Tanjung Verde Tersingkir dari Piala Dunia Meski Ekonomi Tumbuh Pesat

Share

Tanjung Verde resmi tersingkir dari gelanggang Piala Dunia usai ditekuk Argentina 3-2 pada laga 32 di Miami Stadium, Florida, Amerika Serikat, Sabtu (4/7/2026) pagi WIB. Kendati gagal melaju ke babak 16 besar, negara yang bernama resmi Cabo Verde ini sempat membuat La Albiceleste susah payah bekerja ekstra keras di lapangan. Meski kalah di lapangan hijau, negara asal Afrika Barat ini memiliki prospek ekonomi signifikan yang ditopang oleh aktivitas pariwisata, bahkan mencatatkan pertumbuhan ekonomi yang sempat lebih dari 7%.

Dilansir dari Detik Finance, data Bank Dunia menunjukkan pertumbuhan ekonomi Tanjung Verde sempat naik hingga 7,2% pada tahun 2024, didorong oleh kedatangan wisatawan yang mencapai sekitar 1,18 juta atau tumbuh 16,5% year-on-year (yoy).

Selain pariwisata, ekspor jasa menjadi salah satu sektor penyumbang besar dengan pertumbuhan 16,2% yoy, disusul konsumsi swasta yang meningkat hingga 7,3% yoy. Sektor jasa yang kuat dan pemulihan pertanian, dibarengi dengan penekanan inflasi, juga berhasil mengurangi angka kemiskinan di negara tersebut menjadi 14,4% pada tahun 2024.

Inflasi rata-rata Tanjung Verde melambat signifikan menjadi 1% pada tahun 2024 dari sebelumnya 3,7% pada tahun 2023 berkat penurunan harga energi dan pangan. Namun, investasi publik yang tinggi, pengeluaran pemilihan lokal, serta perluasan program sosial memicu defisit fiskal melebar hingga 1,1% dari PDB pada tahun 2024.

Pendapatan negara terpantau stabil pada level 24,7% dari PDB berkat penerimaan pajak yang kuat, sehingga utang pemerintah pusat berhasil dipangkas sebesar 6,0 poin persentase menjadi 110,2% dari PDB. Berdasarkan klasifikasi Bank Dunia periode 1 Juli 2025 hingga Juni 2026, Tanjung Verde kini resmi masuk dalam kelompok negara berpendapatan menengah ke atas. Di sisi lain, PBB merevisi jumlah penduduk negara ini turun 12,8% dibandingkan tahun 2023, yang secara tidak langsung mengerek pendapatan per kapita naik hingga 16,8%.

Bank Dunia tetap memberikan catatan mengenai risiko fiskal yang bersumber dari sokongan untuk BUMN, pengeluaran yang kaku, serta tingginya biaya pembayaran utang.

Untuk tahun 2025, ekonomi Tanjung Verde diproyeksikan tumbuh 5,9% dan diperkirakan stabil di kisaran 5% dalam jangka menengah melalui reformasi struktural dan efisiensi sektor publik. Defisit fiskal diperkirakan melebar menjadi 1,5% dari PDB pada tahun 2025 akibat peningkatan investasi pemerintah dan reformasi belanja pegawai. Kondisi fiskal ini diproyeksikan membaik dengan menyusutnya defisit menjadi 0,6% dari PDB pada 2027 melalui optimalisasi pajak, restrukturisasi BUMN, dan pengendalian belanja.

Meski demikian, prospek ekonomi Tanjung Verde masih dibayangi risiko ketegangan geopolitik, tekanan inflasi, potensi pelemahan pariwisata, lambatnya reformasi BUMN, serta kerentanan perubahan iklim.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
daffa-raihan-maulana
Author