BMKG Prediksi Dinamika Atmosfer Picu Banjir dan Cuaca Ekstrem
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memproyeksikan dinamika atmosfer seperti gelombang Rossby Ekuator dan kemunculan fenomena El Nino memicu potensi bencana banjir bandang sekaligus cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Indonesia pada awal Juni 2026.
Sistem pemantauan BMKG mencatat baru sekitar 24 persen hingga 28,6 persen atau setara 200 dari total 699 Zona Musim (ZOM) di tanah air yang telah resmi memasuki masa kemarau hingga akhir Mei lalu. Sisanya diprediksi menyusul pada bulan Juni secara bertahap akibat karakter cuaca yang bervariasi.
Kondisi iklim yang dinamis ini menyebabkan beberapa daerah mengalami hujan intensitas sedang hingga sangat lebat, sementara wilayah lain menghadapi penurunan curah hujan yang memicu kebakaran hutan dan lahan seperti di Sumatra dan Nusa Tenggara Barat.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menjelaskan bahwa kondisi cuaca pada masa peralihan menuju musim kemarau saat ini bersifat sangat kompleks.
"Ada juga terkait dengan gelombang Rossby ekuator, gelombang Kelvin, MJO (Madden-Julian Oscillation), dan sebagainya yang dapat menimbulkan variasi harian," kata Teuku Faisal Fathani, Kepala BMKG.
Fluktuasi harian tersebut berpadu dengan faktor lokal dan aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan menjadi perumahan serta pendangkalan sungai yang meningkatkan kerentanan banjir. Di sisi lain, peningkatan intensitas El Nino diproyeksikan melonjak dari kategori lemah menjadi moderat pada triwulan ketiga tahun ini.
Prakirawan BMKG Nur M. Rizky memaparkan bahwa pada awal Juni angin timuran mulai aktif dan memengaruhi kondisi atmosfer Indonesia.
“Memasuki awal Juni, angin timuran diprediksi aktif dengan belokan angin di sekitar wilayah Ekuator. Beberapa gelombang atmosfer juga diprediksi aktif di wilayah Indonesia selama Dasarian 1 Juni 2026,” jelas Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.
Pergerakan massa udara ini dibarengi dengan berkurangnya tutupan awan di sebagian besar wilayah Indonesia jika dibandingkan dengan kondisi klimatologis normalnya.
“Sementara tutupan awan di sebagian besar wilayah Indonesia diprediksi lebih sedikit dibandingkan kondisi klimatologis normalnya,” kata Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.
Hangatnya suhu permukaan laut saat ini juga mengindikasikan peluang penguatan fenomena El Nino yang melewati batas netral.
“Nilai indeks Nino 3.4 menunjukkan kondisi hangat yang melewati batas netral. BMKG memprediksi adanya peluang El Nino,” ujar Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.
Meski transisi kemarau berjalan, BMKG memastikan tidak ada wilayah yang masuk klasifikasi "Awas" untuk kekeringan meteorologis pada dasarian ini.
“Kondisi ini menunjukkan bahwa transisi menuju musim kemarau masih berlangsung secara bertahap, dengan karakter cuaca yang berbeda-beda di setiap wilayah akibat pengaruh dinamika atmosfer yang masih aktif,” pungkas Nur M. Rizky, Prakirawan BMKG.
Sementara itu, kondisi lokal di Kota Semarang, Jawa Tengah, diprediksi mengalami puncak kemarau pada Agustus 2026 dengan potensi lonjakan suhu udara yang menyengat.
Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah Goeroeh Tjiptanto mengungkapkan bahwa fenomena kemarau tahun ini akan terasa lebih menyengat di wilayah tersebut.
"Hal ini berkaitan dengan dibarengin nya kejadian El Nino yang mulai terpantau indeksnya di Juni 2026 ini," kata Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah.
Suhu udara di Kota Semarang diproyeksikan menyentuh angka 37 hingga 38 derajat celsius yang disertai dengan tingkat kelembapan udara yang cukup rendah.
"Namun demikian bagian tengah hingga barat dan selatan Semarang terasa belum memasuki musim kemarau meskipun secara statistika sudah, karena hujan kerap kali mengguyur meski dalam intensitas ringan," ungkap Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah.
Karakteristik cuaca yang dinamis di Jawa Tengah menyebabkan beberapa daerah sudah masuk musim kemarau sementara wilayah lainnya belum seragam.
"Sehingga beberapa daerah di Jawa Tengah ada yang sudah masuk musim kemarau dan daerah lainnya masih belum," lanjut Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah.
Lonjakan suhu ekstrem tersebut dipastikan tidak akan melanda sepanjang hari sehingga masyarakat diimbau tidak panik berlebihan.
"Artinya tidak sepanjang hari lho," kata Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah.
BMKG menyarankan warga untuk menjaga kecukupan cairan tubuh dan mengurangi aktivitas luar ruangan pada jam-jam dengan intensitas radiasi ultraviolet tertinggi.
"Hindari aktivitas di luar ruangan terutama pukul 13.00-14.00 WIB sebelum dan setelah matahari di atas kepala karena intensitas radiasinya," pungkas Goeroeh Tjiptanto, Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jawa Tengah.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sebanyak 747 jiwa mengungsi akibat banjir di Kota Manado, sedangkan total lahan terbakar di Riau mencapai 3.474,74 hektare hingga awal Juni 2026.