Studi VGLL3 Ungkap Penyebab Misterius Preeklamsia Pada Kehamilan
Akar penyebab preeklamsia pada masa kehamilan mulai terkuak melalui penelitian medis terbaru. Kondisi berbahaya ini menjadi pemicu utama kelahiran prematur serta kematian janin dan ibu.
Preeklamsia ditandai oleh lonjakan tekanan darah tinggi yang gejalanya sering kali tidak terdeteksi oleh ibu hamil, seperti dilansir dari HaiBunda.
Temuan yang dipublikasikan dalam jurnal Circulation menunjukkan bahwa disregulasi gen VGLL3 dapat menjadi pemicu utama timbulnya preeklamsia. Gen VGLL3 ini terdeteksi diekspresikan secara tinggi di dalam jaringan kulit maupun plasenta.
Penyelidikan mengenai keterkaitan ini diinisiasi oleh Johann Gudjonsson, seorang dokter kulit dan profesor imunologi di University of Michigan Taubman Medical Research Institute. Gudjonsson memulai riset setelah berdiskusi dengan dokter spesialis kardio-obstetri, Ashley Bartell.
"Pikiran pertama yang terlintas di benak saya adalah, saya harus melihat ini, pasti ada sesuatu di sana. Itu seperti momen pencerahan," kata Gudjonsson.
Gudjonsson meneliti bidang ini bersama ilmuwan sekaligus ahli imunologi Olesya Plazyo. Pengendalian gen VGLL3 dinilai berpotensi membuka metode baru untuk diagnosis, pengobatan, hingga pencegahan preeklamsia.
Riset tersebut menegaskan bahwa preeklamsia beserta seluruh gejalanya bermula dari organ plasenta.
Plazyo menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan erat dengan sel trofoblas yang hanya muncul sepanjang masa kehamilan di plasenta.
"Interaksi tersebut dianggap sangat penting dalam perkembangan preeklamsia," ujar Plazyo.
Sel trofoblas berfungsi menempelkan embrio ke dinding rahim serta memicu pertumbuhan pembuluh darah penopang plasenta. Sel ini memproduksi faktor sinyal ke aliran darah ibu, termasuk protein sFLT-1 yang memicu disregulasi vaskular.
"Ini adalah salah satu biomarker kunci preeklampsia," kata Gudjonsson.
Food and Drug Administration (FDA) sebenarnya telah menyetujui tes darah pendeteksi sFLT-1 pada 2023 untuk memprediksi risiko preeklamsia. Namun, pengujian tersebut belum mampu menjelaskan seluruh kelainan yang terjadi di dalam sel trofoblas.
Kehadiran gen VGLL3 diharapkan membantu para dokter mengambil keputusan medis yang tepat saat menghadapi biomarker dan gejala yang saling bertentangan.
"Sangat menggembirakan bahwa sekarang kita mendapatkan beberapa cara untuk membuka kotak hitam itu. Itulah sebenarnya arti VGLL3 bagi saya," ungkap Gudjonsson.
"Hal itu memberi kita beberapa hal yang bisa kita jadikan acuan saat benar-benar membuat diagnosis," tambahnya.
Tim peneliti menguji mekanisme biologis VGLL3 menggunakan kultur sel in vitro, sampel jaringan plasenta manusia, dan model eksperimental tikus.
"Kami ingin melihat dari berbagai sudut pandang agar bisa mengatakan, oke, ya, kami memiliki sesuatu di sini, dan ini bukan sekadar kebetulan atau sistem model tunggal yang tidak mewakili apa yang terjadi di kehidupan nyata," kata Plazyo.
Meskipun model eksperimental masih memiliki keterbatasan, penelitian ini menjadi titik awal penyelidikan penyebab mendasar preeklamsia. Uji klinis pada manusia masih memerlukan waktu panjang, namun uji coba laboratorium menunjukkan hasil positif.
"Hampir tidak ada indikasi bahwa ini tidak akan berhasil," kata Gudjonsson.
"Kami telah menargetkan mekanisme ini dan menunjukkan bahwa ini dapat membalikkan banyak gejala preeklamsia. Jadi, tanpa ragu, saya pikir kita dapat mencegahnya," lanjutnya.