTA).
Indonesia juga sedang menempuh proses aksesi menuju Comprehensive and Progressive Agreement for Trans-Pacific Partnership (CPTPP) serta Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD). Peran sebagai anggota ASEAN, G20, dan BRICS memperkuat posisi Indonesia sebagai jembatan negara maju dan berkembang.
European Commissioner for Trade and Economic Security, Maroš Šefčovič resmi menutup rangkaian forum tersebut. Ia menekankan pentingnya penguatan kolaborasi internasional demi menjawab tantangan ekonomi dan geopolitik global.
"Mari kita bekerja sama membangun kerangka keamanan ekonomi yang lebih baik, yang mampu memperkuat ketahanan sekaligus menjaga keterbukaan, inklusivitas, dan pertumbuhan yang berkelanjutan bagi semua," pungkas Airlangga.
Brussels Economic Security Forum (BESF) sendiri merupakan agenda tahunan dari European Policy Centre (EPC). Forum utama di Brussel ini memfokuskan diskusi pada isu keamanan ekonomi, rantai pasok, perdagangan, investasi, teknologi, serta dinamika global yang dihadiri pejabat tinggi Uni Eropa, pemerintah mitra, pelaku usaha, hingga media internasional.