Zidane Iqbal Cetak Sejarah Pakistan di Piala Dunia 2026
Gelandang tim nasional Irak, Zidane Iqbal, bersiap mengukir sejarah sebagai pemain keturunan Pakistan pertama yang tampil di Piala Dunia pria saat menghadapi Norwegia pada laga pembuka grup di Stadion Boston, Foxborough, Selasa, 16 Juni 2026.
Pemain berusia 23 tahun milik klub FC Utrecht tersebut lahir di Manchester dari ayah warga Pakistan dan ibu asal Irak. Irak berhasil lolos setelah melalui kualifikasi berat sebanyak 21 pertandingan untuk mengakhiri penantian 40 tahun sejak Piala Dunia 1986.
Mantan pemain akademi Manchester United ini membawa identitas ganda dengan memasang bendera Irak di sepatu kiri dan bendera Pakistan di sepatu kanan. Iqbal mengaku terkejut saat mengetahui catatan sejarah atas namanya melalui unggahan media sosial.
"To be honest, I didn't even know it myself," kata Zidane Iqbal kepada BBC Sport.
Iqbal kemudian langsung meneruskan informasi tersebut kepada sang ayah yang menjadi figur paling ia hormati dalam mendukung karier sepak bola profesionalnya.
"I followed the account that posted it [that he was the first player of Pakistani heritage to play at a men's World Cup] and sent it to my dad straight away. I think we were both surprised. When I tried to qualify for the World Cup with Iraq, I didn't think of anything like this," ujar Zidane Iqbal menambahkan.
Pemain yang pernah menjadi orang Asia Selatan Inggris pertama dalam dua dekade di Liga Champions ini menyatakan rasa hormat mendalam bagi garis keturunan ayahnya.
"My dad is Pakistani. He's my father, the man I respect the most in my life, who helped me so much in my career," tutur Zidane Iqbal.
Kakek Iqbal merupakan generasi pertama di Pakistan, sehingga ia sangat menghormati sisi keluarga tersebut meskipun dirinya tumbuh besar di Inggris.
"I play for Iraq, grew up in England, but my dad was born in Pakistan. My grandad was a first-generation there, so I have a lot of respect for that side of my family," ucap Zidane Iqbal.
Terkait keputusan mengenakan simbol kedua negara di sepatunya, Iqbal menjelaskan hal itu dilakukan demi menunjukkan rasa hormat yang setara kepada latar belakang keluarganya.
"I wear the Iraqi flag on my left side and the Pakistani flag on my right side," kata Zidane Iqbal.
Dirinya mengaku tidak bisa memilih salah satu negara ketika orang-orang bertanya tentang keterikatan emosionalnya yang dianggapnya sama penting.
"I think that's because I respect both sides," tutur Zidane Iqbal.
Iqbal membawa identitas multi-kultural tersebut dengan penuh kebanggaan di atas lapangan hijau.
"When people ask me what I feel more connected to, I can't answer. For me, they're both equal. It's about respect and something I carry with a lot of pride," ungkap Zidane Iqbal.
Melalui pencapaian historis ini, Iqbal menyampaikan harapan agar mampu memotivasi anak-anak muda dari berbagai latar belakang untuk berani mengejar mimpi.
"I'm still young, but I'll be the first Pakistani player to play in the World Cup, so hopefully a few kids that aspire to be a footballer will look at that and believe they can do it too, because football is a hard journey," kata Zidane Iqbal.
Ia mengingatkan bahwa jalur menjadi pesepak bola profesional menuntut kerja keras serta komitmen yang sangat tinggi.
"I think if you ask any professional, it's not easy at all and everyone has their ups and downs," ucap Zidane Iqbal.
Iqbal meyakini anak-anak dari komunitas Asia Selatan maupun latar belakang agama apa pun bisa menembus level tertinggi sepak bola dunia.
"A lot of commitment and hard work is needed. So hopefully when kids see people trying to be a professional footballer, or me, they see those of South Asian heritage or even of any heritage, that you can make it from any background, any area, wherever you're from, any religion. Hopefully they see that, and it inspires them," jelas Zidane Iqbal.
Meskipun memilih mewakili Irak, Iqbal menegaskan pilihan tersebut tidak mengurangi rasa bangganya sebagai orang Manchester dan Pakistan.
"I've grown up in Manchester my whole life so I'd say I'm a proud Mancunian, but I'm also proud of my heritage as well. I'm proud of being English, Pakistani and Iraqi," kata Iqbal seperti dilaporkan Geo TV dari situs resmi Manchester United.
Bagi Iqbal, kesempatan membela Irak merupakan langkah karier yang tepat dan sebuah kehormatan besar.
"Me choosing to play for Iraq doesn't mean I'm not a proud Mancunian or a proud Pakistani. I just feel this is the right opportunity for me as a player, the right step in my career and an honour, but it doesn't take away the fact that I'm a Mancunian and a Pakistani as well." ujar Iqbal.
Iqbal juga membagikan pandangannya mengenai peluang Irak yang berada di grup berat bersama Prancis, Senegal, dan Norwegia.
"I think we've got a free shot," kata Iqbal menganalisis peluang Irak.
