Vladimir Putin Tolak Usulan Gencatan Senjata dan Negosiasi Volodymyr Zelenskyy
Presiden Rusia Vladimir Putin menolak seruan pemimpin Ukraina Volodymyr Zelenskyy untuk bertemu dan bernegosiasi guna mengakhiri perang, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat, 5 Juni 2026. Penolakan ini disampaikan Putin dalam sesi pleno Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.
Sikap keras Rusia muncul setelah Zelenskyy mengirimkan surat terbuka yang langka pada Kamis malam, berisi tantangan untuk melakukan perundingan damai langsung. Pemimpin Ukraina tersebut mengusulkan adanya gencatan senjata penuh selama proses negosiasi berlangsung.
Zelenskyy juga menyarankan beberapa lokasi potensial untuk pertemuan mereka, seperti Swiss, Turki, dan sejumlah negara Arab. Namun, Moskow menunjukkan keengganan untuk berkompromi mengenai syarat-syarat penghentian konflik yang kini telah memasuki tahun kelima tersebut.
"Saya tidak melihat gunanya" kata Putin pada Jumat di sesi pleno Forum Ekonomi Internasional St. Petersburg.
Putin memberikan jawaban tersebut saat merespons pertanyaan dari moderator forum. Ia menegaskan bahwa rakyat Rusia saat ini sedang menyaksikan secara langsung aksi pertarungan yang dilakukan oleh angkatan bersenjata mereka di medan perang.
"Teruslah bekerja, saudara-saudara," katanya, disambut tepuk tangan dari hadirin.
Setelah memberikan semangat kepada pasukannya, Putin mengaku telah membaca sekilas surat dari Zelenskyy. Surat terbuka tersebut sebelumnya diperlihatkan kepadanya oleh juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov.
"Apakah ini cara untuk menciptakan kondisi bagi pertemuan dan negosiasi pribadi, ataukah ini menciptakan lingkungan di mana mustahil untuk mengadakan pertemuan pribadi? Saya pikir itu yang terakhir." kata Putin.
Kritik tersebut diarahkan Putin karena ia menilai surat dari Zelenskyy memiliki nada yang kasar. Di sisi lain, para pemimpin Inggris, Prancis, dan Jerman justru sedang merencanakan pertemuan dengan Zelenskyy akhir pekan ini guna membahas keterlibatan Rusia dalam negosiasi.
Pertemuan para pemimpin Eropa dengan Zelenskyy dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam di Inggris. Langkah ini diambil di tengah upaya Putin yang menolak keterlibatan Uni Eropa sebagai penengah konflik terbesar di Eropa sejak Perang Dunia II ini.
"Bagaimana Uni Eropa atau negara-negara anggota Uni Eropa dapat berperan sebagai mediator ketika mereka secara langsung membantu negara yang sedang berkonflik dengan kita?" katanya dalam pertemuan Kamis malam dengan media asing di St. Petersburg.
Putin menegaskan bahwa sebuah mediasi yang jujur membutuhkan netralitas dari pihak penengah. Ia berpendapat bahwa negara-negara Eropa seharusnya membujuk Kyiv untuk menerima kesepakatan damai yang menurutnya telah disetujui bersama Presiden AS Donald Trump di Alaska Agustus lalu.
"Mediasi menyiratkan netralitas." kata Putin.
Sementara itu, Trump menyambut baik inisiatif yang diambil oleh pihak Ukraina. Ia menyampaikan pandangannya mengenai potensi pertemuan kedua pemimpin tersebut kepada para wartawan saat berada di Ruang Oval hari Kamis.
"akan sangat bagus jika mereka bertemu, mereka harus menyelesaikannya." kata Trump.
Tanggapan Trump ini berbanding terbalik dengan posisi tegas Kremlin yang menolak gencatan senjata selama pembicaraan damai berjalan. Putin beralasan jeda militer hanya akan digunakan Ukraina untuk mempersenjatai diri dan memperkuat pertahanan mereka.
Rusia menyatakan siap bertemu Zelenskyy di Moskow atau tempat lain hanya untuk menandatangani perjanjian damai, bukan melakukan pembahasan substantif. Kremlin menuntut Kyiv menyerahkan wilayah Donbas timur, termasuk Donetsk, yang ditolak oleh Ukraina.
Saat perundingan terhambat, Ukraina meningkatkan tekanan dengan meluncurkan serangan drone ke wilayah Rusia, termasuk ke St. Petersburg pada hari pembukaan forum hari Rabu. Kepulan asap hitam sempat terlihat melayang di atas kota kelahiran Putin tersebut.
"Jangan takut untuk mengambil jalan keluar dari perang ini. Itulah hal utama yang dibutuhkan dari Anda saat ini," kata Zelenskyy kepada Putin dalam surat terbukanya.
Zelenskyy menyatakan serangan pasukannya hanya menyasar target militer murni seperti Terminal Minyak Petersburg dan pangkalan angkatan laut Kronstadt. Ia menegaskan negaranya akan terus bertarung jika Rusia tidak memilih opsi damai.
"Jika Anda tidak secara pribadi sampai pada kesimpulan bahwa sudah waktunya untuk mengakhiri perang ini, Ukraina akan terus berjuang demi kelangsungan hidupnya." kata Zelenskyy.