Uni Eropa Pertimbangkan Pembekuan Batas Harga Minyak Rusia
Uni Eropa sedang mempertimbangkan pembekuan sementara mekanisme dinamis batas harga minyak mentah Rusia seiring berlanjutnya konflik di Timur Tengah hingga bulan keempat pada Minggu (31/5/2026).
Rencana penangguhan kebijakan penyesuaian otomatis tersebut dilakukan demi menjaga stabilitas pasar, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz.
Mekanisme dinamis yang diadopsi tahun lalu menetapkan batas harga otomatis setiap enam bulan sebesar 15 persen di bawah rata-rata harga pasar minyak mentah Urals Rusia.
Saat ini ambang batas harga berada di angka US$44,10 per barel dan dijadwalkan untuk ditinjau kembali pada akhir musim panas mendatang.
Larangan penyediaan layanan asuransi dan transportasi tetap berlaku bagi perusahaan Eropa jika minyak Rusia dijual di atas ambang batas tersebut.
Lonjakan harga minyak global dipicu oleh ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran serta penutupan efektif di jalur laut Selat Hormuz.
Peninjauan batas harga pada Juli mendatang berpotensi menaikkan level ambang batas menjadi minimal US$65 per barel, lebih tinggi dari batas US$60 per barel yang ditetapkan Kelompok Tujuh (G-7).
Opsi lain yang dikaji adalah menghentikan kenaikan dinamis hingga akhir tahun atau membatasi kenaikan maksimal kembali ke level US$60 sejalan dengan ketentuan G-7.
Kebijakan ini akan diintegrasikan ke dalam paket sanksi ke-21 Uni Eropa sejak dimulainya invasi skala penuh Rusia ke Ukraina pada tahun 2022.
Uni Eropa menargetkan proposal paket sanksi baru ini selesai dan diajukan secara resmi pada awal Juni setelah melakukan pengarahan kepada utusan negara anggota pekan lalu.
Sanksi tambahan tersebut menyasar lebih banyak bank, pedagang minyak, kilang, dan operator kripto di negara ketiga yang memfasilitasi Rusia menghindari pembatasan.
Sekitar 20 kapal tanker tambahan dalam armada bayangan Rusia akan dijatuhi sanksi, dan aturan ini bakal diperluas ke kapal pengangkut gas alam cair (LNG).
Langkah pengetatan juga menyasar perusahaan yang menyediakan layanan interaksi antar-kapal tanker untuk memperkecil celah pendapatan energi Kremlin.
Kendati demikian, larangan total terhadap layanan maritim kemungkinan besar tidak akan dimasukkan karena adanya penolakan dari beberapa negara anggota akibat volatilitas di Timur Tengah.
Penolakan terhadap perubahan batas harga umumnya datang dari negara-negara maritim seperti Yunani, sementara beberapa negara lain sangat sensitif terhadap kepentingan energi serta perdagangan mereka.
Paket sanksi terbaru ini memerlukan persetujuan bulat dari seluruh negara anggota Uni Eropa sebelum resmi diadopsi, sehingga rencana yang ada masih dapat berubah.
Usulan lain mencakup pembatasan perdagangan mineral penting, logam, dan bijih untuk sektor kedirgantaraan serta pengembangan drone Rusia.
Kontrol ekspor juga dipertimbangkan terhadap sekitar dua lusin perusahaan di China, India, Turki, dan Asia Tengah yang diduga memasok barang terlarang untuk komponen senjata Rusia.
Uni Eropa juga mengkaji langkah perlindungan bagi lembaga kliring Euroclear Ltd setelah pengadilan Moskwa mengizinkan Bank Sentral Rusia menyita aset lembaga tersebut.
Langkah ini menyusul keputusan Uni Eropa yang memperpanjang pembekuan aset bank sentral Rusia senilai hingga 210 miliar Euro yang mayoritas disimpan di Euroclear.
Aset tersebut direncanakan tetap dibekukan hingga perang berakhir dan Rusia membayar ganti rugi, meskipun negara seperti Belgia menentang penyitaan langsung.
Pembahasan mengenai pemberlakuan larangan visa bagi mantan kombatan Rusia hingga saat ini juga masih terus berjalan di tingkat Uni Eropa.