Sutradara Muda YouTube Kuasai Box Office Lewat Film Horor Backrooms dan Obsession
Bioskop Indonesia bersiap menyambut kedatangan dua film horor global yang sedang mendulang kesuksesan besar, yaitu Backrooms dan Obsession. Seperti dilansir dari Detikcom, tayangan ini digarap oleh sineas muda jebolan platform YouTube, Kane Parsons dan Curry Barker.
Kehadiran karya mereka berhasil mengungguli performa sinema dengan anggaran raksasa dari waralaba besar seperti The Mandalorian and Grogu. Fenomena ini membuktikan peran vital platform video digital sebagai inkubator baru bagi generasi sutradara masa kini tanpa harus menempuh jalur akademis konvensional.
Sinema Backrooms merupakan adaptasi dari seri pendek found-footage yang sempat viral di internet. Karya besutan Kane Parsons tersebut sukses mengantongi pendapatan pembuka secara global mencapai USD 118 juta atau sekitar Rp 2,11 triliun, padahal modal produksinya hanya berkisar USD 10 juta atau setara Rp 178 miliar.
Pencapaian luar biasa ini menorehkan sejarah baru bagi studio produksi A24 sebagai angka pembukaan domestik terbesar mereka. Selain itu, momentum ini menempatkan Kane Parsons sebagai pengarah peran termuda yang bertengger di peringkat teratas box office dunia.
Namun, popularitas masif yang diraih Kane Parsons pada usia 20 tahun dan Curry Barker pada umur 26 tahun memicu spekulasi negatif di kalangan pengguna media sosial. Sejumlah netizen mencurigai adanya praktik ghost directing atau sutradara bayangan di balik pembuatan proyek tersebut.
Rumor yang beredar menuduh bahwa posisi pengarah sesungguhnya diambil alih oleh produser senior berpengalaman demi kepentingan strategi pemasaran belaka. Dalam proyek Backrooms sendiri, deretan produser memang diisi nama besar industri horor seperti James Wan, Shawn Levy, hingga Osgood Perkins yang bertindak selaku mentor.
Bantahan Keras dari Aktor Utama
Dugaan miring mengenai keaslian peran penyutradaraan tersebut langsung mendapat penolakan tegas dari salah satu pemain utama film, Mark Duplass. Melalui pernyataan video di akun Instagram pribadinya, aktor senior ini memastikan bahwa sineas muda itu memegang kendali penuh atas seluruh proses syuting yang berlangsung di Vancouver.
"Banyak sekali opini di luar sana tentang apakah Kane Parsons, di usianya yang baru 19 tahun (saat syuting), benar-benar menyutradarai Backrooms. Saya ada di sana. Saya bersiap untuk membantu jika dibutuhkan, tetapi kenyataannya dia tidak membutuhkan bantuan kami sama sekali. Dia sangat siap dan fokus," ujar Duplass.
Aktor senior tersebut juga memberikan tanggapan langsung untuk merespons tuduhan tidak berdasar dari para netizen.
"With all due respect, I don't remember seeing you on set. When I was there, Kane was 100% in control. Even more in control than a lot of directors I've worked with who are three times his age," tutur Duplass.
Bagi Kane Parsons, platform video digital merupakan titik rujukan kebudayaan yang sangat berpengaruh bagi generasinya. Ia menguasai teknik efek visual secara otodidak sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama melalui tayangan tutorial, sebelum akhirnya menciptakan video pendek The Backrooms yang viral saat dirinya baru menginjak usia 16 tahun.