Mantan Eksekutif Square Enix Ungkap Alasan Game Baru Sulit Gaet Gamer Muda
Regenerasi komunitas dalam dunia permainan video terus berjalan dinamis, mulai dari bertahannya penggemar lama, pemain yang tidak lagi aktif, hingga hadirnya generasi baru. Namun, salah satu mantan Eksekutif Square Enix mengungkapkan pandangan bahwa kekayaan intelektual (IP) yang dimiliki perusahaan tersebut berpotensi tidak akan pernah dilirik oleh para pemain baru.
Mantan Eksekutif Square Enix, Jacob Navok, membagikan opini mengenai produk perusahaan game tersebut terhadap pasar konsumen muda, seperti dilansir dari Gamebrott. Pandangan ini bermula dari pengamatannya terhadap laporan Variety mengenai kesuksesan film Backrooms yang berhasil memikat penonton usia di bawah 35 tahun.
Berdasarkan fenomena tersebut, Jacob Navok menilai para pemain muda merasa ada hal yang kurang tepat dengan franchise IP milik Square Enix. Ia menyebutkan bahwa generasi baru saat ini sudah sangat akrab dengan platform Roblox yang di dalamnya telah banyak memuat konten kecerdasan buatan (AI).
Kondisi ini berjalan selaras dengan pola kehidupan digital para penonton yang berada di kisaran usia 20 tahun. Generasi ini tumbuh dan berkembang dengan mengonsumsi konten dari pembuat konten video, dengan perbedaan utama berupa keterikatan yang kuat pada platform seperti Roblox.
Jacob Navok memperkuat argumennya dengan mengutip berita lain dari Variety yang menyebutkan bahwa waralaba besar sekelas Star Wars bahkan tidak lebih populer daripada film yang dibuat oleh seorang Youtuber. Fakta ini menunjukkan bahwa sebuah media akan lebih diminati jika figur di baliknya atau produk tersebut memiliki hubungan emosional yang erat dengan audiens.
Pandangan Senada dari Naoki Yoshida
Pendapat yang serupa juga pernah disampaikan oleh Naoki Yoshida terkait ketertarikan pemain muda terhadap seri game Final Fantasy. Naoki Yoshida menilai bahwa generasi baru memang menghadapi kesulitan untuk terhubung dengan waralaba Final Fantasy.
Faktor utama dari kendala tersebut adalah jarak jadwal perilisan antar game yang terhitung cukup lama. Jeda waktu yang panjang ini dinilai dapat menurunkan antusiasme pemain atau bahkan membuat mereka melupakan keberadaan IP tersebut.