Kementerian ESDM Jajaki Impor 100 Ribu Tabung CNG 3 Kg dari China
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) tengah mempertimbangkan rencana impor sekitar 100.000 unit tabung gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG) berukuran 3 kilogram dari China untuk kebutuhan proses pengujian, Rabu (20/5/2026).
Rencana tersebut dilansir dari Bloomberg Technoz, di mana pengadaan tabung riil dalam jumlah minimal diperlukan guna menguji kelayakan sebelum skema bisnis resmi diterapkan di masyarakat.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas (Dirjen Migas) Kementerian ESDM Laode Sulaeman memastikan bahwa pelaksanaan impor tersebut bakal diserahkan kepada pihak badan usaha calon pengelola program.
"Jadi, kita sekarang fokus kepada proses pengujian. Proses pengujian ini butuh tabung yang riil. Untuk bisa kita dapatkan tabung yang riil, minimum kita harus pesan 100.000," kata Laode kepada awak media, di sela IPA Convex 2026, Rabu (20/5/2026).
Pihak regulator saat ini masih enggan merinci besaran nilai investasi dari impor massal tersebut karena formulasi bisnis masih dimatangkan atas arahan Menteri ESDM.
"Akan tetapi, ini yang lakukan calon badan usahanya ya, bukan kita. Mereka yang sedang berproses sekarang," tegas Laode.
Penyusunan skema tata niaga gas tabung volume kecil ini juga melibatkan Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara demi mencapai efisiensi program.
"Nanti, nanti. Jadi, Pak Menteri masih menugaskan kami untuk menyiapkan skema bisnisnya seperti apa," ujar Laode.
Sebelumnya, kepastian mengenai lokasi pelaksanaan uji teknis tabung gas bertekanan tinggi ini telah disampaikan oleh pimpinan kementerian di Istana Negara, Senin (18/5/2026).
"Ada dua. Satu, karena pabriknya itu ada di China, dan yang kedua adalah kita akan melakukan di Indonesia, ya," ungkap Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Pemerintah mencatat komoditas CNG dengan volume kemasan yang lebih besar sebetulnya sudah lama beroperasi secara komersial di sektor pariwisata serta program makan bergizi.
"Di hotel-hotel, restoran, di MBG itu [CNG 12 dan 20 kg] sudah jalan, tetapi kan kita lagi melakukan uji coba terhadap tabung yang 3 kilogram untuk rakyat," tambahnya.
Fokus utama pengujian ditekankan pada aspek keselamatan karena karakteristik CNG memiliki tingkat tekanan penyimpanan yang jauh lebih masif dibandingkan dengan LPG atau LNG.
Berdasarkan data Ditjen Migas, CNG memiliki tekanan operasional berkisar antara 200 hingga 250 bar (3.000—3.600 psi), sementara LPG rumah tangga hanya berada pada tekanan 5 hingga 10 bar, dan LNG berkisar antara 2 hingga 10 bar.
Guna mengantisipasi tekanan tinggi tersebut, Kementerian ESDM sedang mengkaji penggunaan tabung tipe 4 berbahan plastik polimer yang diperkuat dengan lapisan komposit serat karbon serta fiberglass.
Proses pengembangan wadah pengaman ini diklaim membutuhkan waktu sekitar tiga bulan sebelum diproduksi secara massal untuk masyarakat luas tanpa perlu melakukan penggantian atau modifikasi pada kompor LPG yang sudah ada.
Saat ini terdapat 53 badan usaha niaga CNG di Indonesia, termasuk PT Gagas Energi Indonesia selaku anak usaha PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) yang mengoperasikan 14 SPBG di 7 provinsi untuk melayani kendaraan dan sektor industri.