Dinas Kesehatan Pamekasan Gelar Skrining Hipertensi Cegah Gagal Ginjal

Share

Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan bersama sejumlah organisasi kesehatan menyelenggarakan kegiatan skrining kesehatan gratis pada Minggu, 17 Mei 2026 untuk mendeteksi dini penyakit hipertensi yang berisiko memicu kerusakan ginjal permanen pada masyarakat.

Langkah pencegahan tersebut diambil karena tekanan darah tinggi dapat merusak pembuluh darah ginjal secara perlahan. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan tahun 2025, penyakit hipertensi telah masuk ke dalam jajaran 10 besar penyakit penyebab kematian.

Dilansir dari Detikcom, hipertensi mampu memicu tiga jenis penyakit mematikan yang meliputi gagal jantung dengan case fatality rate (CFR) sebesar 9,95 persen, stroke dengan CFR 17,70 persen, serta gagal ginjal kronis atau chronic kidney disease (CKD) yang memiliki CFR sebesar 14,74 persen.

Kerusakan organ penyaring ini terjadi karena tekanan darah yang terlalu tinggi membuat pembuluh darah di ginjal menyempit dan menebal, sehingga fungsi penyaringan racun dan cairan berlebih dalam tubuh menurun hingga memicu penumpukan zat sisa yang berbahaya.

Narasi mengenai mekanisme kerusakan organ ini dipaparkan langsung oleh otoritas kesehatan setempat untuk meningkatkan kewaspadaan publik mengenai bahaya tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol terhadap penurunan fungsi filtrasi.

"Awalnya tekanan darah tinggi merusak pembuluh darah ginjal. Kemudian aliran darah ke ginjal berkurang sehingga proses penyaringan terganggu. Jika berlangsung lama, jaringan ginjal mengalami kerusakan permanen dan racun menumpuk di dalam tubuh. Kondisi inilah yang akhirnya memicu gagal ginjal," ujar dr. Saifudin, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pamekasan.

Kondisi medis terkait komplikasi ginjal akibat tekanan darah tinggi juga dialami oleh seorang warga Bekasi bernama Sema Chintya yang terdiagnosis gagal ginjal stadium 5 di usia muda akibat hipertensi tidak terkontrol.

Sema mengaku baru mengetahui kondisi ginjalnya setelah muncul banyak lebam di tubuh pada 2024 lalu ketika pemeriksaan medis menunjukkan angka tekanan darahnya sangat tinggi mencapai 193/129.

"Rasanya itu kepalaku sakit banget. Aku memang ketahuan hipertensi di usia 25 pas lagi hamil, tapi memang aku tuh nggak pernah minum obat," cerita Sema, Pasien Gagal Ginjal.

Sema mengira gejala awal berupa kantung mata dan wajah bengkak yang muncul tujuh bulan sebelum diagnosis tersebut hanya kelelahan biasa, sebelum dokter penyakit dalam menjelaskan kondisi itu sebagai edema atau penumpukan cairan.

"Ternyata kata dokter penyakit dalam, muka aku khas orang kena ginjal, yaitu edema atau penumpukan cairan di wajah," ujarnya Sema, Pasien Gagal Ginjal.

Pemeriksaan kesehatan menyeluruh dua tahun sebelum diagnosis menunjukkan fungsi ginjal Sema sudah berada di angka 47 persen, namun kondisi tersebut luput dari perhatiannya.

"Kebiasaan yang menurut aku dampaknya nyata banget ke tubuh itu menghiraukan sakit kepala, overthinking, dan stres," katanya Sema, Pasien Gagal Ginjal.

Deteksi kerusakan organ ini memang sering terlambat karena gejalanya kerap bersifat senyap pada fase awal dan tidak menunjukkan tanda-tanda yang jelas bagi pengidapnya.

Dilansir dari Detik Health melalui penuturan ahli nefrologi, indikasi awal dapat diamati dari perubahan fisik urine berupa munculnya busa yang disebabkan oleh kebocoran protein atau proteinuria.

