Survei Ungkap 1 dari 3 Wanita Mengaku Salah Pilih Pasangan

Share

Banyak orang diam-diam merasa bahwa mereka mungkin tidak memilih pasangan hidup yang benar-benar sesuai. Keputusan besar ini menjadi sorotan setelah sebuah penelitian terbaru mengungkapkan fenomena tersebut.

Survei dari MyIQ yang melibatkan lebih dari 4.000 orang dewasa menemukan bahwa satu dari tiga responden merasa mereka 'settling' dalam hubungan. Artinya, mereka berkompromi terlalu jauh dalam memilih pasangan, seperti dilansir dari Wolipop.

Temuan ini ternyata lebih banyak dirasakan oleh kaum perempuan. Sebanyak 35 persen wanita mengaku merasa mereka telah menurunkan standar atau mengabaikan kebutuhan krusial demi mempertahankan hubungan, dibandingkan 31 persen pria.

Psikolog Danielle Roeske dari Newport Healthcare menjelaskan bahwa istilah settling bukan sekadar soal memilih pasangan yang tidak sempurna.

"Ketika kita berbicara tentang 'settling', biasanya yang dimaksud adalah situasi ketika seseorang mengesampingkan nilai hidup, kebutuhan jangka panjang, atau rasa ketertarikan emosional maupun fisik demi tetap mempertahankan hubungan," jelasnya, seperti dikutip dari New York Post.

Menurut Danielle, pengorbanan seperti ini dapat memunculkan perasaan bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hubungan, meskipun dari luar tampak stabil. Ada alasan tersendiri mengapa perempuan lebih banyak mengalami perasaan ini.

Danielle menilai hal tersebut berkaitan erat dengan pola sosial dan beban emosional dalam hubungan.

"Wanita sering dibesarkan untuk lebih peka secara emosional dan lebih reflektif, sehingga mereka cenderung mengevaluasi kualitas hubungan lebih mendalam seiring waktu," terangnya.

Dalam banyak hubungan, wanita juga lebih sering mengambil peran dalam komunikasi, menyelesaikan konflik, hingga menjaga koneksi emosional.

"Memikul tanggung jawab itu bisa membuat seseorang lebih sadar akan ketidakseimbangan, yang akhirnya memunculkan perasaan telah 'settling'," tambahnya.

Di sisi lain, kelompok usia 25-34 tahun menjadi pihak yang paling banyak mempertanyakan kecocokan jangka panjang dengan pasangan. Sebanyak 41 persen responden di rentang usia tersebut mengaku pernah mempertanyakan diri sendiri apakah mereka benar-benar memilih orang yang tepat.

Menurut Danielle, keraguan semacam ini sebenarnya cukup wajar terjadi pada fase usia tersebut.

"Di usia ini, pertumbuhan personal biasanya berlangsung cepat, sehingga orang mulai menilai apakah hubungan mereka masih selaras dengan versi diri mereka yang terus berkembang," tuturnya.

Tren ini bisa dipandang positif di satu sisi. Kini semakin banyak orang yang sadar untuk mengevaluasi kembali hubungan tidak sehat, tidak memuaskan, atau menghambat perkembangan diri.

"Keraguan tidak selalu berarti ada yang salah. Ini bisa menjadi tanda bahwa seseorang sedang melakukan refleksi diri dan mengevaluasi kecocokan hubungan seiring waktu," ujar Danielle.

Namun, fenomena ini juga memiliki dampak negatif. Menurutnya, generasi muda saat ini hidup dalam budaya perbandingan yang terus-menerus akibat pengaruh media sosial, aplikasi kencan, dan ekspektasi sosial terhadap hubungan ideal.

Danielle mengingatkan bahwa merasa ragu terhadap pasangan bukan berarti hubungan harus langsung diakhiri. Dia mengatakan perasaan 'settling' masih bisa dibicarakan dan diatasi, selama ada komunikasi yang terbuka dan jujur.

Danielle juga mengingatkan bahwa ada perbedaan besar antara kecemasan hubungan yang normal dengan ketidakcocokan yang nyata.

"Ketika seseorang mulai lelah dengan dating apps, komunikasi yang tidak konsisten, atau kekecewaan berulang, prioritas mereka bisa bergeser-bukan lagi mencari kecocokan sejati, melainkan sekadar mencari kelegaan dari proses dating itu sendiri," jelasnya.

Ia menyarankan setiap individu untuk lebih memperhatikan pola yang berulang, bukan hanya sekadar melihat keraguan sesaat.

"Melihat pola yang terus muncul dapat membantu membedakan apakah ini sekadar kecemasan biasa dalam hubungan atau memang tanda ketidakcocokan yang sesungguhnya," pungkasnya.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
nadia-fitria-ramadhani
Author