UGM Kembangkan Sistem Agrovoltaic Hybrid di Sleman Guna Dorong Smart Farming

Share

Sektor pertanian terus mengadopsi teknologi baru demi memenuhi kebutuhan pangan sekaligus meningkatkan efisiensi energi. Salah satu terobosan yang kini gencar dikembangkan adalah integrasi panel surya di kawasan lahan pertanian.

Sistem ini dinamakan agrovoltaic, sebuah konsep yang memadukan produksi energi terbarukan dengan kegiatan budidaya tanaman. Seperti dilansir dari Detikcom, inovasi tersebut diterapkan oleh tim peneliti Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui pemasangan PLTS Hybrid Agrovoltaic di Desa Pandowoharjo, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Langkah ini menjadi bagian dari program smart farming yang pengelolaannya melibatkan BUMDes Amarta serta Kelompok Wanita Tani (KWT) Wastajap Bersinar. Kehadiran teknologi ini diproyeksikan mampu menyediakan energi bersih sekaligus menguatkan kemandirian masyarakat setempat.

"Program ini dilaksanakan sebagai upaya pengembangan desa berbasis energi terbarukan melalui penerapan teknologi PLTS (Pembangkit Listrik Tenaga Surya) Hybrid dan konsep agrivoltaic yang terintegrasi dengan pemberdayaan masyarakat," ujar ketua tim peneliti UGM, Ahmad Agus Setiawan, ST, M Sc, Ph D.

Teknologi agrovoltaic dirancang agar lahan pertanian memiliki fungsi ganda secara bersamaan. Lahan tersebut bertugas memproduksi listrik dari tenaga surya sekaligus menjadi tempat tumbuh bagi tanaman pertanian.

Di Desa Pandowoharjo, fasilitas ini digunakan untuk mengoperasikan greenhouse yang menampung beragam komoditas. Beberapa di antaranya meliputi melon, cabai, pepaya, jagung, kacang tanah, ubi jalar, talas, hingga tanaman terong.

Sistem kelistrikan yang dipasang berbasis PLTS Hybrid, yang menggabungkan pasokan listrik jaringan dengan penyimpanan daya baterai. Metode ini dinilai memiliki efisiensi tinggi jika disandingkan dengan sistem mandiri yang hanya bertumpu pada satu sumber.

Prof Bayu Dwi Apri Nugroho selaku anggota tim peneliti sekaligus pakar agrometeorologi FTP UGM menyebutkan bahwa pemanfaatan cadangan baterai mampu menekan biaya operasional.

"Cadangan baterai pada PLTS Hybrid membantu menekan biaya konsumsi listrik karena hanya menyerap listrik ketika daya baterai habis," jelasnya.

Penerapan Internet of Things dan Keberlanjutan

Selain mengandalkan pasokan listrik surya, kawasan pertanian ini juga dilengkapi teknologi Internet of Things (IoT). Pemanfaatan modul pemantauan bersensor membuat parameter tanah dan kondisi cuaca dapat dipantau langsung secara real time.

Masyarakat lokal dilibatkan secara aktif oleh tim peneliti dalam proyek ini. Pengelola BUMDes, kelompok tani, hingga pemuda karang taruna ikut serta dari tahap perakitan unit hingga penyusunan panduan operasional.

Menurut Bayu, perpaduan PLTS dengan metode agrovoltaic merupakan langkah nyata dalam beradaptasi menghadapi perubahan iklim dunia yang kian memengaruhi produktivitas sektor agraria.

"Kita mengikutsertakan BUMDes Amarta dalam penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) sederhana, sehingga keberlanjutan program dapat terjamin," paparnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
melinda-putri-handayani
Author