Meskipun baru melewati musim mengecewakan di Utrecht akibat cedera lutut dan tidak masuk rencana mantan pelatih Ron Jans, Iqbal tetap bertekad menginspirasi generasi baru lewat Piala Dunia.
"Pemain-pemain baru akan mengagumi kami karena kami telah melakukannya, dan begitulah cara meneruskannya dari generasi ke generasi. Semoga lolos ke Piala Dunia menjadi hal yang biasa di Irak." ujar Iqbal kepada The Athletic.
Iqbal berharap anak-anak di Irak, Asia, dan Arab yang menontonnya bisa menyadari bahwa mereka juga mampu mencapai panggung tertinggi.
"Banyak anak-anak—orang Irak, Asia, Arab—menonton Piala Dunia dan berpikir: bisakah saya melakukannya juga? Saya harap mereka melihat saya dan menyadari: itu bisa. Itu benar-benar mungkin." kata Iqbal mengenang masa kecilnya.
Iqbal merasa kehadiran sosok yang memiliki kemiripan latar belakang, penampilan, bahasa, hingga makanan di rumah akan lebih menyentuh hati anak-anak tersebut.
"Saat saya tumbuh besar, saya tidak punya siapa pun yang benar-benar bisa saya jadikan panutan," lanjutnya.
Iqbal menambahkan bahwa penonton bisa lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan orang tersebut.
"Jika Anda melihat seseorang yang mirip dengan Anda, memiliki potongan rambut yang sama, berpakaian seperti Anda, berbicara bahasa yang sama, dan kemungkinan besar makan makanan yang sama di rumah, hal itu tentu lebih menyentuh hati. Anda bisa lebih mudah mengidentifikasikan diri dengan orang tersebut." ucap Iqbal.
Menghadapi tim besar seperti Prancis di Grup I, Iqbal mengaku tidak gentar sama sekali.
"Prancis punya segalanya untuk dipertaruhkan. Kami masuk tanpa tekanan. Mereka yang harus mengalahkan kami." pungkas Iqbal.
Dukungan besar kini mengalir dari pencinta sepak bola di Pakistan yang saat ini berada di peringkat 198 FIFA. Pengelola akun media sosial Pakistani Talents, Ahmed Shahzad, memaparkan situasi tersebut.
"Every Pakistani football fan knows about Zidane Iqbal," kata Ahmed Shahzad kepada BBC Sport.
Menurut Shahzad, representasi pemain Pakistan di panggung sepak bola global tertinggi seperti Piala Dunia sangat minim sepanjang sejarah.
"Historically, there's been very little Pakistani representation at the top level of football, especially on the global stage like the World Cup – the highest global stage," urai Ahmed Shahzad.
Kehadiran Iqbal membuat impian berkarier di sepak bola internasional menjadi lebih realistis bagi diaspora maupun warga lokal Pakistan.
"And that is a big inspiration for a lot of young Pakistanis, even locally and in the diaspora – the British Pakistanis – and seeing someone openly embrace their identity, as Zidane Iqbal does about competing at the highest level, makes football feel a lot more believable for us of Pakistani backgrounds who play football and want to make it in football," tambah Ahmed Shahzad.
Fenomena ini membuat publik Pakistan memberikan dukungan penuh kepada timnas Irak selama turnamen akbar berlangsung.
"I see a lot of people saying that Pakistan now has a nation to support at the World Cup, and they won't be just backing Zidane Iqbal, they will be backing Iraq to go as far as they can in that tournament," kata Ahmed Shahzad.
Dampak psikologis dari perjalanan karier gelandang Irak tersebut juga dirasakan langsung oleh Faheem, seorang pemain tingkat klub dari wilayah Lembah Hunza.
"Zidane’s story has been really inspiring for us all," kata Faheem kepada Muslim Network TV.
Keberhasilan tersebut dirasa telah memperluas batasan ambisi para pesepak bola lokal di Pakistan.
"We feel that we too might make it some day," tambah Faheem.
Namun, kondisi ini memicu kritik dari Ibrahim, seorang pesepak bola klub asal Karachi, terkait minimnya infrastruktur sepak bola domestik Pakistan.
"I’m happy for Zidane," ungkap Ibrahim.
Ibrahim menilai talenta lokal sulit berkembang di wadah sendiri jika melihat kasus keberhasilan Iqbal.
"But his case also shows that if you want to make it, you have to represent some other team." tambah Ibrahim.
Publik domestik tetap berharap agar Pakistan bisa tampil di panggung besar dengan warna seragam mereka sendiri suatu hari nanti.
"We want to see players in our own colours. We want to see Pakistan on the big stage." kata Ibrahim.
Mantan asisten pelatih Manchester United, René Meulensteen, dinilai Iqbal turut membuat perbedaan besar dalam membantu kualifikasi Irak melalui pengalamannya bersama Australia.
"Saya hanya mengucapkan terima kasih kepadanya," katanya.
Meulensteen membagikan pengalamannya agar Irak mampu bersaing di fase grup melawan Norwegia, Prancis, dan Senegal.
"Dia telah membagikan pengalamannya dari kualifikasi Australia kepada kami." kata Iqbal.
Irak dijadwalkan melakoni pertandingan persahabatan melawan Venezuela terlebih dahulu sebelum menghadapi laga perdana grup melawan Norwegia.