Wakil Ketua DPR Soroti Karhutla Meluas di Kalimantan dan Minta Tindakan Cepat

Share

Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menyoroti kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang semakin meluas di Kalimantan dan meminta pemerintah segera mengambil langkah luar biasa untuk mengatasi masalah ini.

Menurut data BNPB per 19 Agustus 2026, terdapat 1.487 titik panas di seluruh Kalimantan, dengan Kalimantan Tengah menjadi episentrum dengan 767 titik panas. Karhutla ini telah berdampak pada berbagai sektor seperti kesehatan, pendidikan, dan ekonomi, diperparah oleh cuaca kering akibat fenomena El Nino, dilansir dari Detikcom.

Beberapa pemerintah daerah memperpanjang status tanggap darurat, termasuk Kabupaten Kotawaringin Barat di Kalimantan Tengah hingga 4 September 2026. Di wilayah ini, karhutla telah menghanguskan 859,49 hektare lahan dengan 189 kejadian dan 461 titik panas, terutama di Kecamatan Arut Selatan dan Kumai.

Alex Indra Lukman mengingatkan sejarah kebakaran besar pada 1997-1998 yang membakar lebih dari 9 juta hektare lahan dan menjadi bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20.

"Pada tahun 1997-1998 lalu, Indonesia juga dilanda fenomena El Nino yang kemudian menyebabkan krisis besar, karena memicu kebakaran di lebih dari 9 juta hektare lahan Kalimantan. Peristiwa itu kemudian jadi bencana lingkungan terbesar di Asia Tenggara pada abad ke-20. Ini tidak boleh berulang sekarang ini," ujar Alex.

Politikus PDIP ini juga menyampaikan bahwa data MapBiomas Fire menunjukkan puncak kebakaran biasanya terjadi pada September hingga November, dengan puncak di Oktober.

"Data MapBiomas Fire menunjukkan, puncak kebakaran yang terjadi periode tahun 2014, 2015 dan 2019, sekitar 61 persen Karhutla terjadi antara September hingga November dengan puncaknya di Oktober. Catatan sejarah ini merupakan warning bagi pemerintah, bahwa metode yang digunakan selama ini perlu dievaluasi total agar dampaknya tak kembali berulang," ujar Alex.

Alex menekankan pentingnya penguatan deteksi dini dan patroli di wilayah rawan, serta peningkatan akurasi sistem peringatan dini berbasis satelit.

"Program Desa Peduli Api dan pemberdayaan masyarakat melalui pelatihan alternatif pembukaan lahan tanpa bakar perlu diperluas," tutur Alex.

Dia juga menegaskan bahwa penanganan karhutla harus diarahkan pada pencegahan jangka panjang, peningkatan kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat, dan tata kelola lahan yang berkelanjutan.

Kondisi kualitas udara di Palangka Raya menjadi perhatian dengan Indeks Kualitas Udara (AQI) mencapai 487 pada 19 Agustus 2026, masuk kategori berbahaya. Asap pekat juga menurunkan jarak pandang hingga sekitar 1,4 kilometer.

Kabut asap turut memengaruhi kegiatan belajar mengajar di Banjarbaru, sehingga Dinas Pendidikan menunda jam masuk TK, SD, dan SMP hingga pukul 09.00 Wita.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author