Toyota Investasi Rp13 Triliun Pasok Baterai Kendaraan Listrik CATL
PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia mengalokasikan investasi sebesar Rp1,3 triliun untuk menjalin kerja sama pengembangan produksi baterai kendaraan listrik bersama raksasa produsen baterai asal Tiongkok, Contemporary Amperex Technology Co. Ltd.
Langkah strategis tersebut difokuskan pada penguatan rantai pasok kendaraan elektrifikasi lokal di pabrik Karawang, Jawa Barat. Pada tahap awal, kolaborasi produksi diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan segmen kendaraan hybrid.
Presiden Direktur TMMIN Nandi Julyanto menjelaskan bahwa pemilihan baterai hybrid didasari pertimbangan volume pasar yang telah mencapai titik skala ekonomi untuk proses lokalisasi komponen.
"Saat ini baterai itu adalah untuk hybrid. Karena volume, skala volume yang ekonomis itu masih di hybrid. Maksudnya skala volume yang mencapai titik skala ekonomi untuk dilokalisasi itu hybrid," kata Nandi Julyanto, Presiden Direktur TMMIN.
Pengembangan fasilitas produksi ini diproyeksikan memberi landasan teknis yang kuat apabila perusahaan akan mengekspansi lini manufaktur ke baterai berbasis berbasis baterai murni pada masa mendatang.
"kalau toh itu nanti one day [kerja sama] kita harus dikembangkan menjadi baterai BEV dan lain-lain. Itu paling nggak satu step lebih cepat lah. Dibandingkan dari nol," kata Nandi Julyanto, Presiden Direktur TMMIN.
Proses manufaktur di Karawang ditargetkan mampu memproduksi paket baterai assy, sel baterai, hingga modul secara menyeluruh mulai tahun ini demi menekan biaya produksi dan mendorong hilirisasi industri.
Terkait regulasi pemerintah mengenai peningkatan target Tingkat Komponen Dalam Negeri kendaraan listrik menjadi minimal 60 persen pada periode 2027–2029, pabrikan memastikan bakal menyesuaikan operasionalnya.
"Tentu kita [ikuti] kalau [memang] keputusan pemerintah seperti itu kita akan ikutin ya. Sehingga kita tentu berbicara dengan headquarter, dengan TNC TAM, apa yang kita bisa lokalisasi untuk mencapai itu," kata Nandi Julyanto, Presiden Direktur TMMIN.
Pabrik baterai Karawang yang dikelola PT Contemporary Amperex Technology Indonesia Battery memiliki kapasitas produksi awal sebesar 6,9 GWh per tahun dan siap ditingkatkan menjadi 15 GWh pada fase berikutnya.
Direktur Utama IBC Aditya Farhan Arif mengungkapkan percepatan operasional telah dilakukan dan seluruh hasil produksi fasilitas tersebut telah memiliki pembeli siaga.
"Tadinya [beroperasi] pada kuartal III-2026, pada September, tetapi kami coba akselerasi pada Juni 2026," kata Aditya Farhan Arif, Direktur Utama IBC.
Pihak manajemen memastikan skema kerja sama investasi skala besar ini harus mengantongi kepastian penyerap produk sebelum tahapan komersialisasi dijalankan.
"Saat ini memang untuk yang pabrik yang di Karawang itu sudah memiliki offtaker semua, alhamdulillah," kata Aditya Farhan Arif, Direktur Utama IBC.
Komitmen penyerap hasil produksi menjadi prasyarat utama industri sebelum melakukan ekspansi fasilitas manufaktur.
"Misalnya nanti akan dilakukan ekspansi, itu pun tentunya kami akan mengutamakan offtake agreement itu terlebih dahulu, karena memang di dalam prosedur kami juga memang mengharuskan adanya offtaker sebelum kita melakukan investasi," kata Aditya Farhan Arif, Direktur Utama IBC.
Proyek terintegrasi ini telah merampungkan pengujian produksi dan siap diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto pada Agustus 2026.
