Aksi Jual Saham Megacap Picu Volatilitas Teknologi di Wall Street
Gelombang volatilitas baru kembali mengguncang bursa saham Wall Street menyusul aksi jual masif pada saham-saham teknologi berkapitalisasi besar (megacap) yang meredam sentimen positif dari kuatnya data ekonomi Amerika Serikat, dilansir dari Bloombergtechnoz pada Jumat (26/6).
Seluruh anggota kelompok saham raksasa Magnificent Seven terpantau melemah dengan Apple Inc. memimpin penurunan setelah memutuskan untuk menaikkan harga perangkat komputer Mac dan iPad mereka. Koreksi pada kelompok saham paling berpengaruh terhadap indeks S&P 500 ini membuat pergerakan indeks menjadi fluktuatif, meskipun prospek pendapatan dari Micron Technology Inc. yang melampaui perkiraan sempat mengangkat performa saham-saham produsen chip.
Penurunan kinerja sektor teknologi raksasa ini memicu kekhawatiran investor mengenai risiko konsentrasi pasar yang selama ini bertumpu pada segelintir saham megacap. Di sisi lain, versi berbobot sama (equal-weighted) dari indeks acuan S&P 500 justru mencatatkan penguatan sebagai indikasi adanya rotasi modal oleh para pelaku pasar.
Pihak UBS Chief Investment Office memberikan pandangan strategis terkait kondisi pasar finansial global yang sedang dinamis ini.
"Kami tetap berpandangan positif dan meyakini investor sebaiknya tetap berinvestasi, sambil menempatkan diversifikasi sebagai inti dalam penyusunan portofolio," ujar Ulrike Hoffmann-Burchardi, perwakilan UBS Chief Investment Office.
Lembaga tersebut juga mengingatkan bahwa situasi dalam beberapa bulan terakhir menjadi pembuktian mengenai cepatnya perubahan narasi pasar dan tingginya risiko dari pemilihan saham individual.
"Beberapa bulan terakhir menunjukkan betapa cepatnya narasi pasar dapat berubah, betapa mahalnya biaya memegang terlalu banyak uang tunai ketika pasar terus naik, serta bahwa pemilihan saham individual dapat menjadi peluang sekaligus risiko." ujar Ulrike Hoffmann-Burchardi, perwakilan UBS Chief Investment Office.
Kondisi pasar yang rentan ini turut mendapat perhatian dari analis pasar keuangan di Miller Tabak.
"Beberapa retakan mulai muncul di sektor teknologi belakangan ini," kata Matt Maley, perwakilan Miller Tabak.
Pihaknya menekankan pentingnya memantau pergerakan saham perusahaan penyedia layanan cloud skala besar (hyperscaler) karena pengaruhnya yang signifikan terhadap arah pasar secara keseluruhan.
"Karena itu, kami menilai akan sangat penting untuk mencermati bagaimana saham-saham hyperscaler diperdagangkan ke depan. Jika saham-saham tersebut terus melemah, akan sangat sulit bagi pasar secara keseluruhan untuk terus menguat." kata Matt Maley, perwakilan Miller Tabak.
Sebelum gejolak saham teknologi ini meluas, pasar sempat terdorong oleh rilis data pertumbuhan ekonomi AS kuartal pertama sebesar 2,1% secara tahunan serta peningkatan belanja konsumen pada Mei, meskipun inflasi berada di laju tercepat dalam tiga tahun.
Analis dari Annex Wealth Management memberikan proyeksi mengenai pergerakan inflasi ke depan seiring penyesuaian harga komoditas energi dunia.
"Fase terburuk inflasi dan kecemasan konsumen kemungkinan besar sudah berlalu," kata Brian Jacobsen, perwakilan Annex Wealth Management.
Penurunan harga bahan bakar dinilai menjadi faktor krusial yang dapat meredam ekspektasi inflasi publik dalam beberapa waktu ke depan.
"Selama harga bensin terus menurun, ekspektasi inflasi kemungkinan juga akan mengikuti." kata Brian Jacobsen, perwakilan Annex Wealth Management.
Di pasar komoditas, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) kembali melonjak 2,6 persen menjadi US$72,15 per barel setelah sebuah kapal terkena proyektil misterius di Selat Hormuz.