Olahraga Berlebihan Picu Kerusakan Ginjal Akibat Rhabdomyolysis
Aktivitas olahraga yang melampaui batas kemampuan tubuh dapat mendatangkan dampak buruk bagi kesehatan. Efek negatif dari latihan fisik yang terlalu intens ini salah satunya adalah risiko kerusakan organ ginjal.
Dilansir dari Detik Health, kondisi medis yang berkaitan dengan kerusakan otot akibat olahraga berat dikenal dengan istilah rhabdomyolysis atau rhabdo. Ketika tubuh mengalami kelelahan ekstrem, jaringan otot akan pecah dan meluruh.
Proses peluruhan tersebut melepaskan protein berbahaya seperti kreatin kinase (CK) dan mioglobin ke dalam aliran darah, yang kemudian dapat menyumbat serta merusak sistem penyaringan ginjal.
Kasus ini sempat menimpa seorang wanita di Amerika Serikat bernama Savanna Stebbins yang harus menjalani perawatan di rumah sakit setelah mengikuti kelas bersepeda indoor pada Maret 2025. Melalui media sosial, ia membagikan kisahnya yang didiagnosis menderita rhabdomyolysis akibat latihan yang terlalu berat.
Kejadian serupa juga dialami oleh Atrina Lau, seorang wanita di Malaysia pada Maret 2021 setelah mencoba latihan sepeda statis atau spinning. Dokter yang menangani Atrina menyatakan bahwa kadar protein kreatinin kinase dalam tubuhnya telah mencapai ambang batas berbahaya, sehingga memerlukan penanganan medis segera demi mencegah gagal ginjal.
Mengenai fenomena ini, profesor klinis asosiasi nefrologi dari UCLA Health memberikan penjelasan mengenai faktor pemicunya.
"Rhabdomyolisis akibat aktivitas fisik dapat terjadi setelah olahraga berat dan dari latihan intensitas tinggi di mana otot-otot digunakan secara berlebihan," kata Niloofar Nobakht, MD.
"Anda juga bisa terkena rhabdomyolisis akibat trauma langsung, seperti cedera remuk akibat kecelakaan kendaraan bermotor atau jatuh," tambahnya.
Menurut Dr. Nobakht, gangguan kesehatan ini dapat menyerang siapa saja. Namun, kelompok orang dengan profesi tertentu seperti atlet, pelari, petugas pemadam kebakaran, serta polisi memiliki risiko yang jauh lebih tinggi.
Berdasarkan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), terdapat beberapa indikasi klinis yang muncul saat seseorang mengalami rhabdomyolysis.
Gejala tersebut meliputi rasa nyeri, pegal, atau kram otot yang intensitasnya jauh lebih parah dari biasanya. Selain itu, penderita akan mengalami perubahan warna urine menjadi gelap seperti teh atau cola, serta merasakan lemas yang luar biasa hingga tidak mampu menyelesaikan latihan fisik ringan.
Indikasi rhabdomyolysis sering kali tidak langsung terlihat dan baru muncul beberapa jam hingga beberapa hari setelah cedera otot pertama kali terjadi. Penanganan medis yang cepat dan diagnosis sejak dini sangat krusial agar proses pemulihan berjalan optimal tanpa menyisakan efek buruk yang permanen.
Prinsip Olahraga yang Aman bagi Tubuh
Untuk mencegah terjadinya cedera otot parah, langkah pencegahan dapat dilakukan dengan mengatur skema latihan secara bertahap.
Praktisi kebugaran dr. Anita Suyani, SpKO menjelaskan bahwa dalam dunia olahraga terdapat panduan dasar yang wajib dipatuhi, yaitu memulai dari intensitas paling rendah terlebih dahulu.
"Mau push the limit nggak apa-apa. Tapi jangan sakit Kalau sakit berarti kita udah nggak sanggup. Ada limit bawah, ada limit atas," katanya.
"Dulu bisa angkat 150 kg, tapi sudah dua tahun berhenti, jangan mulai dari situ lagi. Mulai dari 80 dulu, nanti nambah lagi," tutur dr. Anita Suyani, SpKO.
Proses adaptasi fisik harus berjalan secara konsisten dan perlahan. Peningkatan beban atau intensitas latihan baru boleh dilakukan apabila kondisi tubuh benar-benar telah siap dan tidak menunjukkan tanda-tanda cedera.