"Kalau udah berbusa, berwarna, itu udah tinggi berarti tuh (kadar kebocorannya). Biasanya berwarna kemerahan itu karena ada darah. Darah bisa dari ginjalnya atau dari salurannya. Kalau dari ginjalnya tadi karena peradangannya," kata dr Pringgodigdo, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia.

Pemeriksaan urine secara rutin sangat ditekankan terutama bagi kelompok usia muda guna mendeteksi potensi peradangan ginjal sejak dini.

"Yang di muda-muda sudah gagal ginjal kebanyakan itu karena penyakit ini peradangan ginjal, karena nggak pernah periksa urine. Bisa diketahuinya hanya dengan pemeriksaan, karena nggak ada gejala," ujar dr Pringgodigdo, Ketua Umum Pengurus Besar Perhimpunan Nefrologi Indonesia.

Kondisi penurunan fungsi ginjal secara alami didokumentasikan mulai terjadi setelah manusia memasuki usia 40 tahun yang sering kali berjalan tanpa disertai gejala klinis.

Data dari National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK) menyebutkan bahwa pembuluh darah yang menyempit akibat hipertensi akan menciptakan lingkaran berbahaya yang terus memperburuk kondisi ginjal.

"Ginjal bekerja tanpa suara. Ginjal menyaring sekitar 180 liter darah setiap hari, mengontrol tekanan darah, menyeimbangkan mineral, menghilangkan racun, dan membantu memproduksi sel darah merah," kata Dr. Harsha Mandadi Varadaraju, Ahli Nefrologi Rumah Sakit Amrita.

Sebuah studi dalam jurnal ilmiah The Lancet menunjukkan penyakit ginjal kronis menjadi salah satu penyebab kematian dini yang paling cepat meningkat secara global, dengan diabetes sebagai penyebab utama yang menyumbang hampir 40 persen kasus.

Intervensi medis khusus umumnya baru dilakukan ketika pasien datang dengan keluhan berat seperti sesak napas atau penumpukan cairan yang parah.

"Bahaya penyakit ginjal adalah perkembangannya yang diam-diam. Sebagian besar pasien baru mengetahui penyakit ini ketika gejala seperti pembengkakan, sesak napas, kelelahan, atau tekanan darah yang tidak terkontrol muncul – seringkali pada stadium lanjut. Pada saat gejala muncul, intervensi medis khusus sudah diperlukan," jelas Dr. Varadaraju, Ahli Nefrologi Rumah Sakit Amrita.

Deteksi dini sebenarnya tidak rumit dan dapat dilakukan melalui prosedur tes medis sederhana sebelum pasien membutuhkan tindakan dialisis atau cuci darah.

"Ginjal mungkin mengalami kegagalan tanpa Anda sadari kecuali Anda menjalani pemeriksaan," menurut Times of India.

Pencegahan juga harus dilakukan dengan menghindari kebiasaan yang membebani kerja ginjal, seperti konsumsi protein hewani berlebih yang menurut penelitian Journal of the American Society of Nephrology tahun 2020 dapat meningkatkan risiko penyakit ginjal kronis.

Ahli nefrologi Tim Pflederer menyarankan pembatasan konsumsi protein dan menganjurkan beralih ke sumber nabati dengan kebutuhan harian sekitar 0,8 sampai 1 gram per kilogram berat badan.

Faktor lain yang harus diwaspadai adalah konsumsi suplemen dosis tinggi seperti kunyit, vitamin C, dan kalsium yang memicu batu ginjal, penggunaan obat penghilang rasa sakit (NSAID) jangka panjang, serta konsumsi teh detoks berzat diuretik yang memicu dehidrasi.

Konsumsi air putih secara berlebihan dalam waktu singkat juga berbahaya karena batas kemampuan proses cairan ginjal berkisar antara 0,8 hingga 1 liter per jam, di mana pelanggaran batas ini dapat mengencerkan kadar natrium darah dan memicu pembengkakan otak.

Follow publika.id on Google News Follow
Editors Team
bram-adhitya-santoso
Author