Donald Trump Ancam Benjamin Netanyahu Lewat Sang Istri
Presiden Amerika Serikat Donald Trump dilaporkan melayangkan ancaman kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu melalui istrinya, Sara Netanyahu, demi mencegah serangan militer terhadap wilayah pinggiran selatan Beirut, Lebanon.
Klaim tersebut diungkapkan oleh pengusaha Israel, Roni Mani, berdasarkan informasi dari sumber senior Gedung Putih, sebagaimana dilansir dari Detikcom melalui laporan situs berita berbahasa Ibrani, Walla, pada Jumat (5/6/2026).
Mani menyatakan bahwa Trump menghubungi Sara Netanyahu secara langsung untuk mendesak agar rencana aksi militer di ibu kota Lebanon tersebut segera dibatalkan.
"Informasi eksklusif saya, melalui sumber saya di Gedung Putih, mengonfirmasi bahwa Trump menghubungi Sara Netanyahu dan menuntut agar dia menjaga Netanyahu atau dia akan memenjarakannya, mengusir Yair dari Amerika Serikat, dan membekukan aset mereka di sana," klaim Mani, merujuk pada putra Netanyahu yang menetap di Florida.
Selain ancaman tersebut, Mani menambahkan bahwa Trump menawarkan suaka politik di Amerika Serikat bagi keluarga Netanyahu apabila perdana menteri Israel itu mengalami kekalahan dalam pemilihan umum mendatang.
Sara Netanyahu kemudian mengonfrontasi suaminya mengenai ancaman tersebut, yang berujung pada keputusan Benjamin Netanyahu menghubungi Trump untuk menyetujui pembatalan serangan.
Hingga saat ini, belum ada konfirmasi independen maupun tanggapan resmi dari pihak Gedung Putih, keluarga Netanyahu, ataupun pejabat pemerintah Israel terkait klaim yang disampaikan oleh Mani.
Laporan ini muncul di tengah mencuatnya kabar ketegangan antara Trump dan Netanyahu mengenai operasi militer Israel di Lebanon, termasuk laporan media Amerika Serikat, Axios, mengenai perselisihan via telepon pada Senin (1/6).
"Anda benar-benar gila. Jika bukan karena saya, Anda pasti sudah dipenjara. Saya menyelamatkan Anda. Semua orang membenci Anda sekarang, dan semua orang membenci Israel karena tindakan Anda," kata Trump kepada Netanyahu, sebagaimana diungkapkan para pejabat senior Gedung Putih yang dikutip Axios.