Trump Pindah Pesawat Rahasia di Turki Akibat Ancaman Iran
Ancaman pembunuhan dari pihak Iran memicu operasi pengelabuan tingkat tinggi saat Presiden Amerika Serikat Donald Trump meninggalkan Ankara, Turki, usai menghadiri KTT NATO pada Juli lalu, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Pengamanan ketat tersebut melibatkan pemindahan Trump secara sembunyi-sembunyi dari pesawat kepresidenan Air Force One menuju pesawat militer C-32A yang berukuran lebih kecil dengan memanfaatkan truk katering bandara.
Laporan yang pertama kali diungkap oleh The Washington Post dan disusul oleh The New York Times ini mengonfirmasi bahwa skenario darurat tersebut dijalankan sehari setelah peluncuran serangan udara AS ke wilayah Iran.
Gedung Putih semula mengumumkan bahwa Trump terbang langsung menuju Inggris menggunakan Air Force One, sementara rombongan wartawan dan sejumlah staf yang berada di dalam pesawat kepresidenan tidak menyadari bahwa pesawat tersebut hanya difungsikan sebagai pengecoh.
Pesawat militer C-32A yang membawa Trump mendarat di Inggris pada pukul 22.20 waktu setempat, disusul kedatangan Air Force One beberapa menit kemudian sebelum Trump terlihat turun dari tangga pesawat utama pada pukul 22.56.
Merespons laporan operasi rahasia yang beredar, Trump mengonfirmasi bahwa seluruh tindakan pengelabuan tersebut dilakukan atas instruksi teknis dari tim pengamanan presiden.
"Menurut saya, pesawat yang saya tumpangi justru memiliki risiko lebih besar. Menurut saya, risikonya lebih besar karena pesawat itulah yang kemungkinan besar akan mereka incar," kata Trump.
Meskipun manuver penggunaan truk katering sempat menjadi sorotan dan bahan perbincangan di media sosial, Trump menegaskan bahwa dirinya menyerahkan penuh prosedur keselamatan kepada pihak berwenang.
"Ya, itu sepenuhnya keputusan Secret Service. Saya hanya mengikuti apa yang ingin mereka lakukan, jadi saya mengikuti arahan Secret Service dan militer," ucap Trump.
Ia menanggapi santai tingkat bahaya dari situasi tersebut serta menganggap potensi gangguan keamanan sebagai hal yang sudah biasa dihadapi.
"Sepertinya memang ada ancaman. Saya tidak terlalu banyak bertanya soal hal itu. Saya sering menerima banyak ancaman," ujar Trump.