Seni Merajut Kata: Menstimulasi Bahasa Anak sejak Lahir hingga 5 Tahun
Cara stimulasi perkembangan bahasa anak penting dipahami orang tua sejak dini. Hal ini menjadi dasar penting bagi tumbuh kembang anak, terutama untuk mengekspresikan kebutuhannya. Beberapa contoh aktivitas sederhana yang bisa dilakukan termasuk seperti rajin mengajak anak berbicara, membaca buku, serta bermain permainan imajinatif. Meski terlihat mudah, kegiatan-kegiatan ini perlu dilakukan sesuai dengan tahap usianya.
"Tonggak perkembangan komunikasi saling berkaitan dan membantu orang tua mengetahui apakah perkembangan anak berjalan sesuai jalurnya," ujar Adena Dacy, MS, CCC-SL, ahli patologi wicara.
Setiap ocehan bayi merupakan bagian dari komunikasi tahap awal dalam kehidupannya. Meski tampak sederhana, vokalisasi ini adalah fondasi penting bagi perkembangan bahasa mereka. Musik menjadi salah satu alat yang baik untuk mendukung aspek ini sejak dini. Memperdengarkan lagu favorit atau mengajak mereka menyanyi bersama dapat membantu meningkatkan kemampuan bayi mengenali pola, ritme, dan kosakata baru. Penelitian dari jurnal Infant Behavior and Development bahkan menunjukkan adanya hubungan antara lingkungan yang kaya musik dengan peningkatan keterampilan komunikasi pada bayi.
Langkah berikutnya adalah dengan rajin mengajak bayi berbicara sambil menggunakan gerakan dan suara lain. Bayi sangat peka terhadap perubahan nada, volume, dan ritme suara, bahkan jauh sebelum mereka mulai bisa membentuk kata-kata. Hal tersebut membantu bayi menghubungkan bunyi dengan makna, sehingga mereka mulai memahami bahwa menangis akan membuat orang tua menghampirinya.
"Hal ini mendorong mereka untuk mulai berkomunikasi secara sengaja, melalui hal-hal seperti menunjuk, bahasa tubuh, dan mengeluarkan lebih banyak suara," ujar Rachel Cortese, terapis wicara.
Jadi, meskipun bayi belum bisa melakukan percakapan menggunakan kata-kata, mereka memperhatikan semua yang dilakukan orang tua dan belajar mengembangkan keterampilan komunikasi mereka.
Ledakan Kata di Usia 18 Bulan hingga 2 Tahun
Cara anak berkomunikasi di rentang usia ini mulai berubah, di mana perkembangan bahasanya justru semakin bertambah pesat. Di usia 18 bulan hingga 2 tahun, sebagian anak mungkin sudah mencapai beberapa tonggak perkembangan komunikasi awal seperti mampu mengucapkan 10 hingga 50 kata berbeda, mengikuti instruksi sederhana, dan menggunakan frasa dua kata yang sederhana.
Meskipun anak belum bisa duduk diam lama, membaca setiap hari adalah salah satu cara paling efektif untuk mendukung perkembangan bahasa mereka. Penggunaan buku bergambar sangat membantu memperkaya kosakata mereka. Penelitian dari Journal of Speech, Language, and Hearing Research secara konsisten mengaitkan aktivitas membaca dengan hasil perkembangan bahasa yang lebih baik. Selama membaca buku bersama, anak dapat diajak untuk menunjuk gambar, mengulang kata, atau membalik halaman bersama-sama.
Selain itu, bercerita tentang kegiatan sehari-hari menjadi salah satu cara sederhana dan efektif untuk memberi contoh penggunaan bahasa pada anak. Orang tua bisa menceritakan apa yang sedang dilakukan di dekat anak, atau menceritakan apa yang sedang dilakukan oleh sang anak sendiri. Ujaran bahasa deskriptif yang terus-menerus ini membantu anak menghubungkan kata dengan tindakan dan benda, hingga akhirnya mampu membentuk kalimat.
Eksplorasi Bahasa Menjelang Usia Sekolah
Ketika anak mulai memasuki usia sekolah, cara menstimulasi keterampilan bahasa dan komunikasinya pun bisa disesuaikan dengan metode yang lebih interaktif di rumah. Permainan imajinatif seperti pretend play atau bermain pura-pura tak hanya seru, tapi juga sangat baik untuk mengembangkan imajinasi dan mendukung perkembangan bahasa anak. Saat anak berpura-pura menjadi koki, astronot, dokter, atau bahkan pahlawan super, mereka melatih kemampuan bercerita dan mengekspresikan emosi sekaligus belajar cara menyusun kalimat.
Orang tua juga disarankan untuk mengajukan pertanyaan terbuka yang memberi ruang bagi anak untuk berpendapat dan memberi penjelasan, alih-alih membatasi mereka dengan pertanyaan yang hanya membutuhkan jawaban ya atau tidak.
Proses ini tentu membutuhkan waktu dan tidak selalu langsung benar. Jika penggunaan kata dan kalimat mereka belum tepat, sebaiknya hindari langsung mengoreksi atau mengkritik secara agresif. Sebagian anak mungkin bisa menafsirkan respons tersebut secara negatif dan menjadi enggan mencoba lagi karena merasa malu. Sebagai gantinya, kalimat mereka bisa diulang kembali dengan susunan kata yang sudah diperbaiki agar anak memahami penggunaan bahasa yang benar tanpa merasa dihakimi.