Goldman Sachs Naikkan Target Indeks Pasar Negara Berkembang
Goldman Sachs menaikkan target 12 bulan untuk MSCI Emerging Markets Index menjadi 2.000 dari angka sebelumnya sebesar 1.850 akibat lonjakan pertumbuhan laba yang dipicu teknologi kecerdasan buatan (AI) pada Kamis (4/6/2026).
Target baru untuk indeks acuan pasar negara berkembang tersebut menunjukkan potensi kenaikan hampir 12 persen dari posisi penutupan terakhir yang berada di level 1.787,88.
Kenaikan indeks ini ditopang oleh performa kuat bursa saham di kawasan Asia Utara, khususnya Korea Selatan dan Taiwan yang mencatat pertumbuhan sebesar 9 persen pada Mei, melampaui indeks S&P 500 yang tumbuh 5 persen.
Peningkatan performa pasar di dua negara tersebut dipicu oleh tingginya permintaan terhadap teknologi kecerdasan buatan di pasar global.
"We think the earnings-driven rally can continue given a longer up-cycle and leading to further upgrades in our earnings expectations and index targets in Korea and Taiwan," kata Goldman Sachs seperti dikutip dari Zawya.com.
Laporan dari Goldman Sachs tersebut menjelaskan bahwa reli saham yang didorong oleh laba berpotensi terus berlanjut berkat siklus kenaikan yang lebih panjang sehingga memicu peningkatan ekspektasi pendapatan di Korea Selatan dan Taiwan.
Lonjakan permintaan chip memori kelas atas juga memicu krisis pasokan serta mengerek harga jual produk teknologi tersebut di pasar internasional.
Kondisi pasar ini turut mendongkrak valuasi dua perusahaan besar asal Korea Selatan, yaitu SK Hynix dan Samsung Electronics, hingga masing-masing melampaui angka US$ 1 triliun atau sekitar Rp 17.975 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.980 per dolar AS pada bulan lalu.
Melalui data terbaru ini, Goldman Sachs merevisi prediksi pertumbuhan laba per saham (EPS) indeks menjadi 55 persen untuk tahun ini dari perkiraan sebelumnya yang berada di angka 45 persen.
Sementara untuk tahun 2027, perusahaan pialang Wall Street tersebut memperkirakan pertumbuhan laba per saham akan mencapai 20 persen, naik tipis dari estimasi terdahulu sebesar 19 persen.
Namun, apabila wilayah Asia Utara yang menyumbang separuh dari total bobot indeks tidak dihitung, Goldman Sachs memperkirakan pertumbuhan laba per saham hanya sebesar 11 persen untuk tahun 2026 dan 2027.
Di luar sektor yang didominasi industri teknologi, pasar yang sensitif terhadap pergerakan suku bunga seperti Afrika Selatan, Brasil, dan Uni Emirat Arab (UEA) diproyeksikan dapat menunjukkan kinerja lebih baik.
Optimisme pasar non-teknologi tersebut didorong oleh munculnya sentimen positif seputar potensi kesepakatan politik antara Amerika Serikat dan Iran.
"stand out" kata Goldman Sachs mengenai performa mata uang rand Afrika Selatan, won Korea, zloty Polandia, dan peso Chili apabila konflik geopolitik tersebut berhasil diselesaikan.
Pihak Goldman Sachs menambahkan bahwa penyelesaian konflik tersebut juga dapat membuka jalan pemulihan bagi instrumen obligasi dengan mata uang lokal di negara-negara terkait.