Vozinha Tahan Serangan Argentina pada Babak 16 Besar Piala Dunia 2026
Kiper veteran Cabo Verde, Josimar Jose Evora Dias atau Vozinha, tampil gemilang dengan menggagalkan sejumlah peluang emas Argentina dalam babak 16 besar Piala Dunia 2026 di Miami, Amerika Serikat, pada Jumat, 3 Juli 2026. Penjaga gawang berusia 40 tahun tersebut melakukan penyelamatan ganda krusial terhadap tembakan jarak dekat dan tendangan bebas Lionel Messi setelah rekan setimnya, Deroy Duarte, mencetak gol penyeimbang kedudukan menjadi 1-1. Dilansir dari fmmundo.com, duel di lapangan hijau ini mempertemukan dua sosok ikonik dengan latar belakang kontras, di mana Messi mengejar rekor di Piala Dunia keenamnya sementara Vozinha menjadi simbol ketekunan pesepak bola yang bersinar di usia matang.
Sebelum bersinar di turnamen ini, pengusaha asal Argentina Santiago Halty melalui perusahaannya yang berbasis di Amerika Serikat telah menggandeng Vozinha sejak April 2026 untuk mengenakan sepatu dan kaus kaki antiselip buatannya.
"Nos metimos en el fútbol sala como un nicho que estaba desatendido y empezamos a hacer balones. Luego empezamos a hacer también zapatillas y medias antideslizantes, y cada vez más jugadores nos comenzaron a decir que tendríamos que hacer botines de fútbol" kata Santiago Halty kepada EFE sebagaimana dikutip dari holanews.com. Halty menjelaskan bahwa perusahaannya yang kini memiliki 18 karyawan sengaja mencari atlet dari negara-negara kecil yang menarik perhatian karena keterbatasan anggaran sponsor.
"Sabiendo que no teníamos el presupuesto de Nike, Adidas ni Puma, empezamos a buscar atletas de selecciones pequeñas, pero que creíamos que eran interesantes, y encontramos en Cabo Verde y en ‘Vozinha’ un candidato ideal" ujar Santiago Halty menambahkan. Sepatu yang dikirim ke Portugal tersebut kemudian dilukis tangan dengan lambang Federasi Sepak Bola Cabo Verde oleh seorang seniman lokal sebelum digunakan di Piala Dunia.
"Hizo que un artista de Cabo Verde pintara ambos modelos" ungkap Santiago Halty. Berkat penampilan apik sejak fase grup melawan Spanyol, Uruguay, dan Arab Saudi, popularitas Vozinha melonjak drastis hingga pengikut akun Instagram miliknya melesat dari puluhan ribu menjadi lebih dari 17 juta. "El objetivo es estar entre las diez marcas más grandes de fútbol del mundo de aquí al 2030. Somos una marca de raíces argentinas que celebra la essence de cómo vivimos el fútbol en Latinoamérica" jelas Santiago Halty mengenai target bisnisnya.
Perjalanan karier Vozinha penuh lika-liku sejak masa kecil di Mindelo, di mana ia sempat mempertimbangkan menjadi arsitek karena dinilai terlalu pendek, sebelum akhirnya menandatangani kontrak profesional pertamanya pada usia 26 tahun di Angola.
"Ellos fueron el cimiento y el gran apoyo en vida" kenang Vozinha dalam wawancara bersama TNT Sports Brasil yang dilansir es-us.noticias.yahoo.com mengenai kakek dan neneknya. Kiper yang mempelajari teknik menangkap bola secara otodidak lewat video YouTube ini mengakui adanya beberapa kekurangan mendasar karena tidak menimba ilmu di akademi profesional sejak dini. "Hay cosas técnicas que, una vez que alcanzás cierto nivel, ya no se pueden arreglar; tengo muchos defectos que, si hubiera iniciado en un club profesional, los hubiera corregido" jelas Vozinha saat diwawancarai oleh Daniel Braune.
Vozinha saat ini berstatus tanpa klub setelah kontraknya bersama tim kasta kedua Portugal, Chaves, berakhir, dan ia menyatakan minatnya untuk melanjutkan karier di Brasil.
"Me gustaría ir a Brasil" tutur Vozinha kepada Daniel Braune. Sebelum melangkah jauh di Piala Dunia 2026, tim nasional Cabo Verde sempat mengalami kegagalan menyakitkan pada kualifikasi Piala Dunia 2014 akibat sanksi administratif FIFA terkait penggunaan pemain ilegal.
"In ese entonces jugar en África era mucho más difícil, hemos tenido que pasar 12 horas en aeropuertos esperando conexiones o viajar a Europa para poder llegar a otro país africano" kata Vozinha mengenakan memori perjuangan masa lalu bersama skuad Tiburones Azules. Skuad Cabo Verde membuktikan diri mampu bersaing di panggung tertinggi setelah lolos sebagai juara Grup D di kualifikasi zona Afrika hingga akhirnya melaju ke fase gugur turnamen utama.
"Estamos aquí para demostrar que, aunque venimos de un país pequeño, tenemos un gran corazón y lucharemos por todo" tegas Vozinha dalam siniar Men in Blazers. Air mata Vozinha sempat tumpah seusai laga perdana kontra Spanyol karena teringat mendiang kakek dan neneknya yang tidak sempat melihat langsung momentum bersejarah tersebut. "Preparé ese partido minuciosamente, en especial intenté prevenir los centros atrasados (cut-backs) –relató el portero en relación al partido contra España que lo volvió famoso–cuando terminó, lloré por mis abuelos, que nunca llegaron a ver a Cabo Verde en un Mundial" ucap Vozinha menutup pernyataannya.