Slank Tanggapi Kritik Netizen Terkait Label Band Plat Merah
Grup musik legendaris asal Gang Potlot, Slank, menjadi pusat perhatian netizen karena dinilai kembali kritis menyuarakan berbagai isu sosial lewat karya musik terbaru mereka. Perubahan ini memicu opini di media sosial bahwa Slank telah kembali ke setelan pabrik.
Sorotan tersebut muncul setelah sebelumnya kelompok musik yang digawangi Kaka dan rekan-rekannya ini sempat mendapat kritik keras dari masyarakat. Slank bahkan sempat dicap sebagai band plat merah akibat kedekatan mereka dengan lingkaran pemerintahan.
Dilansir dari Detikcom, Bimbim selaku pentolan grup musik tersebut memberikan tanggapan langsung terkait pandangan publik. Menurut sang drumer, jiwa kritis Slank sebenarnya tidak pernah berubah sama sekali.
Bimbim menilai perbedaan sudut pandang masyarakat dalam melihat sikap Slank murni dipengaruhi oleh dinamika situasi politik yang sedang terjadi.
"Sebenarnya kita sih gini-gini aja, dari dulu sampai sekarang setelannya ya tetap Slank. Mungkin karena sekarang kita lagi 'di luar', jadi kelihatan vokal lagi," ungkap Bimbim di Markas Slank, Potlot, Jakarta Selatan.
Label sebagai band plat merah sebelumnya melekat kuat karena salah satu personel mereka, Abdee Negara, sempat menjabat sebagai komisaris di salah satu perusahaan BUMN.
Namun, setelah Abdee memutuskan mengundurkan diri dari jabatan tersebut, Slank kembali aktif menyuarakan keluh kesah masyarakat. Langkah ini membuat para penggemar mereka, Slankers, merasa band idola mereka telah kembali pulang.
Bimbim menegaskan komitmen Slank untuk tetap menjadi pihak yang mengingatkan melalui lirik-lirik lagu jika menemukan kebijakan atau kondisi yang dinilai tidak beres di dalam negeri.
Bagi para personel, sikap kritis bukan merupakan sebuah perubahan arah bermusik, melainkan sudah menjadi identitas utama Slank sejak pertama kali terbentuk pada era 1980-an.
Kaka selaku vokalis menambahkan bahwa seluruh inspirasi lagu Slank selalu bersumber dari realitas yang terjadi di tengah masyarakat. Karya yang terdengar lebih tajam menjadi indikasi adanya kegelisahan sosial yang perlu disampaikan.
"Slank itu kan cermin. Kalau masyarakat lagi ngerasa pahit, ya cerminnya bakal nampilin itu. Kita mah asyik-asyik aja dibilang balik ke setelan pabrik, yang penting tetap berkarya buat Slankers," tutur Kaka.