Youtuber Tasyi Athasyia Curhat Konten Makanan Jumbo Sepi Penonton

Share

Tasyi Athasyia, seorang Youtuber dan influencer yang dikenal dengan konten makanan berukuran jumbo, mengungkapkan rasa kelelahan akibat kurangnya perhatian terhadap konten yang dibuat dengan banyak usaha.

Konten makanan versi jumbo yang biasa disebut 'megalodon' ini membutuhkan persiapan dan proses yang tidak mudah. Dalam beberapa unggahan di balik layar, Tasyi sering mengalami kegagalan pada percobaan pertama.

Belakangan, dia mengaku mulai kehilangan semangat karena jumlah penonton yang didapat tidak sebanding dengan usaha yang telah dilakukan, bahkan beberapa video hanya berhasil meraih sekitar 100 ribu penonton di YouTube.

Curhatan ini bermula dari komentar netizen di Threads yang menilai usaha Tasyi dalam membuat konten lebih besar dibandingkan keuntungan dari jumlah penonton atau likes di platform TikTok.

"Orang main TikTok buat nyari keuntungan, dia bener-bener buat nyalurin hobinya," ujar salah satu netizen.

Menanggapi komentar tersebut, Tasyi mengungkapkan, "Baca komen ini di TikTok, REAL banget. PLEASE SEMANGATIN AKU DONG GUYS. Sampe kadang udah gak tau harus berkreasi apa lagi.

Effort segini view di TikTok cuma 100 ribuan. Bukannya gak bersyukur cuma kadang kecil hati saja, apalagi konten aku mostly bukan endorse."

Dia juga menjelaskan bahwa tujuan mengunggah konten adalah agar karya yang dibuat dapat dinikmati lebih banyak orang, namun tren konten saat ini membuat proses dengan peralatan lengkap dan niat yang serius terasa lebih berat.

Contoh konten yang tengah dibahas adalah "Pyramisu Megalodon," tiramisu jumbo berbentuk piramida yang baru-baru ini diunggah. Proses pembuatannya menghabiskan banyak biaya dan tenaga.

Tasyi menceritakan bahwa ia harus membuat cetakan berbentuk piramida seharga Rp5 juta dan menyewa truk freezer. Bahkan, sebagian tembok di rumahnya harus dirubuhkan agar makanan besar tersebut bisa dilewati.

Total modal bahan yang dikeluarkan mencapai lebih dari Rp17 juta.

Untuk membuat tiramisu tersebut, Tasyi mencampur bahan seperti kopi, air, bubuk dark chocolate, dan air gula. Whipped cream juga dibuat sehari sebelumnya dengan berat lebih dari 30 kilogram.

Proses penyusunan bahan ke dalam cetakan dilakukan secara bertahap dan memakan waktu sekitar enam jam. Setelah itu, tiramisu dibekukan di dalam truk freezer selama enam jam sebelum dikeluarkan keesokan harinya.

Setelah dikeluarkan dari cetakan, tiramisu ditaburi remahan biskuit dan bubuk kakao agar tampilannya menyerupai tiramisu asli.

Meski berukuran besar, Tasyi memastikan rasa tiramisu tetap enak dan tidak terbuang sia-sia karena hasil akhirnya dibagikan ke panti asuhan sebanyak 300 porsi.

Respons dari netizen di berbagai platform mendukung konsistensi dan kreativitas Tasyi dalam berkarya. Mereka menilai usaha dan niat baiknya layak mendapatkan apresiasi, terutama karena konten yang dibuat juga menjadi hiburan bagi banyak orang.

"Dia memang konsisten dan perfectionist banget sama kontennya, semua makanan megalodon yang dia bikin juga buat dibagi-bagi," ujar seorang netizen.

Netizen lain menambahkan, "Dia gak merepotkan kita, yang dia rusak juga rumah dia sendiri, gak merugikan siapapun, jadi ya biarkan saja dia berkreasi, toh niatnya juga bikin hiburan dan tontonan untuk kita."

Menurut pendapat sebagian netizen, kreativitas dalam membuat konten tidak memiliki batas selama tidak menimbulkan pemborosan, sehingga karya Tasyi dianggap positif.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
yoga-prasetyo-nugroho
Author