Spanyol Kutuk Sikap Uni Eropa Soal Krisis Imigrasi Ceuta

Share

Spanyol mengutuk sikap sejumlah negara Uni Eropa atas krisis imigrasi ilegal yang melanda wilayah kantong mereka, Ceuta, yang memicu masuknya sekitar 69.500 imigran kembali ke Maroko dan menewaskan sedikitnya 67 orang. Gelombang migran ini terjadi pekan lalu hingga membuat Madrid mengerahkan pasukan keamanan tambahan dan memasang barikade pengaman sepanjang 500 meter untuk mencegah penyeberangan susulan. Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyatakan negara-negara Eropa yang mengkritik Spanyol bersikap egois dan memecah belah, serta menegaskan bahwa keamanan perbatasan Eropa adalah tanggung jawab bersama semua anggota Uni Eropa.

"Uni Eropa tidak mampu menoleransi reaksi egois, memecah belah, dan melanggar hukum seperti ini," ujar Sánchez, yang juga menyesalkan adanya serangan politik yang didorong oleh prasangka dan berita palsu.

Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni menangguhkan sementara perjanjian Schengen dengan Spanyol selama sebulan karena menganggap situasi di Ceuta sebagai ancaman keamanan nasional. "Situasi ini sangat mengejutkan," kata Meloni, memicu dukungan dari Finlandia, Denmark, dan desakan dari PM Ceko Andrej Babiš untuk penangguhan keanggotaan Schengen Spanyol.

Menanggapi keputusan Italia, Spanyol memanggil duta besar Italia di Madrid dan meminta solidaritas Eropa, bukan demagogi politik. Menteri Dalam Negeri Spanyol Fernando Grande-Marlaska mengatakan situasi di Ceuta hampir normal kembali, dengan mayoritas imigran telah meninggalkan wilayah tersebut dan bisnis mulai buka kembali.

"Kita telah mulai membangun penghalang maritim untuk mencegah masuknya migran ilegal lebih lanjut," ujar Grande-Marlaska. Uni Eropa berencana menggelar konferensi video pekan depan untuk membahas dukungan terhadap Spanyol dan cara mengatasi krisis ini secara kolektif. Perdana Menteri Inggris Andy Burnham menyatakan Inggris memberikan bantuan sebisa mungkin kepada Spanyol.

Selain itu, terjadi ketegangan diplomatik terkait peran Israel dan Amerika Serikat dalam krisis ini, dengan tuduhan Spanyol bahwa Israel dan AS berupaya melemahkan pemerintah Spanyol terkait sikap Madrid terhadap konflik di Gaza.

Duta Besar Israel untuk PBB, Danny Danon, menyinggung Spanyol yang mengkritik Israel sambil mengaitkan krisis imigrasi dengan keadaan darurat di Ceuta, dan Menteri Transportasi Spanyol, Oscar Puente, menanggapi sindiran tersebut secara implisit. Mantan anggota parlemen Madrid, Carolina Alonso, menuduh ada upaya dari Israel untuk melemahkan pemerintah Spanyol melalui dukungan Maroko dan sayap kanan Eropa, serta mengaitkan hal ini dengan kunjungan baru-baru ini PM Sánchez ke Aljazair. Menurut kepolisian Spanyol, 69.500 imigran telah kembali ke Maroko dalam 30 jam terakhir setelah gelombang penyeberangan massal pada 30 Juli, yang turut memicu peningkatan korban tewas menjadi 67 jiwa.

Situasi tersebut memicu pengetatan pengawasan perbatasan oleh negara-negara Eropa seperti Prancis dan Portugal, yang memperkuat pemeriksaan demi mengantisipasi lonjakan migrasi susulan.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
kartika-dewi-anggraini
Author