WHO Ungkap Keracunan Makanan Picu 1,5 Juta Kematian Setiap Tahun
Keracunan makanan masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat global dengan angka fatalitas yang cukup tinggi. Kontaminasi pada bahan pangan tercatat memicu jutaan kasus penyakit dan korban jiwa di berbagai negara.
Analisis terbaru dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti dikutip dari Detik Food, mengungkap bahwa makanan yang terkontaminasi menyebabkan lebih dari 1,5 juta kematian setiap tahun. Selain itu, fenomena ini juga memicu sekitar 885 juta kasus penyakit di seluruh dunia.
Data tersebut menunjukkan bahwa gangguan kesehatan yang berasal dari makanan tidak hanya disebabkan oleh produk basi atau pengolahan yang kurang higienis. Faktor pemicu utamanya sangat beragam, mulai dari paparan bakteri, parasit, virus, hingga logam berat beracun.
Berdasarkan laporan yang dilansir dari Telegraph UK (05/06/2026), WHO menyatakan bahwa bakteri masih menjadi salah satu penyebab terbesar dalam kasus keracunan makanan.
Pada 2021, sekitar 250 ribu orang meninggal dunia setelah mengonsumsi makanan yang tercemar bakteri berbahaya. Jenis bakteri seperti Campylobacter dan E. coli kerap ditemukan pada daging unggas yang kurang matang, susu mentah, serta buah dan sayuran yang tidak dicuci bersih sebelum dikonsumsi.
Risiko penyebaran mikroorganisme berbahaya ini diperparah oleh kebiasaan mengonsumsi bahan makanan yang tidak dimasak secara sempurna. Daging, unggas, dan produk susu yang tidak melalui proses pengolahan sesuai standar sangat rentan menjadi media perkembangbiakan kuman.
Ancaman Bakteri Listeria dan Kontaminasi Parasit
Selain jenis bakteri di atas, WHO menyoroti ancaman dari bakteri Listeria yang banyak ditemukan pada produk susu tanpa proses pasteurisasi. Meski infeksinya sering kali ringan pada orang dewasa sehat, bakteri ini dapat menimbulkan dampak serius bagi ibu hamil dan bayi baru lahir, termasuk risiko keguguran, bayi lahir mati, hingga infeksi berat.
Di sisi lain, kontaminasi juga dapat dipicu oleh parasit yang mencemari bahan pangan. Organisme ini umumnya ditemukan pada sayuran yang terpapar pupuk berbahan kotoran hewan atau manusia, serta pada daging sapi dan babi yang kurang matang atau disimpan pada suhu yang tidak sesuai.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menjelaskan bahwa keamanan pangan merupakan isu yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari-hari.
"Keamanan pangan bukanlah isu yang abstrak. Ini berkaitan dengan setiap makanan, setiap keluarga, dan setiap hari," ujarnya.
Temuan dari badan kesehatan dunia ini menjadi pengingat penting bahwa perlindungan kesehatan tidak hanya bergantung pada kualitas bahan makanan yang dibeli. Faktor cara penyimpanan, teknik pengolahan, dan menjaga kebersihan selama proses memasak memegang peranan yang sangat krusial. Memastikan makanan matang sempurna dan higienis menjadi langkah sederhana namun efektif untuk menekan risiko keracunan.