Petani Buleleng Pertahankan Produksi Garam Palungan Tradisional di Desa Les

Share

Produksi garam tradisional hingga saat ini masih dipertahankan oleh masyarakat pesisir. Salah satu kawasan yang konsisten menjaga kelestarian ini berada di Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali.

Ladang garam di wilayah ini terhampar luas di sepanjang pesisir pantai. Dilansir dari Detik Finance, proses pembuatan komoditas tersebut sangat bergantung pada pasokan air laut murni dan paparan cahaya matahari yang terik.

Komoditas unik dari wilayah yang menjadi salah satu Desa Sejahtera Astra ini populer dengan sebutan garam palungan. Berdasarkan informasi dari situs resmi Desa Les, pembuatan garam palungan dimulai dengan menyiramkan air laut secara merata ke petak-petak tanah penguapan.

Setelah melalui proses penguapan, tahap berikutnya adalah penyaringan menggunakan wadah khusus berbentuk kerucut atau kukusan. Wadah kukusan ini diletakkan di atas batang pohon kelapa yang sudah dibentuk menyerupai palung atau perahu.

Proses terakhir dari rantai produksi ini adalah penjemuran air hasil saringan sampai mengkristal menjadi butiran garam murni.

"Proses produksi sangat mengandalkan cahaya matahari. Sekali panen bisa menghasilkan kurang lebih 25 kilogram," ujar Penggerak atau Local Champion Desa Sejahtera Astra Les, Nyoman Nadiana, di Desa Les, Buleleng, Jumat (5/6/2026).

Sistem pemasaran komoditas yang dihasilkan para petani lokal ini mendapatkan dukungan dari Badan Usaha Milik Desa. Garam tradisional dikumpulkan oleh BUMDes Les untuk kemudian dikemas secara menarik sebelum dilepas ke pasar.

Nyoman Nadiana berharap program kemitraan bersama Astra melalui Desa Sejahtera Astra dapat memperluas jangkauan pasar produk lokal ini.

"Astra membantu membuka jalan untuk pemasaran garam Desa Les, dan diharapkan ke depannya bisa semakin meningkat," tutur pria yang biasa disapa Don Dare ini.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
farhan-dwi-ramadhan
Author