Produsen Otomotif Hadapi Tekanan Pasar Kendaraan Listrik Tiongkok
Kondisi pasar kendaraan listrik (EV) di Tiongkok saat ini mengalami tekanan berat akibat kelebihan kapasitas produksi dan perang harga yang agresif. Fenomena perlambatan ini mulai berdampak signifikan terhadap proyeksi pendapatan serta volume penjualan para produsen otomotif global maupun domestik.
CEO General Motors (GM), Mary Barra, menyoroti persaingan sengit yang terjadi di pasar kendaraan listrik terbesar dunia tersebut. Menurutnya, kejenuhan pasar memicu penurunan harga yang tidak berkelanjutan bagi sebagian besar pelaku industri.
"Tidak mungkin lebih dari 100 produsen otomotif (original equipment manufacturer/OEM) di satu negara dapat terus bersaing, terutama ketika persaingan kini bertumpu pada harga," ujarnya Mary Barra, CEO GM.
Ia menambahkan bahwa kelebihan kapasitas di pasar domestik Tiongkok mendorong para produsen untuk melakukan ekspansi ekspor. Hambatan lain juga muncul di pasar Amerika Serikat setelah penghapusan insentif pajak EV tingkat federal oleh pemerintah.
"Kami memperkirakan pertumbuhan kendaraan listrik akan melambat. Industri dan berbagai lembaga riset eksternal juga memiliki pandangan yang sama. Namun yang penting, kami tetap melihat pasar kendaraan listrik masih akan terus tumbuh," kata Mary Barra, CEO GM.
Tekanan industri ini diakui pula oleh produsen asal Tiongkok seperti BYD yang mencatat penurunan penjualan sebesar 5,5 persen pada September menjadi 396.270 kendaraan. Melalui laporan keuangan Agustus, BYD menyatakan profitabilitas jangka pendek mereka tergerus oleh promosi berlebihan dan diskon agresif.
Kondisi serupa dialami oleh Xpeng yang memproyeksikan pendapatan kuartal kedua 2026 antara 19,60 miliar hingga 20,80 miliar yuan, di bawah estimasi rata-rata analis sebesar 21,71 miliar yuan. Data penjualan mobil penumpang Tiongkok sendiri menunjukkan tren penurunan selama tujuh bulan berturut-turut hingga April lalu.
"Perlu dilihat seperti apa model bisnis yang berkelanjutan karena kondisi yang terjadi saat ini tidak dapat berlangsung selamanya," katanya Mary Barra, CEO GM.
Meskipun mencatat penurunan pengiriman sebesar 33,3 persen pada kuartal pertama 2026 menjadi 62.682 unit, Xpeng menargetkan pengiriman 100.000 hingga 106.000 unit pada kuartal kedua. Langkah ini didukung strategi peluncuran model-model baru dengan teknologi bantuan mengemudi tingkat lanjut.
"I pribadi berpandangan bahwa hanya akan ada tujuh perusahaan otomotif besar yang masih bertahan dalam 10 tahun mendatang," ujarnya He Xiaopeng, Pendiri sekaligus CEO Xpeng.
Di tengah dinamika pasar domestik, Xpeng mulai memperluas jangkauan ke pasar internasional, termasuk Indonesia. Dilansir dari tandaseru.id, penjualan wholesales model Xpeng G6 Pro di Indonesia telah mencapai sekitar 300 unit melalui pengelolaan di bawah CEO Xpeng Indonesia, Iki Wibowo.