"Sudah siap diresmikan. Kita tinggal menunggu waktu yang tepat dari Bapak Presiden. Pabriknya sudah jadi. Kalau teman-teman mau lihat, silahkan," kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Fasilitas tersebut menjadi pabrik baterai skala besar kedua di Indonesia setelah beroperasinya PT Hyundai LG Indonesia Green Power.
"Jadi sudah ada dua pabrik baterai yang kita bangun ya. Satu adalah LG di saat saya masih jadi Menteri Investasi. Satu adalah CATL di saat saya sudah jadi Menteri ESDM. Ini yang disebut dengan hilirisasi yang ekosistem baterainya kita bangun semua di negara kita," kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Kehadiran pabrik ini melengkapi struktur ekosistem kendaraan listrik nasional dari sektor pertambangan hingga daur ulang.
"Hilirisasi khusus untuk hilirisasi nikel, ekosistem baterai mobil yang tahun kemarin di groundbreaking oleh Bapak Presiden Prabowo di Karawang yang punya CATL direncanakan pada semester 1 2026 itu sudah kita resmikan," kata Bahlil Lahadalia, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral.
Uji coba komersial pabrik terus berjalan untuk mempersiapkan pasokan komponen bagi unit kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi.
"Jadi pada prinsipnya buyer sudah siap sehingga nanti ketika siap untuk komersial itu memang kita sudah langsung berproduksi secara komersial. Jadi sebetulnya saat ini trial-trial production juga sudah berjalan di pabrik PT CATIB ini," kata Aditya Farhan Arif, Direktur Utama IBC.
Kapasitas tahap pertama sebesar 6,9 GWh dirancang untuk mendukung kebutuhan energi ramah lingkungan bagi sektor transportasi publik dan industri.
"Kapasitas CATIB ini kan di fase pertama ini 6,9 GWh dan akan segera kita ekspansi ke minimal setidaknya 15 GWh. Kalau kita konversi 15 GWh itu menjadi kendaraan listrik itu kurang lebih ekuivalen dengan sekitar 250 ribu kendaraan listrik," kata Aditya Farhan Arif, Direktur Utama IBC.
Lini produk pabrik Karawang ini mencakup pengolahan sel baterai, modul, pack, hingga Battery Energy Storage System.
"Kami memproduksi baterai kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi sebagai bagian dari upaya mendorong transportasi serta industri hijau," kata Bayu Hermawan, Director of Corporate Public Affairs PT CATIB.
Pemerintah Daerah Jawa Barat turut menyiapkan dukungan infrastruktur serta pengembangan kualitas sumber daya manusia melalui program pelatihan vokasi bagi lulusan SMA dan SMK di kawasan Karawang.
"Alat berat adalah kebutuhan mendasar dalam pembangunan infrastruktur. Jika diproduksi di dalam negeri, biayanya akan jauh lebih kompetitif dibandingkan produk impor," kata Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Efisiensi rantai pasok diharapkan dapat memangkas perantara distribusi produk industri manufaktur.
"Kami berharap regulasi dapat mendukung agar industri dapat mendistribusikan langsung kepada konsumen tanpa perantara yang panjang sehingga harga menjadi lebih terjangkau," kata Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Penyiapan tenaga kerja terampil dilakukan agar masyarakat lokal dapat terserap langsung di kawasan industri regional.
"Kami meminta seluruh jajaran Pemprov Jabar segera mengidentifikasi siswa SMA atau SMK kelas 12 untuk diberikan pelatihan vokasi. Tujuannya agar setelah lulus mereka langsung menjadi tenaga kerja terampil yang siap bekerja," kata Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.
Program peningkatkan kualitas SDM difokuskan pada penguatan kemandirian ekonomi daerah secara berkelanjutan.
"Peningkatan IPM akan berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Tetapi warga juga harus dididik memiliki semangat entrepreneurship sehingga tidak hanya menjadi karyawan, tetapi juga mampu berkembang menjadi pengusaha," kata Dedi Mulyadi, Gubernur Jawa Barat.