Investor Amerika Serikat Tetap Yakin Berinvestasi di Sektor Pariwisata Bali

Share

Pelaku usaha dan investor asal Amerika Serikat tetap menunjukkan keyakinan tinggi terhadap prospek investasi sektor pariwisata di Bali meskipun mata uang dolar AS mengalami penguatan hingga menyentuh level Rp 18 ribu, seperti dilansir dari Detik Travel.

Kondisi ekonomi tersebut dinilai tidak menyurutkan komitmen bisnis jangka panjang karena berbagai sektor di Pulau Dewata dianggap masih memiliki peluang tumbuh yang besar.

General Manager The Westin Resort & Spa Ubud, Marriott International, Saraswati Subadia menjelaskan bahwa lonjakan mata uang tersebut justru memberikan dampak positif bagi industri perhotelan setempat.

"Dampak dolar itu buat kami di hospitality industry, di hotel itu justru membaik ya sebetulnya. Jadi bisnis yang saat ini terjadi sudah kembali, belum 100% normal, tapi sudah naik ya angka 10%," ujar Saraswati Subadia.

Saraswati Subadia menambahkan bahwa operasional perhotelan tidak terganggu secara signifikan oleh dinamika mata uang asing karena pemenuhan kebutuhan bahan baku sebagian besar mengandalkan pemasok lokal.

"Banyak kita harus perhatikan adalah dari sisi energi. Nah, itu yang memang saat ini kita harus lebih memperhatikan, pasokannya dari mana," kata Saraswati Subadia.

Pihak manajemen perhotelan kini lebih fokus mengantisipasi risiko pasokan energi, termasuk kesiapan listrik, ketersediaan generator set (genset), hingga kepastian stok bahan bakar solar.

"Dari sisi kompetitif tentunya Bali, Pulau Bali itu masih sangat seksi untuk menjadi destinasi kompetisi khususnya di bidang pariwisata," tutur Saraswati Subadia.

Sementara itu, perwakilan US-ASEAN Business Council (USABC), Angga Antagia menegaskan bahwa dunia usaha selalu adaptif dalam mencari peluang di tengah tantangan ekonomi global dan gangguan rantai pasok.

"Jadi in spite dolar yang yang sedang meroket, kemudian juga mungkin supply terpengaruh secara global, tapi kami meyakini bahwa setiap sektor industri di member USABC selalu menemukan jalan karena Indonesia tidak bisa ditinggalkan begitu aja gitu," kata Angga Antagia.

Menurut Angga Antagia, Indonesia tetap menjadi pasar strategis bagi perusahaan paman sam, bahkan beberapa anggota delegasi tercatat telah menanamkan modalnya di tanah air selama puluhan hingga ratusan tahun.

"Jadi, ini tidak serta merta membuat kemudian kita akan mundur tidak. Tapi mencari peluang apa yang bisa dikembangkan, apa yang bisa dilihat sisi positifnya, dan menavigasi resikonya biar tidak berdampak lebih luas lagi," kata Angga Antagia.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author