Yum Brands Jual Pizza Hut Senilai Rp 47,8 Triliun
Pemilik jaringan restoran cepat saji Yum Brands mengumumkan penjualan Pizza Hut senilai 2,7 miliar dolar AS atau setara Rp 47,87 triliun pada Selasa (16/6/2026). Langkah divestasi ini diambil setelah korporasi menghadapi penurunan penjualan akibat ketatnya persaingan bisnis kuliner.
Dilansir dari finance.detik.com dan akses.co.id, transaksi pelepasan aset ini terbagi menjadi dua kesepakatan terpisah. Perusahaan ekuitas swasta LongRange Capital mengakuisisi bisnis global Pizza Hut di luar Tiongkok senilai 1,5 miliar dolar AS, sedangkan Yum China Holdings Inc. membeli operasional di Tiongkok daratan senilai 1,2 miliar dolar AS.
Kondisi keuangan Pizza Hut terus melemah dengan penurunan penjualan domestik di Amerika Serikat yang mencapai 8,2 persen pada tahun lalu. Padahal, pasar Amerika Serikat menyumbang sekitar 40 persen dari total pendapatan internasionalnya, sementara wilayah Tiongkok daratan berkontribusi sebesar 19 persen dari penjualan global.
Penurunan performa ini dipicu oleh kompetisi agresif dari jaringan lain seperti Domino's, Papa John's, dan Little Caesars yang gencar menawarkan diskon di tengah inflasi tinggi. Selain itu, Pizza Hut dinilai kesulitan bersaing dengan inovasi pengiriman digital kompetitor dan layanan pesan-antar pihak ketiga.
"Di bawah LongRange dan Yum China, Pizza Hut akan berada di posisi yang baik untuk pertumbuhan di masa depan dengan kepemilikan yang membawa keahlian mendalam di industri restoran," kata Kepala Eksekutif Yum! Brands, Chris Turner dikutip dari BBC, Rabu (17/6/2026).
Manajemen Yum Brands menjelaskan bahwa pelepasan ini dilakukan agar korporasi dapat memfokuskan sumber daya sepenuhnya untuk mengembangkan KFC dan Taco Bell yang memiliki momentum pertumbuhan internasional jauh lebih kuat. Transaksi restrukturisasi ini diproyeksikan akan selesai pada kuartal ketiga tahun 2026 setelah mendapatkan persetujuan regulasi.
"Pizza Hut adalah salah satu merek restoran paling ikonik di dunia dan kami proud dengan peran penting yang telah dimainkannya dalam sejarah Yum!," kata Turner.
Turner menambahkan bahwa formula bisnis Taco Bell berhasil memberikan apa yang dibutuhkan konsumen saat ini, terlihat dari pertumbuhan penjualan toko yang sama sebesar 18 persen dalam dua tahun terakhir. Yum Brands berencana melipatgandakan gerai Taco Bell di pasar internasional dari jumlah saat ini yang baru mencapai sekitar 1.200 restoran.
"Ini memposisikan Pizza Hut untuk pertumbuhan yang lebih besar ke depan, dan bagi Yum, ini memungkinkan kami untuk lebih fokus pada ketiga merek tersebut," ujar Chris Turner, CEO Yum Brands.
Pihak manajemen juga menegaskan pentingnya peningkatan standar pelayanan dan integrasi ekosistem digital mutakhir sebagai pilar utama dalam strategi jangka panjang perusahaan.
"Tentu saja, dos terbesar di sana adalah Taco Bell dan KFC. Mereka memiliki peluang ruang putih yang luar biasa di depan mereka," kata Chris Turner, CEO Yum Brands.
Peralihan kepemilikan ini menandai babak baru bagi jaringan restoran yang didirikan oleh dua bersaudara di Wichita, Kansas pada tahun 1958 tersebut. Sebelum dilepas oleh Yum Brands, Pizza Hut sempat diakuisisi oleh PepsiCo pada tahun 1977 sebelum akhirnya dipisahkan menjadi Yum! Brands pada tahun 1997.
"Formula ajaib Taco Bell berhasil dan memberikan apa yang dibutuhkan konsumen dalam lingkungan ini," kata Chris Turner, CEO Yum Brands.
Rencana penjualan Pizza Hut sebenarnya sudah mulai dijajaki oleh Yum Brands sejak November 2025 setelah melihat penurunan kinerja gerai di Amerika Serikat selama beberapa kuartal berturut-turut.
"Harus ada ribuan dan ribuan dan ribuan Taco Bell di seluruh dunia suatu hari nanti," kata Chris Turner, CEO Yum Brands.
Di sisi lain, pengamat pasar menilai keputusan pelepasan ini sudah tidak bisa dihindari karena Yum Brands enggan mengalokasikan investasi masif yang dibutuhkan untuk memulihkan divisi pizza tersebut.
"Kita berbicara tentang meningkatkan standar, berjuang untuk konsumen masa depan, mempercepat ekonomi restoran, dan mencapai potensi penuh dari ekosistem teknologi kami," ujar Chris Turner, CEO Yum Brands.
Direktur Pelaksana GlobalData menilai bahwa langkah pembenahan internal yang dilakukan manajemen sebelumnya terbukti belum mampu mengembalikan performa positif perusahaan.
"Pizza Hut telah lama menjadi mata rantai terlemah dalam portofolio Yum," tulis Neil Saunders, Direktur Pelaksana GlobalData.
Saunders menambahkan bahwa upaya penutupan ratusan gerai yang berkinerja buruk di Amerika Serikat juga gagal memicu pertumbuhan kembali.
"Meskipun ada upaya untuk merevitalisasi merek dan menutup lokasi yang berkinerja buruk, menjadi semakin jelas bahwa mendorong divisi ini kembali ke pertumbuhan akan membutuhkan tingkat investasi dan kesabaran yang tidak siap dilakukan oleh Yum," tambah Neil Saunders, Direktur Pelaksana GlobalData.
Sementara itu, pihak pembeli menyatakan optimisme tinggi terhadap potensi pasar dan basis pelanggan setia yang dimiliki oleh jaringan pizza legendaris tersebut.
"Pizza Hut adalah merek global tercinta dengan warisan yang kaya dan basis pelanggan setia yang dapat ditandingi oleh beberapa merek saja," kata Bob Berlin, Pendiri LongRange Capital.