William Saliba Tahan Cedera Punggung demi Bela Timnas Prancis

Share

Bek tengah tim nasional Prancis William Saliba menyatakan kesiapannya untuk tetap bertarung membela negaranya pada Piala Dunia 2026 meskipun harus menahan rasa sakit akibat mengalami cedera punggung.

Kondisi kebugaran pemain Arsenal tersebut sempat memicu kekhawatiran menjelang laga kedua fase grup melawan Irak, namun pelatih Didier Deschamps menegaskan bahwa sang pemain siap diturunkan untuk memperkuat lini pertahanan Les Bleus.

Prancis yang diunggulkan oleh superkomputer Opta sebesar 15 persen untuk menjuarai turnamen ini, membidik kemenangan demi menjaga rekor selalu memenangkan dua laga awal fase grup dalam tiga edisi Piala Dunia terakhir.

"Piala Dunia hanya datang sekali dalam empat tahun. Karena itu, Anda harus tetap berjuang dan menahan rasa sakit jika diperlukan," kata William Saliba, Bek Arsenal.

Saliba menambahkan bahwa dirinya menyadari situasi kebugarannya belum mencapai level maksimal, namun ia menolak menjadikannya alasan untuk tidak tampil optimal di lapangan.

"Saya memang belum berada dalam kondisi terbaik, tetapi banyak pemain lain yang juga tidak 100 persen fit. Jadi saya tidak ingin mencari alasan," tambahnya.

Ambisi besar juga diusung oleh Saliba yang termotivasi oleh kegagalan Prancis di final Piala Dunia empat tahun lalu, saat dirinya hanya menjadi penghangat bangku cadangan.

"I ingin bertemu Argentina di final. Ketika ada tim yang mengalahkan kami seperti mereka di final, kami tentu ingin menghadapi mereka lagi dan membalas dendam," kata William Saliba kepada GQ.

Meskipun namanya kini sejajar dengan deretan bek elit dunia, pemain kelahiran Bondy ini tetap bersikap rendah hati dan memilih memimpin melalui aksi nyata di atas lapangan.

"Saya memang bukan bintang seperti Mbappe atau Dembele, tapi saya salah satu yang terbaik di posisi saya. Saya juga bukan seseorang yang akan berbicara di ruang ganti, tapi sebagai bek saya harus banyak berbicara di atas lapangan," jelasnya.

Saliba juga merefleksikan bahwa perjalanannya untuk mencapai level tertinggi tidaklah mudah, termasuk saat ia sempat terlempar ke tim Arsenal U-23 pada akhir tahun 2020 akibat duka mendalam setelah kepergian ibunya.

"Sepak bola adalah olahraga tim. Saya masih belum memenangkan trofi besar, dan ketika saya mendapatkannya, saya akan lebih baik lagi," kata pungkasnya.

Di level klub, Saliba yang baru saja memenangkan gelar Liga Inggris musim 2025/2026 bersama Arsenal menargetkan untuk terus meraih minimal satu trofi setiap musim demi mengukir status sebagai legenda klub.

"I’m shifting into a mindset where, every year from now on, we have to win at least one trophy," ujar William Saliba, Bek Arsenal.

Mantan pemain Saint-Étienne ini juga mengingatkan rekan-rekan setimnya untuk langsung fokus bersiap menghadapi kompetisi baru, termasuk laga Community Shield melawan Manchester City pada Agustus mendatang.

"If you want to be a legend, you have to win several times," kata William Saliba.

Pemain bernomor punggung dua ini menegaskan bahwa sejarah besar di Arsenal hanya bisa terwujud jika tim mampu membangun era kejayaan yang konsisten.

"The worst thing would be to stop and savor the moment. It’s fantastic, we won, we celebrated the title. But as soon as the season starts again, we’re back to winning again. There’s no question of stopping here," tutur William Saliba.

Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan pola pikir Saliba yang menolak cepat puas setelah melewati periode adaptasi fisik yang berat di Inggris.

"We’ve made Arsenal history, but I want to become a legend. To do that, we need to create a dynasty, to win again," ucap William Saliba.

