Warga Pulau Tunda Hibahkan Lahan Pembangunan PLTS Serang
Warga Pulau Tunda di Kabupaten Serang menghibahkan lahan seluas 1.500 meter persegi untuk lokasi pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya komunal. Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten Ari James Faraddy mengonfirmasi proses hibah tersebut kini sedang bergulir di tingkat kabupaten pada Rabu (5/8/2026), dilansir dari Detikcom.
Proses administrasi saat ini tengah memproses pengurusan Naskah Perjanjian Hibah Daerah sebelum diserahkan ke pemerintah pusat untuk pengerjaan proyek. Pembangunan fasilitas energi terbarukan ini ditargetkan dapat berjalan paling cepat pada akhir Oktober jika kepastian lahan telah rampung sepenuhnya.
"Di Pulau Tunda itu sudah ada masyarakat yang menghibahkan lahan untuk dibangunkan PLTS dan sekarang dalam proses di Kabupaten Serang untuk mendapatkan NPHD-nya. Setelah itu ada, kita serahkan ke pusat dan kita tinggal nunggu," kata Ari James Faraddy, Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten.
Pemerintah daerah telah menggelar pertemuan sebanyak dua kali guna memastikan kelancaran proses pengalihan aset tanah tersebut.
"1.500 meter, sudah ada hibahnya. Kita sudah ketemu, kita sudah rapat dua kali," tambah Ari James Faraddy, Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten.
Kesiapan area menjadi syarat utama dari kementerian terkait agar pengerjaan sarana kelistrikan dapat segera dieksekusi.
"Rencananya paling cepat di akhir Oktober. Nah kita lagi nunggu, tapi mereka juga menunggu kesiapan kita terkait lahannya," ujar Ari James Faraddy, Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten.
Instalasi energi terbarukan di wilayah kepulauan ini nantinya bakal dioperasikan penuh oleh Badan Usaha Milik Negara di bidang kelistrikan.
"Pemerintah pusat melalui Pak Menteri, Pak Dirjen, meminta seluruh provinsi yang akan dibangunkan PLTS komunal dan nantinya akan dikelola oleh PT PLN, harus clean and clear lokasinya," ucap Ari James Faraddy, Kepala Dinas ESDM Provinsi Banten.
Langkah penyiapan lahan ini menyusul kondisi sarana PLTS lama di Pulau Tunda yang sebelumnya dilaporkan mengalami kerusakan. Dampaknya, masyarakat terpaksa mengandalkan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel yang membuat pasokan daya sering tidak stabil akibat keterbatasan stok bahan bakar solar.
Seorang warga setempat bernama Mamat (43) menuturkan bahwa ketergantungan pada diesel berimbas langsung pada jaringan komunikasi pemukiman, seperti dilaporkan pada Sabtu (9/5/2026).
"Kalau listrik mati, tower juga ikut mati. Warga jadi susah sinyal dan internet," kata Mamat, Warga Pulau Tunda.
Dalam kondisi normal, arus listrik biasanya beroperasi dari pukul 18.00 WIB hingga 06.00 WIB. Namun, jadwal penerangan kerap terganggu akibat kendala mesin pendukung.
"Kadang baru jam 11 malam sudah mati. Pernah juga habis Magrib nyala sebentar, lalu mati lagi karena trouble," ucap Mamat, Warga Pulau Tunda.
Meski distribusi pasokan energi sering mengalami gangguan, warga tetap rutin membayarkan iuran harian berkisar antara Rp 5.500 hingga Rp 15.000 per malam sesuai dengan daya alat elektronik yang digunakan.
"Warga antusias bayar iuran listrik. Yang penting iurannya dipakai untuk perawatan dan kebutuhan listrik," ujar Mamat, Warga Pulau Tunda.