UOB Kay Hian Menilai Saham Tambang Prospektif di Bawah Kebijakan DSI
UOB Kay Hian menilai sejumlah saham pertambangan memiliki prospek menarik seiring meredanya risiko kebijakan ekspor di bawah PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) pada Rabu (24/6/2026), dilansir dari Bloomberg Technoz.
Kepastian posisi DSI sebagai fasilitator dan lembaga pengawas transaksi ekspor komoditas menjadi faktor utama berkurangnya kekhawatiran pasar. Langkah ini dinilai akan meningkatkan transparansi serta menekan risiko under-invoice perdagangan ekspor mineral dan batubara nasional.
"Setelah masa transisi berakhir pada 1 Januari 2027, DSI pada tahap awal akan berperan sebagai fasilitator dan lembaga pengawas transaksi ekspor," kata Benyamin Mikael, Analis UOB Kay Hian.
Pemerintah berencana menggunakan platform pengawasan ekspor yang bertumpu pada Sistem Informasi Mineral dan Batubara Antar Kementerian/Lembaga atau Simbara. Jika ditemukan adanya indikasi anomali, DSI akan meneruskan kasus tersebut kepada regulator terkait untuk proses investigasi lebih lanjut.
"Pemerintah juga mengakui bahwa konsep single window, di mana seluruh ekspor harus melewati satu pintu, belum realistis untuk diterapkan dalam waktu dekat," tutur Benyamin Mikael, Analis UOB Kay Hian.
Kendati demikian, pihak analis memberikan catatan mengenai istilah indikasi penyimpangan transaksi yang diajukan oleh badan pengawas tersebut karena regulasinya yang dinilai belum sepenuhnya rampung.
"DSI belum memberikan definisi resmi mengenai apa yang dimaksud dengan "anomali" dalam transaksi ekspor, dan mekanisme penyerahan kasus kepada regulator masih belum final," kata Benyamin Mikael, Analis UOB Kay Hian.
Di sisi lain, manajemen DSI memastikan mekanisme penarikan keuntungan dari operasional pengawasan komoditas ini akan dilakukan secara terukur dan sesuai dengan kontribusi pelayanan.
"Proporsional terhadap layanan yang diberikan," tutur manajemen DSI.
Sektor komoditas yang dinilai prospektif mencakup sejumlah emiten pilihan seperti AADI, AMMN, ANTM, ELSA, HRUM, INDY, INCO, dan MDKA. Namun, UOB Kay Hian bersikap netral terhadap saham berbasis emas karena potensi tekanan suku bunga tinggi pada komoditas lindung nilai tersebut.
"Meskipun harga emas diperkirakan melemah, pertumbuhan volume produksi pada AMMN, MDKA dan INDY diperkirakan cukup kuat untuk mengimbangi penurunan harga emas tersebut," dikutip dari riset UOB Kay Hian.