Jurnalis L'Équipe melaporkan bahwa proses adaptasi yang sulit pada awal kariernya di London sempat membuatnya dipinjamkan ke OGC Nice demi mengembalikan menit bermain.

"I was really bad, I was never in the group," cetus William Saliba.

Setelah kembali dari masa peminjaman, Saliba bertransformasi menjadi pilar utama pertahanan di bawah instruksi manajer Mikel Arteta.

"I’m someone who prefers to speak only when there’s something to say," ungkap William Saliba.

Meskipun kini diakui secara global, Saliba menilai daftar prestasinya masih minim karena baru mencakup dua gelar Community Shield sebelum akhirnya memenangkan Liga Inggris.

"Those who should speak have won titles and achieved great goals. When you haven’t reached them yet, you shouldn’t talk as much; you should work hard first," sebut William Saliba.

Keberhasilan mempertahankan performa di tingkat tertinggi diakui Saliba sebagai hasil dari kerja keras yang konsisten.

"Trophies are what make people remember you," jelas William Saliba.

Saliba juga menyadari bahwa posisinya sebagai pemain bertahan membuatnya kurang mendapat sorotan dibandingkan para pemain lini depan.

"Football is a team sport. I’m still missing the big titles, and once I’ve got those, it’ll be even better," papar William Saliba.

Ia menganggap kemampuannya saat ini adalah bagian dari takdir yang harus disyukuri sejak masa kecilnya di pinggiran kota Paris.

"I believe I am one of the best defenders in the world," tegas William Saliba.

Saat masih anak-anak, Saliba mengaku lebih sering mengamati para penyerang yang mencetak gol sebelum akhirnya diplot sebagai bek tengah.

"God decided I’d be a centre-back, and I’m very happy with that," kata William Saliba.

Ia mengidentifikasi dirinya bukan sebagai sosok megabintang, melainkan salah satu pemain terbaik yang fokus pada efisiensi tugasnya.

"When you’re a kid, you tend to watch the strikers more — the ones who score, who make the decisive passes; they’re the ones who get you most excited. If I’d been able to, I’d have been a striker and scored 30 goals a season. I’m not a star like Mbappé or Dembélé, but in my position I’m one of the best," urai William Saliba.

Dalam dinamika internal skuad Prancis, ia lebih memilih memberikan komando taktis di lapangan daripada menjadi figur vokal di kamar ganti.

"It’s clear that I’m not someone who’s going to speak up in the locker room like Mike [Maignan] or Kylian [Mbappé]," aku William Saliba.

Prinsip komunikasi intensif tersebut diterapkan Saliba untuk mengatur organisasi pertahanan tim secara menyeluruh sepanjang pertandingan.

"But as a defender, I operate on the principle that you have to talk a lot to your teammates on the pitch, because you see everything. So I try to do that. And then play well and win my duels. That’s how you make your mark on a team," pungkas William Saliba.

Dorongan kuat untuk membalas kekalahan dari Argentina di Qatar juga diungkapkannya kepada media Goal menjelang turnamen tahun ini.

"Argentina. When a team beats you the way they beat us, you want to play them again. You want revenge," tandas William Saliba.

Di sisi lain, laporan French Football Weekly menyebutkan bahwa Saliba terus berupaya meningkatkan level permainannya agar posisinya di skuad utama tidak digantikan oleh pemain lain.

"I’m making progress. The more my level improves, the more I feel it on the pitch," aku Saliba kepada GQ.

Keberhasilan menembus tim utama Arsenal dan tim nasional Prancis diakui sebagai realisasi dari impian masa kecilnya.

"This is where I dreamed of being: a first-team regular at a big club. It’s something I love," sebut Saliba.

Saliba menegaskan bahwa persaingan yang ketat di level tertinggi sepak bola menuntutnya untuk tidak pernah lengah sedikit pun.

"I knew I had the qualities and the talent to be a top-class player, so I fought to get back to Arsenal and show that my place was there. I’m careful not to get complacent. Football moves too fast: if you let up, someone will come and replace you straight away," tegas Saliba.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
gilang-permana-putra
Author