Donald Trump Desak Iran Menyerah Usai Negosiasi Damai Menemui Kebuntuan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump mendesak Iran untuk segera menyerah demi mengakhiri konflik militer yang tengah berlangsung, di tengah upaya negosiasi damai antara kedua negara yang menemui kebuntuan pada Senin (17/8). Eskalasi ketegangan meningkat setelah kesepakatan sementara yang ditandatangani pada Juni lalu resmi berakhir. Batas waktu 60 hari untuk merundingkan kesepakatan final mengenai program nuklir dan operasi militer telah habis tanpa hasil. Kegagalan proses diplomasi tersebut memicu peningkatan ketegangan militer di kawasan Selat Hormuz, yang berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar minyak secara global.
"Mereka seharusnya mengibarkan bendera putih tanda menyerah," cetus Trump dalam wawancara via telepon dengan Fox News.
Di tengah situasi ini, Iran dan Oman menggelar pembicaraan terpisah untuk memulihkan jalur pelayaran komersial di Selat Hormuz. Jalur vital tersebut sebelumnya dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas dunia sebelum konflik pecah pada akhir Februari. "Jika Oman menghalangi, kita akan membombardir mereka habis-habisan," ujar Trump.
Selain ancaman militer, Pemerintah Amerika Serikat menegaskan kembali penolakannya terhadap kepemilikan senjata pemusnah massal oleh pihak Teheran. "Tujuan utamanya adalah — dan akan selalu demikian — bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir dalam bentuk atau cara apa pun," tegas Trump melalui unggahan di platform Truth Social.
Merespons desakan tersebut, Pemerintah Iran menolak keras tuntutan untuk menyerah dan menyatakan bahwa posisi diplomasi serta militer mereka tetap kuat. "Mereka yang menuntut penyerahan diri tanpa syarat, tak lama setelah perang dimulai, justru memohon untuk melakukan negosiasi," kata Abbas Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran, sebagaimana dilansir Tasnim. Araghchi menegaskan bahwa negaranya mampu bertahan menghadapi tekanan militer dan diplomatik dari Amerika Serikat beserta para sekutunya.
"Kami bertempur dengan kekuatan, dan kami melakukan negosiasi dengan kekuatan," ucap Araghchi.
Pemerintah Iran juga mengklaim mendapat pengakuan dari berbagai pihak internasional atas daya tahan posisi mereka selama masa konflik. "Anda telah memenangkan baik perang maupun diplomasi," ujar Araghchi menirukan pernyataan dari sejumlah menteri luar negeri negara lain kepada dirinya.