Will Gluck Pangkas Adegan Telanjang di Film One Night Only
Sutradara Will Gluck kembali meluncurkan karya film komedi romantis terbarunya yang berjudul One Night Only. Dikutip dari Detikcom, sinema ini mengusung ide cerita unik tentang kebijakan pemerintah yang melegalkan hubungan seksual pranikah selama satu malam dalam setahun. Gagasan tersebut sering disandingkan dengan konsep waralaba The Purge.
Perbedaannya, fokus jalan ceritaOne Night Only berpusat pada dinamika percintaan ketimbang aksi kriminalitas. Aktris Monica Barbaro memerankan tokoh Allie, seorang calon penyanyi yang kerap menjadi bintang iklan obat-obatan. Sementara lawan mainnya, Callum Turner, berperan sebagai Owen, seorang pemilik kedai pizza yang sedang mengalami krisis hubungan.
Alur cerita mempertemukan keduanya sebagai orang asing di tengah situasi penuh kekacauan selama 12 jam di New York City. Dalam rentang waktu tersebut, mereka melewati malam dengan berbagai pengalaman emosional dan hal baru.
Meskipun mengusung tema cerita dewasa, sang sutradara enggan menyajikan adegan telanjang secara berlebihan. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan perubahan preferensi penonton yang cenderung menghindari adegan seksual di bioskop. Berdasarkan data yang dihimpun selama proses penyuntingan, Will Gluck mengambil langkah untuk memotong sejumlah adegan syuting di jalanan New York. Penyesuaian ini bertujuan untuk menjaga kenyamanan audiens saat menyaksikan alur cerita.
"Setiap kali penonton melihat ketelanjangan atau situasi dewasa di bioskop besar, mereka merasa tidak nyaman. Saya memotong banyak sekali adegan karena manfaatnya tidak sebanding dengan dampak negatifnya. Kami terus melakukan penyuntingan hingga menemukan keseimbangan yang tepat agar penonton tetap terhubung dengan karakter," kata Will Gluck dalam wawancara dengan Variety dikutip detikcom, Sabtu (7/8/2026).
Fokus Cerita dan Strategi Promosi
Terkait berbagai pertanyaan publik mengenai aturan hukum di dunia fiktif filmnya, sang sutradara mengimbau agar penonton tidak terlalu mempermasalahkan detail teknis tersebut. Fokus utama film tetap berada pada perkembangan emosi para karakter. "Para pemain datang ke acara bincang-bincang dan menghabiskan 80 persen waktu mereka hanya untuk menjelaskan aturan dunia di film ini, padahal bukan itu inti ceritanya.
Kita harus membiarkan orang-orang melihatnya sendiri. Itulah alat terbaik yang kami miliki, terutama untuk sesuatu yang tergolong gila seperti ini," ujar Will Gluck. Aspek tata musik juga digarap secara matang dengan menyisipkan deretan lagu populer pilihan.
Sutradara optimistis promosi dari mulut ke mulut dapat menyokong keberlangsungan durasi tayang film di bioskop.
"Saya belajar dari film terakhir saya bahwa penonton akan menemukan film ini dan merasa terkejut karena hasilnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Saya menyebut fenomena promosi dari mulut ke mulut ini sebagai 'WOM-com' atau word-of-mouth comedy," pungkasnya.