Tantri Kotak Alami Kerugian Miliaran Rupiah Akibat Penipuan Teman
Vokalis band Kotak, Tantri Syalindri, membeberkan dugaan penipuan investasi yang dilakukan oleh temannya di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, dengan taksiran kerugian bersama sekelompok ibu-ibu sekolah mencapai Rp10 miliar, dilansir dari Detik Hot.
Langkah mengungkap identitas pelaku di media sosial diambil untuk mencegah bertambahnya korban dari lingkaran pertemanan mereka sendiri.
"Misalkan aku tidak ceritakan, kemungkinan besar akan makin banyak banget korban-korban selanjutnya. Terus di sini juga ternyata korban-korban yang memang orang-orang yang dirugikan sama kasus ini tuh banyak banget, dan salah satunya memang teman-teman kita sendiri," kata Tantri.
Dia menambahkan bahwa salah satu korban sangat membutuhkan dana tersebut untuk biaya perawatan medis penyakit berat.
"Jadi kalau misalkan aku nggak speak up, nggak melakukan apa ya… posting-an, nggak… membeberin posting-an itu dan kasih lihat muka si orang tersebut itu, kayaknya… khawatirnya malah jadi…, ya kita lagi nyarilah, intinya gitu," kata Tantri.
Situasi ini menimbulkan kebimbangan mendalam bagi dirinya karena pelaku merupakan sosok yang sudah sangat dikenal dekat.
"Aku, aku ya aku tuh bingunglah intinya. Sekarang sudah delapan kali dua puluh empat jam kan. Kemarin aku masih mencari-cari, gimana aku ngomongnya, karena satu, orang yang merugikan ini juga salah satu temanku.
Ini benar nggak sih? Ini benar nggak sih?" kata Tantri.
Meski diliputi keraguan awal, dia akhirnya memantapkan tekad bersama para korban lainnya untuk bersuara secara terbuka.
"Masih pertanyaan itu sampai detik ini masih kayak gitu. Ini benar nggak sih? Eh… orang ini benar nggak sih nipu?
Orang ini ke mana? Segala macam. Tapi ya sekarang kita bulat, dengan teman-teman yang korban yang lain, kita harus berani speak up," kata Tantri.
Hubungan pertemanan tersebut awalnya terbangun sejak anak-anak mereka menempuh pendidikan di taman kanak-kanak, sebelum akhirnya pelaku menawarkan produk investasi pada tahun 2025.
"2025 kita tahu dia kerja. Dia punya posisi yang oke banget di pekerjaannya, sebagai sales. Sebagai sales dan dia menjual, dia menawarkan sebuah produk, 'Eh lo mau beli nggak produk gue?', gitu. 'Gue butuh bantuan'.
Awalnya, 'Gue butuh bantuan, eh invest deh gitu, biar gue tuh stabil di posisi pekerjaannya'. Karena memang kita basic-nya teman dan ngelihat yang gimana-gimana dan kita tahu banget gitu," kata Tantri.
Pelaku dinilai pandai memanfaatkan pendekatan emosional dan kondisi personalnya sebagai ibu tunggal untuk menarik kepercayaan para korban.
"Lama ya prosesnya ya? Bertahap sampai-sampai kita tuh akhirnya, 'Oh ya benar, benar kok ini', gitu. Investasi ini tuh benar, gitu," kata Tantri.
Pola komunikasi yang rapi membuat para korban tidak menaruh curiga, terutama ketika pelaku berdalih ingin membantu sesama teman.
"Dia jago banget psikologis, eh jago banget menata psikologis semua teman-temannya gitu, dan jago banget mengecap, meyakinkan semua teman-temannya kalau dia tuh adalah orang-orang yang butuh dibantu dan dia pengin ngebantu gitu (dalam) tanda kutip karena temenku yang satunya lagi yang terkena itu adalah orang yang memang butuh bantuan biaya pengobatan untuk kanker. Jadi ya… itu sih yang bikin kita akhirnya trust (percaya)," kata Tantri.
Kecurigaan baru muncul setelah pelaku mendadak tidak bisa dihubungi sama sekali setelah transaksi pengiriman uang terakhir dilakukan.
"Aku masih kayak, 'Nggak, mungkin dia liburan'. Mungkin dia… masih… masih husnuzan (berbaik sangka) aja, masih yang mikir, 'Nggak, nggak, enggak'. Tapi kok satu kali 24 jam nggak ada kabar sama sekali, 2 kali 24 jam nggak ada kabar sama sekali.
Instagram semua dihapus, eh social media dan lain-lain. Terus didatangi ke rumah dia, ternyata itu adalah rumah orang tuanya dan orang tuanya juga sampai angkat tangan, 'Terserah deh', gitu," kata Tantri.
Rasa kecewa yang dialami Tantri bukan semata-mata karena kehilangan materi, melainkan pengkhianatan terhadap nilai persahabatan yang panjang.
"Aku bukan ngomongin masalah… aku kecewa kondisi ini, eh nominalnya hilang, tapi lebih benar-benar yang bikin aku kecewa banget kok tega sih? Gitu doang. Menyalahartikan sebuah kepercayaan dalam sebuah pertemanan tuh buat aku tuh kayak yang… wow, kok tega banget gitu. Itu yang bikin aku sampai detik ini kayak masih nggak jejak kaki, nggak yang…, 'Lo tuh lagi dikhianatin kan?'" kata Tantri.
Pihak korban saat ini tengah berkoordinasi dengan penasihat hukum untuk menentukan langkah-langkah legal berikutnya.
"Aku nggak bisa gerak sendiri karena ini kan menyangkut banyak orang juga. So far memang akan ada langkah ke sana. Kita juga lagi diskusi sama kuasa hukum dan lain-lain.
Jadi ya mohon doanya banget buat… buat semua yang nonton. Kan banyak yang bilang, 'Ih kenapa harus investasi?'. Kalau misalkan boleh ditanya kenapa, gue harus ketemu sama dia," kata Tantri.
Dana yang dialokasikan dalam investasi tersebut sebenarnya merupakan hasil kerja keras yang disisihkan bersama suaminya sebagai jaminan masa tua.
"Ya itulah namanya kita kan kalau ada… kalau ada… aku kerja gitu. Gimana caranya berhemat sehemat mungkin untuk melakukan. Aku kerja sama suamiku dua-duanya di industri musik gitu, di mana kita nggak ada uang pensiun kan. Jadi pas lagi kerja saat ini, lagi produktif, ya sebisa mungkin disimpan uangnya untuk berbagai macam investasi," kata Tantri.
Dia memanfaatkan momentum masa produktif di dunia hiburan untuk memutar aset demi masa depan keluarga.
"Ya… salah satunya ya ini yang memang ada uang, ada uang lebih yang memang sekiranya bisa kita putar," kata Tantri.
Meski menyatakan kesediaan untuk memaafkan secara pribadi, dia menegaskan bahwa proses pertanggungjawaban secara hukum tetap harus berjalan.
"Kalau secara manusia ya, aku mencoba untuk memaafkan, pasti iya. Tapi kan tetap harus ada yang tanggung, dipertanggungjawabkan. Segala sesuatu, segala sesuatu yang dia lakukan pasti ada konsekuensinya gitu.
Kalau secara manusia mah… ya… mungkin gampang ya berucap maaf gitu. Tapi ya… bentuk rasa tanggung jawabnya yang… saya kita butuhkan gitu kan," kata Tantri.