Kementerian ESDM Siapkan Distribusi Tabung CNG 3 Kilogram Tanpa Biaya
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) merencanakan sistem distribusi gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) ukuran 3 kilogram tanpa mewajibkan masyarakat untuk membeli atau menyewa tabung tersebut.
Skema penyaluran bahan bakar alternatif ini dirancang menyerupai pola distribusi liquified petroleum gas (LPG) subsidi yang sudah berjalan di masyarakat. Kepastian mengenai fasilitas peminjaman tabung dari distributor ini disampaikan di Jakarta pada Selasa malam, 21 Mei 2026, dilansir dari Bloombergtechnoz.
Pemerintah kini sedang mematangkan aspek keamanan tabung bertekanan tinggi tersebut sebelum memasuki fase proyek percontohan. Pengujian intensif dijadwalkan berlangsung selama tiga bulan ke depan guna menerbitkan Standar Nasional Indonesia (SNI) sebelum didistribusikan ke kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang, Bandung, dan Surabaya.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, menegaskan bahwa model bisnis ini berfokus pada pengisian ulang muatan gas. Pihak distributor yang nantinya akan mengelola pengadaan fisik tabung di lapangan.
"Isi ulang. Tabungnya dipinjamkan," kata Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM.
Aspek keselamatan menjadi fokus utama mengingat tabung CNG tipe 4 berbahan polimer komposit ini harus menahan tekanan 200 hingga 250 bar. Peluncuran proyek percontohan di wilayah perkotaan baru akan dieksekusi setelah seluruh regulasi teknis keselamatan terpenuhi.
"Once aspek safety-nya sudah kita peroleh, sudah aman, sudah bisa kita kendalikan, kita sudah bisa menerbitkan SNI, baru kita lakukan pilot-nya," tegas Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM.
Untuk mendukung kebutuhan fase pengujian riil tersebut, calon badan usaha terkait berencana mendatangkan sekitar 100.000 unit tabung dari produsen di China. Volume pemesanan minimal ini diperlukan agar pabrik dapat memproses spesifikasi ukuran 3 kilogram yang diminta.
"Jadi, kita sekarang fokus kepada proses pengujian. Proses pengujian ini butuh tabung yang riil. Untuk bisa kita dapatkan tabung yang riil, minimum kita harus pesan 100.000," kata Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM.
Hingga saat ini kementerian belum merinci total nilai transaksi impor maupun identitas badan usaha yang mengeksekusi pengadaan tersebut. Otoritas pusat menyatakan skema bisnis keseluruhan program ini masih digodok oleh Ditjen Minerba atas perintah menteri.
"Namun, ini yang lakukan calon badan usahanya ya, bukan kita. Mereka yang sedang berproses sekarang," tegas Laode Sulaeman, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Kementerian ESDM.
Terkait lokasi pelaksanaan uji teknis, pemerintah membagi lokasi pengujian di dua wilayah negara yang berbeda. Langkah ini diambil karena fasilitas manufaktur tabung tersebut berada di negara asal produsen.
"Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China, dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya," ungkap Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Program ini menjadi perluasan dari pemanfaatan CNG komersial ukuran 12 kilogram dan 20 kilogram yang sebelumnya telah jamak digunakan sektor perhotelan serta restoran. Penerapan ukuran yang lebih kecil ini ditargetkan khusus untuk menjangkau kelompok masyarakat luas.
"Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu sudah jalan, tetapi kan kita lagi melakukan uji coba terhadap tabung yang 3 kilogram untuk rakyat," tambah Bahlil Lahadalia, Menteri ESDM.
Secara teknis, Kementerian ESDM memastikan integrasi energi baru ini tidak akan membebani konsumen dengan biaya modifikasi alat masak. Karakteristik gas alam terkompresi ini dirancang kompatibel sehingga masyarakat dapat langsung menghubungkannya ke kompor LPG eksisting tanpa alat pengonversi tambahan.